Manipulasi Tiongkok Bukan Hal Baru

Jumat, 03 Agustus 2012 – 07:25 WIB
LONDON-Noda buruk dan memalukan mencoreng olahraga bulu tangkis di Olimpiade London 2012. Empat pasangan ganda putri didiskualifikasi karena tidak sportif dan berusaha tidak sungguh-sungguh untuk memenangi pertandingan pada laga terakhir grup 31 Juli lalu.

Insiden bermula karena saat pasangan nomor dua asal Tiongkok Tian Qing/Zhao Yunlei kalah pada laga terakhir grup D melawan Christinna Pedersen/Kamilla R.Juhl  dari Denmark dengan skor 22-20 dan 21-12.

Kekalahan tersebut membuat pasangan pertama dunia Wang Xiaoli/Yu Yang sengaja mengalah atas pasangan Korea Selatan Jung Kyung-eun/Kim Ha-na (21-14 dan 21-11). 

Wang dan Yu memang ingin menjadi runner-up grup A. Sebab mereka bisa menghindari kemungkinan pertemuan dengan Tian/Zhao di semifinal untuk mewujudkan all Tiongkok final.

Pertandingan tersebut memang berlangsung sangat membosankan. Kedua pasangan terlihat dengan jelas sengaja terus melakukan kesalahan demi kesalahan. Sangat tidak masuk akal menonton ganda nomor satu dunia melakukan servis melebar atau mengenai net berulang kali. Statistik mencatat, bola mati dan membuat angka bertambah terjadi tak lebih dari empat pukulan.

Sontak pentonon di Wemley Arena bereaksi negatif atas akis tidak sportif itu. Mereka terus menerus menge-boo ganda dari Korsel dan Tiongkok. Konyolnya, pasangan Indonesia Meiliana Jauhari / Greysia Polii yang bertanding di jam terakhir Grup C juga ikut-ikutan. Dengan dalih tidak ingin bertemu Wang dan Yu (runner-up grup A), mereka sengaja mengalah atas pasangan Korsel Ha Jung-eun / Kim Min-jung.

Federasi Badminton Dunia (BWF) langsung bertindak tegas dengan mendiskualifikasi delapan pemain karena "tidak bertanding sungguh-sungguh" dan "mencederai semangat sportifitas olahraga,".

"Ini memalukan dan saya tidak suka. Ini bukan semangat yang bagus. Saya meminta maaf kepada publik atas indisen tersebut," kata Paisan Rangsikitpho, technical delegate bulu tangkis Olimpiade. 

Jung Kyung-eun menuduh bahwa insiden ini disebabkan oleh aksi para pemain Tiongkok. "Mereka yang memulainya. Jelas, pasangan Tiongkok tidak mau bertemu dengan sesamanya di semifinal," tandas Jung kepada Associated Press.

Memang, sistem grup tersebut baru pertama di gunakan pada Olimpiade. Pada Beijing 2008, pertandingan langsung menggunakan format sistem gugur. Dengan sistem sekarang, maka pemain unggulan bisa memilih lawan di perempat final dan mengatur strategi jelang semifinal. Ini ditambah dengan jam pertandingan yang berbeda. Mengalah untuk menghindari rekan senegara atau lawan kuat sebelum final amat gampang dilakukan. 

Menurut data dari situs bulutangkis Inggris Bandzine, saling mengalah kepada sesama pasangan Tiongkok itu bukan hal yang baru. Sepanjang tahun 2011, pasangan Tiongkok bertemu 99 kali dalam tiga turnamen tertinggi BWF yakni Grand Prix, Grand Prix Gold, dan Super Series. Hasilnya, 20 pertandingan berlangsung mencurigakan. Sebelas laga berlangsung dengan kemenangan gampang. Sedangkan sembilan sisanya tidak selesai karena salah satu pemain cedera. Artinya, pertandingan sesama Tiongkok yang tidak tuntas sebanyak 20,20 persen.

Sedangkan kalau Tiongkok bertemu negara lain pertandinagn tidak tuntas menurun menjadi 0,21 persen saja. Hanya dua dari 943 laga terhenti karena insiden cedera. Pemain ganda campuran Inggris Chris Adcock mengatakan apa yang dilakukan Tiongkok memang buruk. Namun menjadi wajar karena terus dibiarkan.

"Biar Statistik yang berbicara. Dengan kedalaman skuad Tiongkok, mereka sangat bisa memanipulasi pertandingan demi keuntungan pribadi," ucap Adcock seperti dilansir Daily Mail. "Namun ini Olimpiade. Semua orang menyaksikan. BWF harus menghentikan semua ini dengan mengubah regulasi," imbuhnya. 

Sementara itu pelatih Tiongkok Li Yongbo meminta maaf kepada publik negaranya karena insiden ini. "Pemain kami gagal mendemonstrasikan tradisi baik dan fighting spirit kebanggan negara ini," sesalnya kepada Reuters. (nur)
BACA ARTIKEL LAINNYA... September Kontrak Andik Habis

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler