Mengenal Budaya Puasa di Timur Indonesia: Dari Berburu Takjil hingga Mendatangi Ulama di Masjid

Kamis, 14 Maret 2024 – 14:28 WIB
Suasana acara Inspirasi Ramadan 2024 yang diselenggarakan BKN PDI Perjuangan pada Kamis (14/3/2024). Foto: source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Ramadan di wilayah timur Indonesia menjadi momentum untuk mempererat soliditas sosial masyarakat Indonesia.

Budaya kulineran menjelang berbuka puasa hingga berbondong-bondong mendatangi ulama yang memimpin tarawih di masjid menjadi tradisi umat muslim yang terus lestari hingga saat ini.

BACA JUGA: Selama Ramadan, Penumpang LRT Sumsel Boleh Makan & Minum saat Berbuka Puasa di Gerbong

Hal itu disampaikan oleh Peneliti Naskah Nusantara KH. Ahmad Baso dalam acara Inspirasi Ramadan 2024 yang diselenggarakan oleh BKN PDI Perjuangan dipandu oleh host Aris Setiawan Yodi dan co-host Shalimar Anwar Sani pada Kamis (14/3/2024).

"Pada dasarnya sama tradisi puasa di timur Indonesia dengan daerah lainnya, sama-sama ada tarawih, sama-sama ada imsaknya saat sahur. Namun, bagi kami salah satu yang paling membedakan saat ramadan itu budaya kuliner berburu takjil sebelum berbuka, ini yang unik dan tidak ada di bulan selain ramadan," ujar Baso yang merupakan ulama kelahiran Makassar.

BACA JUGA: Sambut Ramadan, Bumifood Hadirkan Seafood Platter Solusi Praktis untuk Berbuka Puasa

Menurut Baso, di bulan ramadan, kuliner yang tersedia justru lebih beragam dibandingkan hari-hari di luar ramadan.

Para orang tua di rumah memasak makanan yang berbeda untuk hidangan sahur dan berbuka dengan tujuan salah satunya menyemangati anak-anaknya agar mampu berpuasa.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Berbuka Puasa Ditemani Kanselir Jerman, Lihat Itu Sajiannya

Selain berburu kuliner, tradisi lainnya saat ramadan di timur Indonesia, yakni berlomba-lomba mendatangi ulama yang datang untuk berceramah dan memimpin solat tarawih di masjid-masjid. Tradisi tersebut yang kemudian akrab disebut "tarawih keliling".

"Di timur Indonesia kami biasa untuk berebut dan berbondong-bondong mendatangi masjid di mana didatangi ulama-ulama yang kami anggap tersohor saat tarawih. Termasuk saat itu saya juga hadir saat almarhum KH Zainudin MZ ke Masjid Raya Makassar," tutur Baso.

Menurut Baso, budaya mendatangi masjid-masjid guna mendekatkan diri kepada ulama tersebut adalah bagian dari menjaga hubungan kontak batin antara pemimpin agama dan umatnya. Hal itu agar ajaran-ajaran luhur Islam dapat lebih dipahami dan dipraktikan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya.

"Itu sebabnya salah satunya mengapa santri jika ketemu ustaz atau kiai-nya, mencium tangan kyainya dengan sangat khidmat, bahkan sampai dibolak-balik tangannya," kata Baso.

Terakhir Baso mengatakan, budaya dalam masyarakat Indonesia tidak lepas dari peran seorang ibu. Ramainya proses jual beli di pasar, ramainya tradisi kulineran saat ramadan hampir mustahil terjadi jika tanpa peran seorang ibu.

"Budaya saling berdialog, budaya berbincang di pasar, budaya kuliner saat ramadan semua ini kan budaya yang akan memperkuat soliditas masyarakat Indonesia. Konflik bisa dihindari dengan dialog," kata Baso.(dkk/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Muhammad Amjad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler