Manuver NasDem-Cak Imin, Seberapa Besar Dampaknya Bagi Koalisi Pengusung Prabowo, Ganjar dan Anies?

Jumat, 01 September 2023 – 14:30 WIB
Tangkapan layar Pakar komunikasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad dalam diskusi yang disiarkan langsung di kanal YouTube Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia, Jumat (22/7). (ANTARA/Melalusa Susthira K.)

jpnn.com - JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Nyarwi Ahmad mengatakan manuver Partai Nasdem yang membuka peluang Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai cawapres untuk Anies Baswedan sangat potensial menimbulkan gempa politik yang cukup besar. 

Menurut dia, potensi itu tidak hanya di dalam blok Koalisi Perubahan dan Persatuan (KPP) saja, tetapi juga di koalisi partai-partai pengusung Prabowo Subianto.

BACA JUGA: Pak Anies Baswedan, Lihat Tuh yang Dilakukan Pengurus Demokrat Situbondo

Namun demikian, Nyarwi menilai kecil kemungkinan KPP atau blok koalisi yang dinakhodai Partai Gerindra, maupun yang dipimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, akan bubar.

"Kemungkinan terbesar yang ada di masing-masing blok koalisi tersebut, hanya perubahan komposisi partai-partai pendukungnya saja," kata Nyarwi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/9).

BACA JUGA: Koalisi NasDem-PKB, Cak Imin Otomatis Pamit Kepada Prabowo

Dia mengatakan jika Partai Demokrat lepas dari KPP, maka ada kemungkinan akan mencari mitra koalisi lainnya yang lebih menjanjikan untuk memberikan tiket cawapres.

Jika Sandiaga Uno peluangnya kecil untuk mendapatkan tiket cawapres bagi Ganjar Pranowo, kata dia, bisa juga akan mendorong PPP mencari mitra koalisi dari partai-partai lainnya yang bisa menawarkan tiket cawapres bahkan capres. 

BACA JUGA: Demokrat Tuding NasDem & Anies Berkhianat, PKS Ungkit Satu Hal, Catat Baik-Baik

"Masih terbuka peluangnya untuk bersama-sama dengan Partai Demokrat membangun blok koalisi baru. Meski keduanya masih belum aman memenuhi syarat presidential threshold, namun, kemungkinan ini masih terbuka untuk terjadi," ungkapnya.

Terkait KPP, kata Nyarwi, NasDem merupakan partai pertama yang menggagas koalisi ini. Lalu, Partai NasDem mengundang PKS dan Partai Demokrat bergabung hingga, kemudian dideklarasikan bersama melalui Piagam Koalisi.

Dia menambahkan soal bergabungnya PKB ke KPP yang diprakarsai NasDem sangat terbuka.

Apalagi jika Cak Imin mendapatkan tawaran tiket cawapres dari NasDem dan Anies Baswedan.

"Ini tentu membawa konsekuensi politik lanjutan," tegasnya.

Dosen Komunikasi Politik Fisipol UGM Yogyakarta ini mengatakan jika Cak Imin dan PKB benar-benar bergabung ke Partai Nasdem mengusung Anies, maka sangat besar peluangnya terjadi perubahan komposisi blok koalisi partai-partai kubu Prabowo (Gerindra dkk) dan juga blok KPP itu sendiri.

Manuver Cak Imin ini mengguncang dua blok koalisi sekaligus, koalisi partai-partai pendukung Prabowo, dan sekaligus partai-partai yang selama ini menominasikan Anies sebagai capres.

Jika mengacu pada data survei yang sudah dirilis oleh lembaga-lembaga survei kredibel, elektabilitas Anies masih tertinggal cukup jauh dari Prabowo maupun Ganjar. Mayoritas data survei dari lembaga-lembaga tersebut juga menunjukkan elektabilitas Cak Imin juga masih sangat rendah.

Namun, kalau keduanya dipasangkan, bukan tidak mungkin daya elevasi elektabilitas Anies meningkat cukup tajam.

Sebagaimana diketahui, PKB yang saat ini dipimpin oleh Cak Imin memiliki basis pendukung inti yang sangat kuat di Jawa Timur, dan cukup kuat di Jawa Tengah. "Ini dua provinsi dengan basis NU yang sangat kuat," katanya.

Dari data survei yang ada, lanjut dia, elektabilitas Anies di kedua provinsi ini sangat rendah, tertinggal jauh dibandingkan Ganjar dan Prabowo.

"Di sini, peluang Cak Imin untuk membantu akselerasi elektabilitas Anies Baswedan di kedua provinsi ini masih terbuka lebar," ungkapnya.

Dia menilai bahwa NasDem dan Cak Imin (PKB) mampu menjalankan manuver politik yang sangat cerdik.

Momentum yang mereka pilih untuk bermanuver juga cukup tepat, yang mana manuver ini dijalankan beberapa minggu setelah PAN dan Golkar bergabung ke koalisi blok pengusung Prabowo dan setelah acara perayaan HUT Ke-25 PAN.

Nyarwi mengatakan bahwa langkah Partai NasDem dan Cak Imin atau PKB tidak hanya potensial mengguncang blok koalisi pengusung Prabowo maupun Anies.

Namun, lanjut dia, juga sangat potensial mengguncang basis dukungan pemilih, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah ke Prabowo maupun ke Ganjar Pranowo.

"Kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa terjadi pada bulan ini dan beberapa bulan mendatang. Tentu kita perlu melihat efek dari manuver Cak Imin dan Nasdem ini dengan data survei yang lebih akurat," pungkasnya. (boy/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler