Maria Ressa

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Senin, 11 Oktober 2021 – 11:29 WIB
Maria Ressa. Foto: REUTERS/Eloisa Lopez

jpnn.com - Penghargaan Nobel Perdamaian 2021 jatuh kepada dua wartawan, Maria Ressa dari Filipina, dan Dmitry Muratov dari Rusia.

Keduanya dianggap layak menerima penghargaan paling bergengsi itu karena kontribusinya dalam menjaga kebebasan pers di Filipina dan Rusia, serta memberi inspirasi bagi upaya perjuangan mempertahankan kebebasan berekspresi di seluruh dunia.

BACA JUGA: Pencemaran Nama Baik, Bos Rappler.com Maria Ressa Dijebloskan ke Penjara

Maria Ressa mendirikan sebuah media online Rappler yang mempunyai pelanggan 4,5 juta orang.

Ia menyajikan berita-berita investigasi yang tajam dan berani dan sangat kritis terhadap pemerintahan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang dikenal bertangan besi.

BACA JUGA: 2 Jurnalis Musuh Pemerintah Raih Hadiah Nobel Perdamaian 2021

Dmitry Muratov mengepalai surat kabar independen Rusia, Novaya Gazeta, yang juga sangat kritis dalam pemberitaannya mengenai berbagai penyelewengan dan kekerasan politik pemerintah Rusia di bawah Vladimir Putin.

Baik Ressa maupun Muratov sama-sama bertaruh nyawa dalam menjalankan tugas jurnalisme yang kritis terhadap kekuasan.

BACA JUGA: Analisis Penerima Nobel soal Hubungan Alis Tebal dengan Kecenderungan Narsistik

Ressa dan Muratov berkali-kali digugat dan sering mendapatkan ancaman pembunuhan.

Arkady Babchenko, seorang jurnalis yang kritis terhadap Putin ditembak mati di dalam lift di apartemennnya oleh pembunuh gelap.

Enam jurnalis yang bekerja untuk Muratov ditemukan tewas karena berbagai sebab yang misterius.

Ketika mengumumkan kemenangan Ressa dan Muratov (8/10), Komite Nobel mengatakan bahwa jurnalisme yang bebas, independen, dan berdasarkan fakta sangat penting untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan, dan propaganda perang.

Ressa pernah menjadi kepala biro CNN di Filina dan pernah lama meliput di Indonesia. Ini bukan penghargaan internasional pertama yang dia terima.

Pada 2018, Majalah TIME menobatkannya sebagai Person of the Year. Penghargaan ini diberikan oleh TIME terhadap tokoh-tokoh yang dianggap mempunyai peran dan pengaruh besar dalam percaturan peta politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Kiprah Ressa di dunia jurnalistik, dengan keberaniannya mengkritisi rezim otoriter Dutarte, dianggap sangat inspiratif dan mampu memberi perubahan signifikan terhadap kebebasan berekspresi di seluruh dunia.

Ressa mempunyai keberanian dan keteguhan yang mengagumkan. Ia kerap bertarung di meja hukum dengan Duterte atas berbagai persoalan, mulai dari tuduhan penyebaran berita bohong hingga melanggar undang-undang kepemilikan asing atas media massa Filipina.

Salah satu liputan Ressa yang paling konsisten adalah pengungkapan berbagai pelanggaran yang dilakukan Duterte dalam perang melawan narkoba. Duterte dikenal sangat keras dan tegas dalam kebijakan ‘’war on drug’’, perang melawan narkoba.

Duterte tanpa ampun menerapkan hukum besi kepada pelaku perdagangan gelap narkoba. Tidak terhitung berapa banyak korban yang terbunuh dari kalangan mafia narkoba akibat kebijakan keras Duterte.

Peredaran narkoba di Filipina menjadi problem nasional yang sangat sulit diselesaikan. Jaringan mafia Filipina, yang berhubungan dengan jaringan perdagangan narkoba internasional, telah menjadi kartel yang sangat kuat di Filipina. Problem narkoba menjadi problem akut yang sulit diselesaikan.

Ketika Duterte menjadi presiden pada 2016, program utama yang langsung direalisasikan adalah perang melawan narkoba. Duterte dikenal sebagai politisi yang keras dan tangguh. Ia menjadi wali kota di Davao selama 22 tahun dan sangat populer di kalangan rakyat kecil.

Ketika berkampanye menjadi presiden, Duterte menegaskan akan memberantas perdagangan narkoba dengan cara apa pun.

Rakyat Filipina yang sudah sangat gerah oleh perdagangan narkoba mendukung Duterte untuk mewujudkan program itu. Setelah menjadi presiden, Duterte melakukan perang terbuka terhadap para gembong narkoba, dan tidak segan-segan menghabisi nyawa para anggota geng narkoba.

Cara koboi ala Duterte ini efektif untuk menekan peredaran narkoba di Filipina. Cara-cara kekerasan jalanan yang dilakukan Duterte membuat bandar-bandar narkoba ketakutan. Banyak gembong narkoba yang terbunuh dengan tembakan di badan dan kepala, dan mayatnya ditemukan di pinggir jalan.

Kebijakan ini mirip dengan kebijakan petrus alias penembakan misterius yang diterapkan Presiden Soeharto pada akhir 1980-an. Ketika itu angka kriminalitas di Indonesia sangat tinggi, dan para penjahat jalanan maupun penjahat yang terorganisasi beroperasi dengan leluasa.

Kemudian muncul operasi pemberantasan preman dan penjahat yang dilakukan oleh penembak-penembak misterius. Ratusan penjahat menjadi korban. Mayat dengan luka tembak di badan atau kepala ditemukan tergeletak di pinggir jalan atau dibungkus dalam karung di pinggir jalan.

Operasi petrus efektif menekan kriminalitas, tetapi potensial melanggar hak asasi manusia (HAM). Sama dengan operasi perang narkoba yang dilakukan Duterte.

Peredaran narkoba di Filipina menurun, tetapi banyak terjadi pelanggaran HAM akibat operasi pemberantasan itu.

Maria Ressa dengan gigih melakukan investigasi terhadap berbagai pelanggaran dalam operasi petrus ala Duterte ini.

Ressa dengan berani masuk ke sarang-sarang peredaran narkoba dan melihat langsung operasi mereka. Beberapa liputan investigasi Ressa mengungkap terjadinya kejahatan kemanusiaan di balik operasi Duterte itu.

Duterte bersikap keras terhadap media yang mengkritiknya. Sebuah jaringan televisi nasional Filipina ABS-CBN berhenti bersiaran setelah izin operasionalnya tidak diperpanjang oleh pemerintah.

Jaringan stasiun televisi ini sudah beroperasi selama 25 tahun, dan selama Duterte berkuasa jaringan televisi itu bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Duterte akhirnya menolak memperpanjang izin siar jaringan televisi itu, sehingga akhirnya jaringan televisi terbesar di Filipina itu gulung tikar.

Reputasi Duterte ini tidak membuat nyali Maria Ressa ciut. Dengan teguh dia melawan ‘’war on drug’’ dari Duterte dengan melakukan ‘’war on war on drug’’ melalui liputan-liputan investigasinya.

Di Rusia, Dmitry Muratov juga menghadapi risiko yang sama dengan Maria Ressa. Muratov mendirikan Novaya Gazeta pada 1993 dan menjadi pemimpin redaksinya sejak 1995. Enam staf di surat kabar yang dipimpinnya tewas sejak saat itu.

Muratov secara konsisten membela hak jurnalis untuk menulis apa pun yang mereka mau tulis. Berbagai investigasinya membongkar penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Putin.

Berbagai ancaman diterima Muratov, tetapi ia bergeming dan tetap melakukan liputan investigasi dengan gigih.

Ancaman keselamatan nyawa yang dihadapi Muratov tidak kalah besar dibanding Ressa. Putin adalah mantan komandan KGB, dinas rahasia komunis di bawah Uni Soviet.

Putin memerintah dengan tangan besi, dan tidak segan-segan menghilangkan nyawa pesaing politiknya. Oposan politik yang lari keluar negeri pun dikejar dan dibunuh.

Dalam kondisi demikian, Muratov mengoperasikan medianya dengan independensi tinggi dan profesionalisme yang total. Komite Nobel melihat perjuangan Muratov ini sangat penting dalam upaya menjaga kelangsungan demokrasi di Rusia.

Bagi jurnalis di seluruh dunia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi inspirasi. Kemenangan ini muncul bersamaan dengan dirilisnya hasil investigasi Pandora Papers yang membongkar praktik jahat beberapa elite pemimpin dunia dalam skandal penggelapan pajak. 

Dua menteri Indonesia, Luhut Pandjaitan dan Airlangga Hartarto, tercantum dalam laporan Pandora Papers itu.

Bagi jurnalis di Indonesia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi wake up call atau bel alarm supaya bangun dari tidur panjang, dan bangkit untuk menjalankan fungsi sebagai alat kontrol sosial.

Pers Indonesia sudah terkooptasi oleh kekuasan, dan terlibat dalam permainan kekuasaan sehingga kehilangan daya kritis yang banyak dirindukan khalayak. Pers Indonesia seharusnya malu kepada Maria Ressa dan Dmitry Muratov. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler