Mengenal Bipolar Disorder II

Selasa, 12 Agustus 2014 – 23:02 WIB
Foto Ilustrasi Diperagakan: Septi D’Ajeng. (Dite Surendra/Jawa Pos)

jpnn.com - Tepat pada hari ulang tahun yang ke-25 pada Minggu (10/8), Marshanda membuat pengakuan. Dalam acara Just Alvin, ibu satu anak itu menyebut dirinya didiagnosis menderita bipolar disorder II. Namun, Caca, begitu biasa dia disapa, menyangkal. Terlepas dari polemik tersebut, sebetulnya apakah bipolar disorder?

* * *

BACA JUGA: Siap-siap Saat Si Merah Menyapa

MENURUT psikiater yang bertugas di RSUD dr Soetomo dan pengajar di FK Unair dr Nalini M. Agung SpKJ(K), bipolar disorder II tergolong dalam gangguan jiwa berat. Penderita akan mengalami siklus mood yang sangat ekstrem. Dia kehilangan pemahaman (insight) tentang gangguan yang dideritanya serta kaitan relasi terhadap dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Sebutan bipolar disorder merujuk pada mereka yang mengalami episode perubahan mood secara ekstrem. ”Kalau ekstrem naik dia menjadi mania, kalau ekstrem turun menjadi depresi,” kata Nalini.

Gangguan bipolar disorder II berarti siklus mood-nya berubah-ubah dalam beberapa siklus atau episode. Satu ketika menjadi hypomania atau mania, di waktu yang lain menjadi depresi. ”Siklus ini datangnya tidak ada yang memperkirakan. Bisa dalam hitungan tahun, bulan, minggu, atau jam,” ujarnya.

BACA JUGA: VivaGel, Kondom Pertama Dirancang Bunuh HIV

Dalam siklus mood itu juga bisa terdapat episode normal. Di situlah seorang penderita bisa menjalani kehidupan dengan baik dalam arti bisa menyadari apa yang dilakukannya. Menjaga agar penderita tetap normal atau terkontrol, sedikitnya tiga hal wajib dilakukan secara holistik.

Yaitu, rutin minum obat yang telah diresepkan psikiater, lalu menjalani psikoterapi. Kemudian, terapi secara sosial-budaya dan lingkungan dalam hal ini keluarga, pasangan, atau teman-teman harus mendukung pasien untuk menjalani hidup sehat dan normal. ”Lingkungan yang tidak mampu menerima pasien sehingga sering menghujani dengan kritik atau sebaliknya karena saking khawatirnya menjadi overprotektif malah memperburuk kondisi pasien,” jelas Nalini.

BACA JUGA: Deteksi Penyakit Lewat Perubahan Kulit

Ciri-ciri pasien bipolar disorder II yang berada dalam fase hypomaniamenuju mania itu adalah merasakan gembira berlebihan, penuh semangat, banyak ide dan impian, suka ngomong, tidak bisa tenang, dan susah tidur. Selain itu, pasien merasa diri hebat, paling menarik, mengubah penampilan secara drastis, mendominasi, serta terjadi peningkatan nafsu seksual.

”Di fase ini pasien juga merasakan ada perubahan yang sangat cepat antara gembira dan sedih. Dia juga menjadi gampang marah dan penuh permusuhan,” tambah psikiater yang mendalami subspesialisasi women’s mental health dan menempuh pendidikan spesialisasi di FK Unair Surabaya itu.

Ketika ada di episode depresi, yang terjadi adalah mood menurun. Mudah menangis, kehilangan semangat, merasa tidak berguna, putus asa, pikiran tentang kematian, hingga pada satu titik muncul dorongan untuk bunuh diri. ”Baik fase naik mania maupun fase turun depresi, dua-duanya dilakukan pasien tanpa kesadaran diri (insight),” kata Nalini.

Penderita bipolar disorder II harus mendapatkan penanganan yang tepat. Berada dalam episode kambuh (relaps) membuat pasien membahayakan diri sendiri dan lingkungan. ”Bergembira berlebihan, lalu kemudian nafsu seks meningkat, jika bertemu dengan pria jahat kan kasihan jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Juga, boros berlebihan serta mudah memberikan barang-barang berharganya sehingga mudah dimanipulasi orang yang bermaksud tidak baik,” ujar Nalini.

Nalini menegaskan, bipolar disorder II adalah gangguan (disorder). Bukan hanya karena ada masalah psikologis, tapi ada gangguan atau ketidakseimbangan neurotransmitter dalam otak.

Khusus untuk perempuan, hati-hati ketika saat ada penurunan kadar hormon estrogen yang drastis (pasca melahirkan, perimenopause), kemungkinan kambuh besar sekali. Untuk itu, Nalini berharap pasien dengan derita itu dipandang tak jauh beda dengan pasien sakit fisik. ”Selama ini kan stigmanya gangguan jiwa itu karena masalah kejiwaan saja. Padahal, ada bagian dari tubuhnya yang juga bermasalah,” ujar ibu dua anak tersebut.

Dengan latar belakang itulah, penderita harus minum obat secara kontinu. Sampai kapan? Dalam jangka panjang. Ada yang harus seumur hidup, ada juga yang tidak. ”Bergantung pemeriksaan dokter. Biasanya, sebelum berhenti minum obat, dosisnya dikurangi sebagai maintenance saja. Saat itu pasien dan keluarganya juga diedukasi untuk mengenal tanda-tanda kambuh. Sehingga begitu kondisi itu datang, segera mencari pertolongan,” tutur Nalini.

Jika ada pasien yang merasa baik-baik saja tanpa obat dan melepaskan diri dari obat itu tanpa petunjuk dokter, Nalini menyebut kemungkinan kambuhnya akan besar. ”Satu sampai tiga bulan mungkin dia bisa ’bertahan’ normal karena dalam tubuhnya masih ada sisa-sisa obat yang dulu? Tapi, dalam tiga atau empat bulan kemudian atau lebih, pasien akan kambuh,” imbuh Nalini. (bri/cik/c10/c6/nda)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Edible Spa yang Bikin Ceria


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler