Menilik Perjuangan Dokter Magang di Daerah Pedalaman, Terbanyak Pasien Jatuh dari Pohon

Senin, 16 November 2015 – 08:27 WIB
Dari kiri dokter Edwin, dokter Jackson dan dokter Fernando bersama seorang pasien balita di Puskesmas Dela, Pulau Rote, NTT. FOTO: ken/JAWAPOS/jpnn.com

DOKTER Dionisius Giri Samudra gugur saat menjalani program magang (internship) di Kepulauan Aru, Maluku. Meninggalnya sang dokter muda itupun membuka tabir kehidupan petugas medis di daerah pelosok dan pedalaman yang hidupnya serba sederhana. Medan yang berat dan tuntutan layanan 24 jam sering tidak diimbangi fasilitas serta gaji yang memadai.

Jawa Pos (Induk JPNN) mencoba menuju Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi di bagian paling selatan Indonesia itu cukup menantang. 

Keberangkatan kapal menuju pulau yang berbatasan dengan benua Australia itu tidak bisa dipastikan. Sangat bergantung pada kondisi cuaca dan pasang surut ombak.

Di Pulau Rote hanya ada satu rumah sakit, yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rote Ndao.

Pelayanan pengobatan lebih ke pelosok ditangani pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang tersebar di beberapa kecamatan. Salah satunya di Desa Dela, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao.

Jawa Pos yang menempuh perjalanan ke Puskesmas Dela jarang berpapasan dengan para pengendara lain. Yang justru banyak ditemui adalah hewan-hewan ternak seperti sapi, kambing, serta anjing yang berlalu-lalang di jalan utama. 

BACA JUGA: Dada Kiri Sang Pembobol Sel Tahanan Polrestabes Surabaya Jebol, Riwayatnya Tamat!

Nah, di tempat itulah tiga dokter lulusan Universitas Indonesia (UI), yakni dr Jackson Kamaruddin, dr Yohanes Edwin Budiman, dan dr Fernando Mickael Ringgo, menunaikan tugas magang.

Edwin yang berminat menjadi dokter spesialis jantung menuturkan, mayoritas pasien yang berobat di Puskemas Dela adalah korban kecelakaan. Mereka tidak sengaja menabrak hewan ternak saat malam. 

''Kan malam nggak ada lampu. Sebagian besar kasus kecelakaan di sini adalah antara motor atau mobil yang menabrak hewan,'' ungkapnya saat ditemui Jumat (13/11).

Fernando menambahkan, kasus-kasus penyakit pasien di Pulau Rote memang tergolong unik. Dokter 25 tahun itu menuturkan, selain kasus kecelakaan menabrak hewan, sering terjadi insiden orang jatuh dari pohon. Sudah tidak terhitung banyaknya pasien yang dibawa ke puskesmas karena akibat kegiatan memanjat pohon tersebut.

Usia pasien korban kecelakaan tersebut juga beragam. Bahkan, ada kakek-kakek berusia 60 tahun yang berobat karena jatuh dari pohon. ''Di sini warga suka banget panjat pohon. Orangnya memang juga kuat-kuat sih. Bahkan, sampai kakek-kakek mereka masih kuat memanjat pohon-pohon lontar itu,'' ujarnya.

Meski banyak kasus unik yang harus ditangani, Jackson dan teman-teman menyatakan bangga bisa mengabdi di pulau paling selatan Indonesia tersebut. Dokter 25 tahun itu bersama dua rekannya memang memilih NTT sebagai tujuan magang. 

BACA JUGA: Konflik PPP: Kubu Romy Dorong PK Putusan Kasasi MA

''Namun, kami sebenarnya memilih Ende. Eh, dapatnya sini,'' ungkap Jackson. Mereka pun harus menjalani program magang selama setahun, terhitung mulai Februari 2015 sampai Februari 2016. (ken/dod/idr/c5/kim)

BACA JUGA: Polisi Menembaki Prajuritnya, Panglima TNI Keluarkan Perintah Ini!

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tiongkok Klaim Kepulauan Natuna Miliknya, Begini Reaksi TNI


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler