"Saya ingin menegaskan saya tidak mau agama dipolitisasi, saya tidak mau juga agama di kriminalisasi," kata Marzuki, Rabu (8/8), kepada pers.
Dijelaskan Marzuki, Rhoma Irama memberikan ceramah di dalam lingkungan masjid. Dijelaskan, peran masjid itu banyak seperti tempat pendidikan, sosial, diskusi ekonomi, dan itu eksklusif hanya untuk pemeluknya saja. Di dalam masjid juga tempat untuk berdakwah, menyampaikan sunat Rasul.
"Islam jelas tidak memusuhi agama lain. Kalau di dalam masjid menyampaikan ayat Tuhan lalu dikriminalisasi seolah melakukan pelanggaran, ini tidak boleh," bebernya.
"Saya tidak mau agama dipolitisasi dijadikan alat untuk pemilu, tapi agama jangan di kriminalisasi. Orang berbicara dalam masjid konteks ayat Al Quran kok dibilang melanggar aturan pemilu?" heran dia.
Malah dia menegaskan, kalau menyampaikan petunjuk Al Quran kepada umat Islam, maka tidak ada yang salah. "Kalau dia berbicara di pasar dan di ruang publik, iya tidak boleh berbicara itu. Ini yang harus diluruskan. Juga akhirnya agama terkooptasi ya, terhambat gara-gara kita tidak boleh bicara semua," ujarnya.
Dia menegaskan, seorang muslim harus tahu siapa pemimpin yang harus dipilihnya. Maka, tegasnya transparansi itu perlu. Menurut dia, menyebutkan kriteria siapa yang layak menjadi pemimpin bukan hal yang salah.
"Kecuali dia jelek-jelekan, itu tidak boleh menjelek-jelekan. Kalau membedah boleh, mulai dari karakter pribadinya dibedah untuk menentukan peminpin yang amanah. Jangan dikriminalisasi, berbahaya loh. Jangan dipolitisasi dijadikan alat kampanye," ungkap dia. (boy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Jelang Pilkada, Situasi Tuba Memanas
Redaktur : Tim Redaksi