Mana yang Lebih Pintar, Mafia Beras atau Jokowi-JK?

Minggu, 01 Maret 2015 – 18:30 WIB
Ilustrasi

jpnn.com - JAKARTA - Kebijakan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla soal beras, sudah bisa dibaca dengan baik oleh mafia. Direktur Centre for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi bahkan memberi penilaian, para mafia itu pintar membaca Jokowi.

Menurut Uchok, mafia beras tahu program ketahanan pangan hanya sebuah janji manis di bibir Jokowi saja. "Target mafia beras hanya satu, agar Pemerintah Jokowi dipaksa untuk melakukan impor beras sebanyak-banyaknya ke Indonesia," kata Uchok, Minggu (1/3).

BACA JUGA: Transaksi Batu Mulia Secara Online Melonjak

Dia mengatakan, langkah pertama mafia untuk memuluskan rencana itu adalah mendorong naiknya harga beras. Supaya, kata dia, stok beras di gudang Badan Urusan Logistik habis untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga.

"Yang diamati oleh mafia itu adalah bila melihat data terdahalu, realisasi pengadaan gabah atau beras oleh Bulog rata-rata hanya sebesar 46 persen dari target. Oleh karena HPP (Harga Pembelian Pemerintah) lebih rendah dari harga pasar," katanya.

BACA JUGA: Konter Tiket Ditutup, Maskapai Kewalahan Cari Lokasi Baru

Saat ini saja, Uchok melanjutkan, HPP dari masyarakat hanya Rp 3.300 per kilogram. Sedangkan harga pasar bisa mencapai  Rp 12.500. Artinya, masyarakat lebih baik menjual beras melalui pasar daripada menjual ke Bulog. Padahal, Bulog membeli beras melalui mitra Bulog. 

"Mitra yang aktif menjual ke Bulog hanya sebanyak 50,87 persen saja," katanya.

BACA JUGA: Harga Premium Seharusnya tidak Perlu Naik

Jadi, Uchok menyimpulkan, metode HPP tidak efektif menyerap hasil produksi padi dalam negeri. "Seharusnya, Jokowi tidak hanya blusukan ke mana-mana, tapi harus punya pikiran bahwa metode ini harus dihapus," bebernya.

Sebab lanjut dia, HPP ini lebih berfungsi sebagai batas terendah dari harga pasar, dan juga sebagai indikator perlu impor beras. Menurutnya, HPP bukan untuk membantu petani agar bisa kaya raya. "Malahan petani bisa menjadi miskin," tegasnya.

Uchok menambahkan, langkah kedua mafia beras adalah mendorong pemerintah untuk melakukan impor beras. Karena, stok gudang Bulog tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bila melihat data pemerintah, pada 2014 Indonesia kekurangan sekitar enam juta ton beras. 

Selain itu, kata dia, bisa dilihat dari sisi pemerintah pernah punya target proyeksi produksi padi pada 2013 sebanyak 72.06 Ton. Pada 2014 sebanyak 76.56 juta ton.

"Tapi, ternyata produksi pada pada tahun 2013 sebesar Rp.69.63 juta ton, dan pada tahun 2014 hanya sebanyak 70.98 juta ton," pungkasnya. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Alasan Harga Bensin Seharusnya Tidak Perlu Naik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler