Mendikbud Nadiem Ingin Mahasiswa Tangani Proyek di Desa

Sabtu, 01 Februari 2020 – 05:54 WIB
Nadiem Makarim. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan bahwa mengerjakan proyek di desa menjadi salah satu sarana penguatan karakter mahasiswa.

Sebagai calon pemimpin masa depan, mahasiswa ditantang untuk keluar dari zona nyamannya dan berlatih menghadirkan solusi dari problem yang ditemuinya di desa.

BACA JUGA: Nunik dan Titi Honorer K2 Tidur di Terminal usai Bertemu Mas Nadiem Dini Hari

"Ini adalah salah satu jenis project yang tidak mungkin tidak, terjadi penguatan karakter. Tidak mungkin mahasiswa itu tidak tergugah hatinya. Tidak mungkin tidak terjadi perubahan fundamental di dirinya," kata Nadiem di hadapan para peserta Rapat Koordinasi Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Fortides) di Jakarta, Kamis (30/1).

Dia menekankan pentingnya pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama mengerjakan proyek di desa. Mahasiswa harus berkolaborasi dengan mahasiswa dari program studi (prodi) lain, dengan warga, dan pengurus desa.

BACA JUGA: Pin Nadiem

Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mengakrabi keberagaman yang ditemuinya di lapangan. Hal itu menjadi pembelajaran yang bermanfaat untuk penguatan karakter.

Dengan melakukan pengabdian di desa, maka pemanfaatan dana desa dapat lebih optimal dan tepat guna.

BACA JUGA: Kewajiban Pemerintah Hanya Sampai di Honorer K2

Dijelaskan Mendikbud, proyek yang menggunakan dana desa nantinya akan didukung tenaga-tenaga muda yang memiliki intelektualitas yang siap menjadi rekan bagi para pengelola desa untuk berdiskusi dan melakukan eksekusi program.

Kemudian, diawali dengan program pengabdian mahasiswa di suatu desa, maka universitas asal mahasiswa tersebut pada akhirnya akan merancang program-program lanjutan bagi desa tersebut hingga desa yang dibina menjadi mandiri.

Salah satu kebijakan Kampus Merdeka adalah memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk memilih kegiatan di luar program studinya selama tiga semester. Beragam kegiatan yang bisa dipilih di antaranya Proyek Desa, Riset, Magang/Praktik Kerja, Pertukaran Pelajar, Wirausaha, Mengajar di Sekolah, Proyek Kemanusiaan, dan Proyek Independen.

"Kalau satu dua bulan itu sulit. Kalau enam bulan, itu baru berdampak. Masyarakat juga melihat bahwa itu adalah sesuatu yang serius," ungkap Mendikbud.

Nadiem mengajak semua pihak untuk mendukung program kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengungkapkan kebahagiaannya karena program pemberdayaan masyarakat desa bersama perguruan tinggi yang selama ini dijalankan bersama Fortides mendapatkan angin segar dengan adanya kebijakan Kampus Merdeka.

"Saya mengajak kampus untuk kembali ke desa. Karena hampir semua Rektor yang hadir di sini berasal dari desa," ujar Menteri Desa PDTT.

Mendes PDTT optimistis program Kampus Merdeka Proyek di Desa akan dapat menyelesaikan permasalahan di desa.

"Kami ingin segera bisa melaksanakan Kampus Merdeka Proyek di desa," ujar Abdul Halim Iskandar. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler