Mangkhut Bikin Filipina dan Tiongkok Porak Poranda

Selasa, 18 September 2018 – 10:12 WIB
Di Filipina, badai Mangkhut memicu tanah longsor yang merenggut setidaknya 24 nyawa. Foto: Sky News

jpnn.com, MANILA - Badai Mangkhut alias Ompong meninggalkan jejak kerusakan di Filipina dan Tiongkok. Termasuk Hongkong dan Makau.

Kemarin, Senin (17/9) masyarakat di wilayah-wilayah terdampak mulai bersih-bersih. Namun, aktivitas sehari-hari belum pulih. Transportasi juga masih tersendat.

BACA JUGA: Hukuman Baru yang Dicepatkan

"Tidak ada mobil. Tidak ada bus. Pohon-pohon yang tumbang juga masih dibiarkan terbengkalai di beberapa lokasi," kata David Milligan, pengacara yang berkantor di kawasan Central, Hongkong.

Untuk kali pertama, kawasan judi Makau tidak beroperasi pada akhir pekan lalu. Sampai Minggu (16/9), menurut South China Morning Post, listrik ke sekitar 20.000 rumah juga masih padam. Tapi, kasino-kasino mulai buka lagi kemarin.

BACA JUGA: Raja Badai Lumpuhkan Hong Kong dan Macau

Di Provinsi Guangdong, Tiongkok, banjir masih merendam sejumlah kawasan. Termasuk Shenzhen.

Dibandingkan dengan tiga wilayah lain, kerusakan akibat badai di Filipina memang paling parah. Tidak hanya menimbulkan banjir, Mangkhut alias Ompong juga memicu tanah longsor. Kemarin tim SAR gabungan masih menyisir lokasi longsor di Desa Ucab, Cordillera Central, Pulau Luzon.

BACA JUGA: Masih Ada yang Nyinyir Bendera Tiongkok di Closing AG 2018

Di lokasi itulah jumlah korban jiwa paling banyak tercatat. Tepatnya, di lokasi tambang bijih nikel yang sebagian besar beroperasi secara ilegal. Kemarin media Filipina melaporkan bahwa 24 korban tewas ditemukan di wilayah itu.

Sekitar 300 personel tim SAR gabungan menyisir Ucab kemarin. Dengan alat seadanya, mereka menyingkirkan bebatuan dan lumpur. Alat berat tidak bisa masuk ke lokasi tambang karena jalan terputus. Sejauh ini, 13 jenazah telah diangkat.

Reuters melaporkan, tiga korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Sedangkan 55 lainnya, termasuk enam anak-anak, masih dinyatakan hilang. Mereka tertimbun longsoran.

Saat badai datang, para korban itu memilih berlindung di gedung tua yang dahulu adalah tempat istirahat para pekerja tambang. Bangunan itu berada di dekat kapel dan rumah pendeta. Semuanya kini tertimbun batu dan tanah.

"Saya 99 persen yakin mereka meninggal," ujar Wali Kota Ucab Victorio Palangdan.

Sebenarnya, menurut Palangdan, warga sudah diperingatkan soal ancaman badai. Tapi, para pekerja tambang dan keluarganya itu memilih bertahan.

Banyaknya korban jiwa di area tambang itu membuat Presiden Rodrigo Duterte berang. Kemarin dia menyerukan agar semua tambang ditutup saja.

"Jika saya bisa, saya akan menutup semua tambang di Filipina," ujarnya seperti dilansir Reuters. Menurut dia, kerusakan lingkungan akibat tambang jauh lebih besar daripada keuntungan ekonominya. (sha/c10/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Masuk Daftar Duterte, Wali Kota Dihabisi di Kantor Sendiri


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler