Mantan Anak Buah Sebut Donald Trump Memecah Belah Amerika

Kamis, 04 Juni 2020 – 15:49 WIB
Menhan AS James Mattis berbicara kepada media di halaman Gedung Putih, Minggu (3/9). Foto: Reuters

jpnn.com, WASHINGTON - Mantan menteri pertahanan (menhan) Amerika Serikat (AS) Jim Mattis ikut mengkritik Presiden Donald Trump terkait gejolak kerusuhan yang melanda seluruh wilayah Negeri Paman Sam tersebut. Dia menyebut mantan atasannya itu berupaya memecah belah rakyat.

"Donald Trump merupakan presiden pertama selama saya hidup yang tidak berusaha untuk mempersatukan rakyat Amerika, bahkan berpura-pura berusaha pun tidak. Dia justru berupaya memecah belah kita," ujar jenderal Jenderal Korps Marinir AS yang dihormati itu.

BACA JUGA: Pengakuan Donald Trump soal Masuk ke Bungker saat Massa Pedemo Dekati Gedung Putih

Dia mundur dari jabatannya sebagai kepala Pentagon pada Desember 2018 sebagai bentuk protes atas kebijakan Trump terkait Suriah.

"Kita sedang menyaksikan konsekuensi dari upaya yang dilakukan dengan sengaja selama tiga tahun. Kita tengah menyaksikan konsekuensi dari tiga tahun tanpa kepemimpinan yang matang," lanjut Mattis dalam artikel yang diterbitkan majalah Atlantic.

BACA JUGA: Menhan AS Tolak Keinginan Trump Kerahkan Militer Hadapi Perusuh, Ini Alasannya

"Kita bisa bersatu tanpa dirinya, dengan mengandalkan kekuatan yang melekat pada masyarakat sipil kita. Ini tidak akan mudah, seperti yang terlihat dalam beberapa hari terakhir, tetapi kita berutang kepada sesama masyarakat kita, kepada generasi-generasi pendahulu yang berjuang untuk membela janji kita, dan kepada anak-anak kita," tuturnya.

Mattis melontarkan kritik keras itu usai Trump mengancam akan mengerahkan pasukan militer aktif untuk meredam aksi unjuk rasa menentang kebrutalan polisi dan diskriminasi rasial yang pecah di lebih dari 300 kota dan wilayah di AS menyusul pembunuhan George Floyd, pria berkulit hitam tak bersenjata, di Minneapolis oleh polisi berkulit putih.

BACA JUGA: Posting-an Donald Trump Bikin Karyawan Facebook Ngamuk, Semua Mogok Kerja

"Kita harus menggunakan pasukan militer hanya saat diminta melakukannya, dalam situasi yang sangat jarang terjadi, oleh gubernur negara bagian. Melibatkan militer dalam respons kita, seperti yang kita saksikan di Washington DC, menimbulkan konflik, konflik yang salah, antara militer dan masyarakat sipil," ujar Mattis. (xinhua/ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler