Mengenal Tradisi Unik Kacang Jodoh Wakatobi di Bulan Ramadan

Sabtu, 23 April 2022 – 23:15 WIB
Wakatobi memiliki tradisi unik, yaitu Kacang Jodoh yang berlangsung pada setiap Ramadan yang telah digeluti masyarakat sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, khususnya masyarakat Wangi-Wangi. Foto: Dokumentasi Kemenparekraf

jpnn.com, WAKATOBI - Wakatobi dikenal wisatawan sebagai surga bawah laut yang begitu indah.

Destinasi wisata yang ada di Sulawesi Tenggara ini menyimpan beragam keindahan biota laut sebagai pusat segitiga karang dunia.

BACA JUGA: Cek di Sini! 3 Destinasi yang Bikin Kamu Senang dan Betah di Kuningan

Setidaknya terdapat 942 jenis ikan dan 750 spesies terumbu karang.

Karena itu, tidak heran jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menjadikan Wakatobi sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Prioritas.

BACA JUGA: Mau Liburan ke Bali? Destinasi Wisata Ramah Anak di Gianyar Ini Wajib Anda Kunjungi

Hal ini diharapkan mampu membangkitkan ekonomi, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, membuka peluang investasi guna menghadirkan lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Untuk Kabupaten Wakatobi, jika melihat realisasi investasi nasional memang berdampak cukup baik. Karena itu realisasi investasi di sektor pariwisata harus semakin ditingkatkan, karena wilayah Wakatobi memiliki alam yang indah serta kekayaan laut yang luar biasa," ujar Sandiaga.

Selain kekayaan alamnya, Wakatobi juga memiliki tradisi unik yang berlangsung pada setiap Ramadan.

Tradisi tersebut bernama Herapo-rapo atau masyarakat menyebutnya pula sebagai tradisi Kacang Jodoh.

Unik sekali, bukan? Seperti apakah tradisi Kacang Jodoh ini?

Sambil merencanakan liburan, jangan lupa ikutan PUKIS atau Pesona Punya Kuis setiap hari Selasa yang diadakan dua minggu sekali.

Caranya? Follow akun Instagram @pesona.indonesia lalu like postingan terbaru PUKIS pada feed.

Jawab pertanyaan di kolom komentar dan jangan lupa mention 3 temanmu untuk ikutan kuis ini, ya! Raih ragam hadiah menarik dari Pesona Indonesia.

Sejarah Tradisi Kacang Jodoh

Dua orang gadis menjual kacang di depan rumah mereka yang berada di pinggir jalan menggunakan meja kecil yang diterangi beberapa buah lilin. Foto: Dokumentasi Kemenparekraf.

Kacang Jodoh atau Herapo-rapo merupakan tradisi yang telah digeluti masyarakat sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, khususnya masyarakat Wangi-Wangi.

Tradisi unik ini merupakan warisan nenek moyang dan dilakukan secara turun-temurun.

Dalam tradisi ini, sekelompok gadis menjual kacang di depan rumah mereka yang berada di pinggir jalan, atau tempat-tempat yang dianggap strategis untuk didatangi para pembeli.

Para pembeli kebanyakan laki-laki lajang yang datang dari desa sebelah, seperti Desa Wandoka, Waetuno, Sombu, Waha, Tindo, dan Patuno.

Uniknya lagi, momen ini hanya bisa dijumpai pada saat bulan suci Ramadan.

Transaksi Kacang Jodoh dilakukan setelah selesai salat tarawih sekitar pukul 20.00 WITA.

Pada saat menjajakan atau berjualan kacang di depan rumah, biasanya para gadis ini hanya menggunakan meja kecil yang diterangi beberapa buah lilin, kemudian duduk manis menunggu.

Tak lama, mereka akan didatangi para pembeli dari berbagai penjuru desa yang didominasi kaum pria.

Fakta dan Mitos Tradisi Kacang Jodoh

Seorang laki-laki lajang 

Sebenarnya Kacang Jodoh bukan seperti namanya bahwa tradisi tersebut diperuntukkan benar-benar untuk mencari jodoh, meskipun konon ada yang mendapatkan jodoh karena tradisi ini.

Faktanya, berjualan Kacang Jodoh lebih kepada ajang silaturahmi antarwarga dari penjuru desa.

Menurut seorang warga, Kacang Jodoh dahulu bukan dilakukan para gadis, melainkan ibu-ibu rumah tangga yang digelar pascapanen.

Meskipun tradisi itu masih dijaga sampai sekarang, pemerannya kini berganti dengan para gadis belia.

Karena banyaknya gadis belia yang berjualan kacang dan pembelinya adalah laki-laki lajang, tak ayal beberapa dari mereka saling berkenalan, terpikat, hingga menjalin hubungan ke jenjang pernikahan setelah Hari Raya Idulfitri.

Pundi Rupiah dalam Tradisi Kacang Jodoh

Tradisi Kacang Jodoh juga dimanfaatkan warga setempat sebagai lahan mencari pundi-pundi rupiah.

Kacang Jodoh dijual dengan harga hanya Rp 1.000 per bungkus.

Dalam sebungkus jumlahnya bervariasi, ada yang 15 butir, 10 butir, bahkan 8 butir saja.

Dalam semalam kacang yang mereka jual bisa mencapai 2 sampai 3 liter, berupa kacang tanah yang disangrai.

Banyaknya pembeli membuat keuntungan berjualan kacang mampu mencapai sebesar Rp 80 ribu atau bahkan sampai Rp 100 ribu per malam.

Satu lagi yang seru untuk Sobat Negeriku di seluruh Indonesia!

Ikuti Sayembara Akamsi (Ambassador Kampung Sini), temukan pesona tersembunyi di lingkungan sekitarmu, dan membagikannya dalam bentuk foto atau video ke akun IG @pesona.indonesia.

Periode kompetisi ini berlangsung mulai 15 Maret hingga 15 Mei 2022.

Para pemenang akan dinobatkan menjadi Akamsi alias #AmbassadorKampungSini dan berpeluang mendapatkan hadiah uang tunai, iPhone 13 Pro Max, hingga paket e-wallet senilai jutaan rupiah.

Syarat dan ketentuan Sayembara Akamsi, bisa kamu liat di akun IG @pesona.indonesia dan akun Tiktok @pesonaindonesia.

Sebelum berwisata pastikan Sobat Negeriku sudah booster dan selalu mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 6M di mana pun berada.

6M itu mulai dari menggunakan masker dengan benar, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, dan menghindari makan bersama agar aktivitas berwisata tetap aman dan nyaman.

Informasi mengenai destinasi wisata dan inspirasi ekonomi kreatif #DiIndonesiaAja bisa kamu dapatkan dengan cara follow akun Instagram: @pesona.indonesia, Facebook: @pesona.indonesia, Twitter: @pesonaindonesia, TikTok: @pesonaindonesia, YouTube: Pesona Indonesia, dan mengunjungi website www.indonesia.travel. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler