Mengunjungi Lokasi 16 WNI Disandera, Siapkan Tanda Bahaya ke KBRI di Kamboja

Rabu, 27 Mei 2015 – 21:45 WIB
Tampak warga Kamboja di sepanjang jalan dari Phnom Penh ke Grand Dragon Resort and Casino yang menjadi salah satu kawasan perjudian terbesar di Kamboja. Foto Afni Zulkifli/JPNN.com

jpnn.com - JPNN.com PHNOM PENH - Kami meninggalkan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja sekitar pukul 16.30 (Pnh). Menuju ke arah Provinsi Kandal, tepatnya di wilayah Chrey Thom.

Daerah ini merupakan perbatasan wilayah Kamboja yang berbatasan langsung dengan Vietnam.
 
10 menit meninggalkan ibu kota, kami ternyata sudah memasuki wilayah Provinsi Kandal.

BACA JUGA: Putri Obama Dilamar dengan 50 Sapi, 70 Domba dan 30 Kambing

Bangunan di sini masih didominasi model lama. Kalaupun ada bangunan modern, hanya ada satu dua. Itupun hanya berbentuk seperti ruko.
 
Perlahan jalan besar mulai kami tinggalkan. Masuk jalan kecil, yang banyak lubang di sana sini.

Di kanan jalan sesekali melewati hutan. Sementara di kiri jalan, ternyata ada sungai besar. Namanya sungai Bassac. Sebagian sungai ini juga melintasi negara Vietnam.
 
Jejak-jejak perang saudara dan kekejaman tokoh komunis Pol Pot, seketika terasa. Terlihat dari daerah yang masih jauh dari kata modern.
 
Kiri dan kanan jalan, lebih banyak berdiri rumah kayu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat reyot dan kumuh. Tidak ada tiang listrik apalagi jaringan telepon.
 
Jalan yang kami lalui semakin mengecil. Terkadang melewati jalan berbatu dan tanah kuning.

BACA JUGA: Mengunjungi Lokasi 16 WNI Disandera, Triknya Harus Pakai Mobil Mewah

Jembatan-jembatan yang tersedia juga hanya bisa dilewati satu mobil. Ketika mobil kami lewat, beberapa penduduk tempatan yang masih banyak menggunakan sepeda, harus mengalah.
 
Supir juga harus berhati-hati, karena banyak sekali ditemui jalan rusak. Ada pula jembatan darurat, yang harus dilalui dengan ekstra hati-hati.
 
''Mereka melihat ke arah kita. Bersikaplah seperti bos judi saja,'' kata Chan.

Terkesan bercanda, tapi nada Chan terdengar serius.
 
Satu kesalahan kecil yang cukup fatal. Mobil yang dipesan Chan memiliki kaca tembus pandang. Sehingga saat mobil kami harus tertahan karena jalan rusak, kami menjadi pusat perhatian warga tempatan. Untungnya Chan memiliki wajah seperti warga keturunan.
 
''Para bos judi kebanyakan memiliki wajah seperti saya,'' kata Chan tertawa. Cukup mengurangi ketegangan yang mulai menyergap.
 
Sudah satu jam lebih perjalanan kami ditemani jalanan yang tak rata. Matahari mulai merayap pelan meninggalkan peraduan. Kami pun berdiskusi strategi teraman untuk melakukan investigasi di lokasi judi.
 
''Nanti biar saya dulu saja yang masuk. Jika sampai 30 menit tidak keluar, Mbak segera hubungi KBRI ya,'' kata Chan.
 
Kami pun sepakat menyiapkan pesan S.O.S (tanda bahaya) yang bisa dikirim seketika bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan. (afz/jpnn)

BACA JUGA: Dua Petugas Damkar Dipecat Lantaran Selfie saat Tugas SAR

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengungsi Rohingya Terkatung di Laut, Thailand Kerahkan Helikopter Operasi SAR


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler