Menhub Beberkan Evaluasi Angkutan Lebaran 2019

Senin, 10 Juni 2019 – 21:29 WIB
Kepadatan (macet) lalu lintas saat arus mudik di tol. Foto Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan Angkutan Lebaran Tahun 2019 / 1440 H berjalan lebih baik dan lancar dibandingkan dengan tahun lalu. Meski begitu diakui Budi masih ada kekurangan yang perlu dievaluasi dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran.

Budi lantas membeberkan upaya-upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk menyiapkan penyelenggaraan Angkutan Lebaran yang lebih baik lagi tahun depan.

BACA JUGA: Baru 16 Persen Pemudik yang Balik Lewat Terminal Bekasi

“Lancarnya Angkutan Lebaran ini karena infrastruktur yang baik terutama dengan adanya jalan tol Jakarta - Surabaya. Ini sangat bermanfaat untuk memudahkan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat,” tutur Budi.

Menanggapi terjadinya kepadatan kendaraan yang panjang pada arus balik, Budi mengatakan pentingnya mengatur manajemen waktu arus mudik dan arus balik di jalur darat, khususnya terkait rentang waktu antar arus mudik dan arus balik.

BACA JUGA: DPR Sebut Pengguna Jalan Tol Trans Jawa Meningkat pada Mudik Lebaran

“Pada tahun ini, arus mudiknya (rentang waktunya) 7 hari, sementara arus baliknya hanya 3 hari. Kemudian, dalam 7 hari pada arus mudik, ada beberapa hari yang tidak digunakan oleh masyarakat, misalnya  H-1 dan H-2 itu relatif kosong. Kami akan mengusulkan ke Menko Perekonomian dan Kemenpan RB bagaimana mengatur manajemen waktu ini,” tutur Budi.

Sementara itu terkait dengan evaluasi penerapan kebijakan satu arah (one way), mantan dirut AP II ini menyampaikan bahwa penerapan kebijakan tersebut akan berjalan bagus bila tidak diinterupsi oleh banyaknya kendaraan yang berhenti di badan jalan.

BACA JUGA: Komisi V DPR Segera Rapat dengan Menhub, Nih Agendanya

Menurut Budi, salah satu penyebab banyaknya kendaraan yang berhenti di bahu jalan tol yaitu karena padatnya kendaraan yang berada di dalam rest area. Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri PU PR dan stakeholder terkait evaluasi  pengelolaan rest area.

“Saat ini rest area di desain untuk memudahkan pemudik, yaitu jika berhenti langsung di depan toko. Kedepannya, kendaraan tidak langsung parkir di depan toko, tetapi bisa dibuat kantong parkir khusus yang besar agar memudahkan mereka keluar masuk, yang dikoneksikan dengan fungsi fungsi komersial,” ungkap Budi.

Selain itu, pengembangan infrastruktur seperti jalan tol, harus juga diimbangi dengan peningkatan kapasitas transportasi massal. Berdasarkan pengamatan Budi pada arus mudik dan balik tahun ini, masih banyak sekali masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun motor, sehingga jalan menjadi padat.

Karena itu Kemenhub akan terus mendorong penggunaan angkutan massal seperti bus, kereta api dan kapal laut.

Menhub menjelaskan, khusus angkutan bus, dari sejak 2 tahun lalu banyak sekali bus-bus bagus yang sudah digunakan. Masyarakat juga senang dengan bus karena bisa poin to poin.

Sementara untuk angkutan kereta api yang tahun ini mengalami kenaikan jumlah penumpang cukup signifikan hingga 10 persen, Budi berharap tahun depan kapasitas kereta api dapat meningkat hingga 30 persen.

“Saya mengharapkan dengan relatif sudah selesainya jalur ganda Jakarta-Surabaya baik utara maupun selatan, maka kapasitasnya itu banyak sekali. Kita harapkan PT KAI dapat menambah rolling stock, sehingga pertumbuhannya bukan hanya 10 persen tetapi bisa menjadi 20-30 persen,” sebut Menhub.

Untuk angkutan laut, Menhub mengatakan akan membahas secara intensif untuk mengoptimalkan kapasitas penumpang kapal.

“Kami akan intensifkan angkutan laut, bagaimananya nanti kami bahas lebih detail. Untuk tahun ini, laut relatif tidak ada masalah," sebut Budi.

Khusus untuk angkutan udara, Budi mengatakan tahun ini mengalami penurun sekitar 15 persen. Beberapa hal yang menjadi penyebab yakni penurunan jumlah pesawat serta faktor harga tiket.

“Untuk udara turun sekitar 15 persen dan penyebabnya adalah pengurangan jumlah pesawat. Saya dengar ada beberapa pesawat yang tidak dioperasikan selain pesawat max 8 yang tidak dioperasikan. Penyebab lainnya tentunya juga karena harga tiket,” tuturnya.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Layani 341 Penerbangan per Hari, Penjualan Avtur di Surabaya & Bali Naik Selama Lebaran


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler