Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90

Membangun Karakter Pemuda di Era Milenial

Minggu, 28 Oktober 2018 – 00:35 WIB
Sekretaris Jenderal Jaringan Pengembangan Pemuda dan Olahraga (Jarbangpora) Iwan Setiawan Arifin Manasa. Foto: Dokpri for JPNN.com

jpnn.com - Oleh Iwan Setiawan Arifin Manasa
Sekretaris Jenderal Jaringan Pengembangan Pemuda dan Olahraga
(Jarbangpora)


Hari ini, 28 Oktober 2018, kita memperingati salah satu tonggak utama sejarah bangsa Indonesia: Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-90. Banyak di antara kita mengadakan peringatan HSP dengan berbagai cara di seantero negeri. Kita sadar, banyak inspirasi dan semangat bisa kita gali dari peringatan ini, dan semua itu kita jadikan motivasi untuk membangun Indonesia.

BACA JUGA: Pemuda Harus Berkontribusi Membangun Indonesia Lebih Baik

Peringatan Sumpah Pemuda memberi kesempatan kepada kita untuk mereguk energi positif dan ide perjuangan dalam kerangka menggelorakan masyarakat, memajukan bangsa, dan menggerakkan negara. Ada yang terwujud melalui ungkapan kritis, luapan kreatif, juga keikhlasan untuk mengikat satu demi satu menjadi bersama.

Kita selalu ingat bagaimana dulu Kongres Pemuda Indonesia II berlangsung, diikuti berbagai perkumpulan pemuda yang bersifat nasional, kesukuan, kepanduan maupun keagamaan dengan identitas sendiri-sendiri. Namun di balik kebinekaan itu, mereka memiliki elan kebersamaan, mengusung keinginan kuat untuk merdeka. Menjadi Indonesia yang satu.

BACA JUGA: 23 Produk Kopi Asal Indonesia Dapat Penghargaan di Paris

Saat itu, mereka tidak serta-merta setuju untuk bersatu. Mereka harus melalui pembicaraan dan perdebatan yang panjang, luas, dan mendalam. Baru setelah Kongres II, dan setelah rapat ketiga, Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia – yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda – dibacakan dan beroleh sambutan hangat. Semua jalan ditempuh agar kesepakatan untuk bersatu bisa bulat dan utuh. Jadilah Sumpah Pemuda menjadi kesepakatan sosial bangsa Indonesia yang mengikat erat.

Kini, 90 tahun sesudahnya, kita patut bersyukur karena Indonesia terus dan tetap memiliki banyak pemuda dengan daya kritis dan daya kreatif yang sangat besar. Rentetan pengalaman panjang dan berharga bangsa ini, terutama ketika pemuda tampil sebagai pelopornya, sangat tepat menjadi landasan untuk membangun karakter pemuda demi Indonesia yang maju dan bermartabat.

BACA JUGA: Kader Pemuda Katolik Harus Berkarakter Kebangsaan

***

Membangun karakter pemuda tentu dilakukan dengan menimbang dan memperhatikan kondisi riil kaum muda saat ini, juga tantangan mereka pada masa depan. Salah satu fitur kaum muda sekarang – orang menyebutnya generasi milenial – adalah sosok aktif yang kapan saja dan di mana saja selalu menyampaikan pendapat kritis dan ekspresi kreatifnya. Semua bisa terjadi, karena pernyataan mereka mendapatkan ruang yang paling besar dalam sejarah kita.

Mereka yang sekarang berusia 30 tahun, batas atas umur pemuda, sudah 20 tahun merasakan kebebasan dan keleluasaan untuk menunjukkan jatidirinya. Mereka yang saat ini berumur 16 tahun, batas bawah untuk pemuda, tidak merasakan lagi suasana ruang publik yang otoriter. Demokrasi yang kita anut menjadi lahan paling subur untuk melahirkan pribadi yang kritis, kreatif, dan inovatif.

Kita semua harus terus mendorong mereka untuk terus berkarya. Teladan, bimbingan, mentoring, internship, kesempatan, adalah cara-cara memupuk mereka. Satu pola efektif untuk membangun dan memberdayakan pemuda adalah volunteerism – kesukarelawanan. Dengan bakat dan kemahirannya, satu per satu pemuda sukarela dan teratur memberikan waktu serta tenaga kepada orang-orang maupun komunitas yang membutuhkan.

Kementerian Pemuda dan Olahraga misalnya, memiliki program Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (SP-3). Mereka adalah para sarjana yang berdedikasi dan minimal sudah dua tahun terjun ke daerah untuk menjadi motivator, pendamping, sekaligus menjadi bagian dalam upaya mendinamisasikan aktivitas pemuda di perdesaan.

Mereka tidak sekadar menginisiasi gagasan, tetapi sekaligus mewujudkan gagasan tersebut menjadi karya nyata. Setiap tahun sejak 1989, Kemenpora menerjunkan sekitar 1.000 sarjana ke desa-desa di seluruh penjuru Tanah Air untuk menjadi penggerak dan ikut terlibat dalam mengawal proses perubahan. Inti dari program ini adalah memotivasi pemuda untuk menjadi pelopor di desanya sendiri.

***

Urgensi pemuda mengawal proses perubahan, tentu tidak berarti membiarkan mereka bebas melakukan apa saja. Arahan, tuntunan, teguran bahkan tindakan tegas tetap diperlukan agar tindakan mereka tidak kebablasan. Arahan yang sama diperlukan manakala sikap kritis dan kreatif kaum muda terwujud ke dalam tindakan kekerasan fisik atau verbal, juga bentuk-bentuk kejahatan lain. Misalnya, yang sedang mewabah saat ini, yakni terlibat dalam menyebarkan kebohongan (hoaks).

Tindakan mengarahkan dan menegur juga harus kita terapkan pada sikap menonjolkan identitas kelompok atau golongan (termasuk suku, agama dan ras) yang seringkali justru meremehkan, mengabaikan, atau meniadakan jatidiri kelompok yang dianggap lain.

Generasi milenial memang memerlukan identitas yang jelas dan tegas tentang dirinya. Hal itu paralel dengan intisari demokrasi yang memberikan keleluasaan untuk menentukan perkumpulan yang paling sesuai dengan dirinya. Biarkan jatidiri tumbuh berbeda-beda, juga kumpulan-kumpulannya. Seperti halnya ketika Kongres Pemuda II tahun 1928, di mana pesertanya datang dari bermacam perkumpulan.

Eratnya ikatan kaum muda karena semangat Bhinneka Tunggal Ika harus dibarengi dengan kecerdasan, kemahiran, dan kearifan. Hanya dengan itu bangsa Indonesia dapat mencapai kemajuan dan martabat sebagai bangsa yang berpengaruh di dunia. Setiap kali dihadapkan pada potensi perpecahan, segeralah temukan titik-titik rekat sampai semua utuh kembali.

Untuk kelompok usia pemuda, mereka yang berada dalam rentang usia 16-30 tahun, sebagian pasti sedang mengumpulkan pengetahuan dan ketrampilan di sekolah, kampus atau tempat-tempat pendidikan lain. Mereka terus belajar sampai jenjang tertinggi. Namun, ada sebagian lain yang sudah harus bergelut mencari penghidupan. Padahal, saudara-saudara kita ini masih terbatas bekalnya untuk bekerja.

Siapa pun mereka, 20 tahun mendatang mereka adalah pengelola negeri ini. Saat itu dunia menghadapi persoalan luar biasa karena beban dan tekanan populasi manusia yang semakin besar. Ruang hidup, air, pangan, dan energi adalah isu-isu pokok yang harus dikelola agar kebutuhan itu dapat dipenuhi, sementara lingkungan hidup dapat terus terpelihara.

Kelangkaan sumber-sumber daya tersebut sangat potensial menjadi sumber konflik besar. Pemuda Indonesia memerlukan segenap upaya dari kita bersama agar kelak, ketika tiba saatnya memimpin, mereka sudah benar-benar siap menghadapi persoalan dalam mengelola Indonesia.

***

Persoalan mendesak ini harus kita tentukan jalannya dengan segera. Baik oleh Pemerintah, DPR, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat luas. Pada titik ini, tidak ada pesan moral yang lebih bijak, selain mengajak semua pihak untuk menggunakan pola dan pendekatan arus-utama kepemudaan dalam setiap upaya pembangunan.

Target kita, sebanyak mungkin pemuda mampu memiliki produktivitas tinggi dan kompetitif. Terutama bagi mereka yang sudah harus mencari penghidupan. Mereka memiliki kelebihan untuk dapat bersaing, di pasar domestik maupun internasional.

Seluruh rangkaian ini dimaksudkan untuk memicu para pemuda, generasi milenial, agar terlibat, berpikir, dan peduli pada komunitas di sekitarnya. Juga pada bangsanya. Memicu pula aktivitas-aktivitas yang digagas dan dilakukan sendiri oleh anak-anak muda. Kita berharap, cerita-cerita kepeloporan pemuda akan semakin banyak dan semakin mudah ditemui, serta bergulir cepat di antara kaum muda sendiri.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Sumpah Pemuda dengan Berbagi untuk Sesama


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler