Menhub Budi: Perubahan Tren Wisata Harus Direspons Semua Elemen

Kamis, 21 Oktober 2021 – 15:53 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi berbagai program Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang banyak memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi daerah dan pariwisata. 

Budi menjelaskan saat ini tren perjalanan wisata mengalami perubahan dari massal menjadi alternatif. 

BACA JUGA: Sandiaga Garap Desa Wisata Berbasis Kebencanaan Pertama di Indonesia

Menurutnya, tren ini mengarah para jenis kegiatan wisata yang berorientasi pada alam atau budaya lokal.

Dia menuturkan tren ini menjadi isu yang harus direspons bersama oleh semua elemen, termasuk instansi pemerintah atau kementerian/lembaga. 

BACA JUGA: Pengembangan Desa Wisata menjadi Kunci Membangun Fondasi Kekuatan Negara

Budi menjelaskan Kementerian Perhubungan telah menyusun serangkaian kebijaksanaan dan langkah konkret. 

Dia menyebutkan antara lain dukungan program dan kegiatan pengembangan infrastruktur untuk peningkatan konektivitas dan aksesibilitas dari dan menuju kawasan strategis pariwisata nasional, serta yang menghubungkan simpul-simpul transportasi menuju ke lokasi pariwisata di seluruh Indonesia. 

BACA JUGA: Hasto: Jadikan Desa Sebagai Orientasi Pengabdian PDI Perjuangan

“Dengan adanya keterhubungan simpul bandara, pelabuhan, terminal ataupun stasiun kereta api, akan menjadi lebih sempurna," kata Menhub Budi saat menjadi keynote speaker dalam webinar “Penganggaran Desa Wisata Perancangan Kebijakan Penganggaran Desa Wisata” di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (21/10). 

Budi menjelaskan Presiden Jokowi telah mengeluarkan kebijakan mendorong terwujudnya 10 Bali baru.

Dia menuturkan semua K/L harus bersinergi dan berkolaborasi mendukung sektor pariwisata secara masif. 

“Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama akan diwujudkan world class tourism destination, serta meningkatnya angka kunjungan ke destinasi wisata nasional serta peningkatan perekonomian masyarakat," ujarnya. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan provinsi yang dipimpinnya telah memiliki Peraturan Daerah (perda) tentang Pemberdayaan Desa Wisata. 

"Ini yang merangsang agar desa wisata bisa tumbuh,” kata Ganjar dalam webinar itu.

Sebab, lanjut Ganjar, dalam aturan itu ada strategi, penetapan, pengelolaan, dan lain sebagainya.

“Jadi, bagaimana agar kita bisa menyaring, maka kita punya tahapan. Mulai dari kelompok masyarakat, BUMDES, dan pihak lain yang melalui kades, lurah mereka mengusulkan bahwa desanya bisa menjadi desa wisata," kata Ganjar. 

Mantan wakil ketua Komisi II DPR itu pun menambahkan perlu kreativitas yang kontinu dalam membangun desa wisata tersebut. 

"Kita memang harus selalu kreatif, inovatif dan tak pernah berhenti dalam membangun desa wisata," ucap Ganjar. 

Sementara, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dalam kesempatan itu menguraikan best practises di wilayah Pulau Dewata. 

Oka mencontohkan Desa Ubud, yang hingga kini masih tetap eksis sebagai desa wisata tanpa meninggalkan aura tradisi dan kedesaannya. “Ini harus kita jaga, dan dalam menjaga ini perlu pembiayaan,” kata Oka.

Lebih lanjut Oka juga menjelaskan bahwa dengan segala keunikan dan daya tarik yang dapat diberdayakan serta dikembangkan, produk wisata akan dapat menarik wisatawan untuk datang ke desa tersebut. 

Oleh karena itu, kata Oka, harus jeli mengidentifikasi keunikan yang ada di desa. 

Sebab, kadang-kadang masih banyak yang tidak mampu melihat keunikan yang ada di desa. 

Setelah keunikan diidentifikasi, selanjutnya dilestarikan dengan menjaga dan memperbaiki. 

“Butuh sentuhan-sentuhan kecil sehingga keunikan ini menarik," paparnya. 

Selain itu, lanjut Oka, yang tidak kalah penting ialah berpikir terkait market atau pasar.  

“Apa, sih sebenarnya yang ingin kita tunjukkan ke orang lain,” kata dia. 

Oka mengingatkan apabila tidak memahami atau mengetahui secara jelas apa yang menjadi keunikan, maka dikhawatirkan akan terjadi pergeseran daya tarik. 

“Jadi, bukan daya tarik utama yang ingin kita jadi daya tarik, tetapi bergeser ke yang lain yang belum tentu masyarakat kita mengetahui atau memahami daya tarik yang baru itu. 

Nah, lanjut Oka, yang bisa terjadi kemudian dengan kondisi itu ialah masyarakat desa setempat akan hanya menjadi penonton ketika desa ini berkembang menjadi desa wisata. (boy/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler