Mengenang Sejarah Malari, Dari UI Hingga ITB

Selasa, 15 Januari 2019 – 23:01 WIB
Peringatan Malari 1978 di kampus ITB.

jpnn.com - Malari. Malapetaka 15 Januari. Peristiwa pada 1974 itu menjadi satu di antara tonggak gerakan mahasiswa di Indonesia. Malari pertamakali dikenang-peringati pada 1978 di kampus ITB. Ini senarai kisahnya… 
 
Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network
 
Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) ditangkap dan dipenjarakan pemerintah Orde Baru gegara Peristiwa Malari—Malapetaka 15 Januari—1974. Dan bebas pada 1977.
 
Baru aja bebas, awal Januari 1978, Hariman disambangi Jusman Syafii Djamal dari Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).
 
“Sendirian saya datang ke rumahnya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Waktu itu, ia masih tinggal di rumah mertuanya, Profesor Sarbini, sedangkan istrinya, Yanti, sedang sakit,” kenang Jusman S.D dalam Bayarlah Kehormatan dengan Kehormatan, termuat dalam buku Hariman & Malari.
 
Begitu bertemu, Hariman langsung bertanya, “kalian sudah mau langsung hantam Soeharto?”
 
“Ya, tapi kami di ITB paling hanya sepuluh orang nanti yang menandatangani ikrar,” sahut pria yang belakangan menjabat Komisaris Utama Telkom, Garuda Indonesia dan Menteri Perhubungan era SBY itu.
 
“Hebat itu. Dulu gue paling cuma berdua,” kata Hariman.
 
“Bararti kami cukup. Tanggal 15 Januari nanti rencananya mahasiswa ITB mengundang Anda datang ke kampus,” sambar Jusman, seraya berpanjang lebar menjelaskan rencana dan maksud kedatangannya.
 
Hariman terkekeh. “Gila lu. Gue baru keluar penjara sudah diundang.”
 
Penjara tak membuat nyalinya ciut. Ketika kembali masuk kampus sebebas dari penjara pertengahan 1977, dia kembali menyeru kawan-kawan sekampusnya untuk menjadi demonstran.
 
“Caranya mengajak itu, menurut saya, aneh,” tulis Akmal Taher, Ketua Senat Faklutas Kedokteran UI era 1977, dalam Seorang Idealis yang Penuh Semangat.
 
“Hariman bilang,” papar ahli bedah Indonesia yang belakangan pernah menjabat Kepala Rumah Sakit Citpo Mangunkusumo. “Kalau lu jadi dokter, sehari ngobatin 25 orang. Berarti seminggu paling 100 orang. Setahun berarti 5.000 orang. Itupun kalau lu tolong beneran. Karena kadang kita tidak menolong dengan baik. Nah, kalau lu praktik 20 tahun, paling banyak 100.000 orang yang lu tolong. Tapi kalau lu jadi aktivis, lalu bisa membuat perubahan sistem politik, bisa membantu jutaan orang.”
 
Itulah Hariman, penjara tak membuatnya bungkam. Dan pada 15 Januari 1978, bersama Gurmilang Kartasasmita dan Rahman Tolleng, Hariman Siregar datang memenuhi undangan Dewan Mahasiswa ITB.
 
Di panggung, Hariman berorasi menerangkan kekeliruan strategi pembangunan Soeharto. “Pembangunan Soeharto ini berorientasi hanya kepada pertumbuhan di atas kertas dan tidak mengutamakan pemerataan,” tandasnya.
 
Dia juga menjelaskan bahwa, “tidak benar bila demonstrasi 15 Januari 1974 adalah ciptaan Jenderal Soemitro yang bermusuhan dengan Ali Moertopo. Itu sepenuhnya inisiatif mahasiswa tapi tanpa tujuan pembakaran.”
 
Baca: Sebelum Peristiwa Malari…Antara Mahasiswa, Soeharto dan DI/TII 
 
“Belajar dari Malari,” sambung Hariman, “kalau kalian tak suka kekerasan, jangan berdemonstrasi di jalan. Diam saja di kampus.”
 
Maksud dia, jika turun ke jalan, risiko kekerasan itu pasti ada. Apakah datang dari aparat keamanan langsung atau diprovokasi intel.

Acara itu dihadiri 21 Ketua Dewan Mahasiswa ITB dan juga Rektornya Iskandar Alisjahbana. Usai acara, Jusman menyampaikan rencana mereka yang akan menggelar apel akbar, meluncurkan Buku Putih Gerakan Mahasiswa, esok harinya.
 
“Man, besok kita mau bikin pernyataan sikap.”

BACA JUGA: Sebelum Peristiwa Malari…Antara Mahasiswa, Soeharto & DI/TII

“Apa isinya?” tanya Hariman.

“Menolak Soeharto.”

BACA JUGA: Pesona Berburu Harta Karun di Perairan Indonesia

“Gila, lu. Baru bicara sehari, lu sudah menolak Soeharto.”

“Kata lu dua atau sepuluh orang cukup. Ini kami 21 orang,” ucap Jusman.  
 
Esok harinya, Senin, 16 Januari 1978
 
Siang itu, sekitar 3000 mahasiswa berkumpul di kampus ITB. (lihat foto)
 
Orasi dan teriakan mahasiswa senada dengan bunyi spanduk merah yang terbentang di pintu masuk kampus: “Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Soeharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia.”
 
Dalam aksi itu, sebagaimana dicuplik dari buku Hariman & Malari yang disunting Amir Husin Daulay dan Imran Hasibuan, beredar Buku Putih, yang menyoroti pemusatan kekuasaan di tangan Soeharto.
 
Buku Putih, berdasarkan wawancara saya dengan sejumlah aktivis ITB yang ambil bagian dalam gerakan 78, diotaki oleh Rizal Ramli.
 
Hari itu, Ketua Dewan Mahasiswa ITB Heri Akhmadi lantang berpidato, “kalau semua fungsionaris ITB ditangkap, masih ada 8.000 mahasiswa yang akan melanjutkan perjuangan. Maka rapatkan barisan.”
 
Paska peristiwa 78 itu, “ada beberapa tokoh mahasiswa yang masuk bui. Termasuk saya, di Sukamiskin,” kenang Rizal Ramli.
 
Hariman sempat juga ditangkap. Tapi, segera dibebaskan lagi.
 
Malam hari ini, 15 Januari 2019, Peristiwa Malari dirayakan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
 
Berdasarkan pamflet yang diterima JPNN, mengusung tajuk Mengembalikan Demokrasi, acara dimeriahkan penampilan Glenn Fredly, drama sajak-sajak Rendra, pameran sketsa dan karikatur, serta pidato politik Hariman Siregar. (wow/jpnn) 

BACA JUGA: Soemarsono, Si Pengusul 10 November Hari Pahlawan Berpulang

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bukan Cerita Biasa! Ini Kisah Dukun Kepresidenan Amerika


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler