Menkeu Optimis Pertumbuhan Ekonomi Tetap Tinggi

Meski Belanja Negara Dipangkas

Senin, 06 Februari 2012 – 03:03 WIB

JAKARTA - Menkeu Agus Martowardojo optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini masih dijaga sesuai proyeksi, meskipun akan terjadi pemangkasan anggaran akibat lonjakan harga minyak dunia. Menkeu mengatakan sektor riil akan tetap menjadi perhatian pemerintah untuk menopang perekonomian.

Pemangkasan anggaran akan dilakukan dalam APBN Perubahan yang pengajuannya akan dipercepat dari jadwal normal yang biasanya pada Juli. Pemotongan ini untuk merespons perubahan sejumlah asumsi makro, serta mengantisipasi tak terlaksananya kebijakan harga energi seperti kenaikan tarif tenaga listrik.

"Kalau kita melakukan APBNP, kita akan selalu menjaga kesehatan fiskal dan moneter kita. Kita akan menjaga sektor riil kita supaya bergerak terus supaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang 6,7 persen," kata Menkeu di kantornya akhir pekan lalu.

Dia menambahkan program jaring pengaman sosial juga bakal terus dijalankan. Sejumlah lembaga keuangan internasional telah merevisi target pertumbuhan ekonomi, termasuk untuk Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan beranjak dari kisaran 6,3-6,5 persen. Pertumbuhan ini terutama dipengaruhi perlambatan pertumbuhan ekspor yang mulai terlihat di pengujung tahun lalu.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, risiko resesi di Eropa patut diwaspadai. Ini karena akan berpengaruh signifikan terhadap ekspor Amerika dan Tiongkok. Namun, perlambatan ekspor tak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dia menunjuk data rasio ekspor Indonesia terhadap total output ekonomi atau Produk Domestik Bruto hanya 24,6 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan negara lain.

"Dampak negatif perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian nasional akan lebih kecil dibanding negara lain," kata Purbaya.

Menurut Purbaya, nilai impor juga akan terus meningkat. Ini menandakan peningkatan aktivitas aktivitas ekonomi domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sepanjang 2011 telah menembus USD 203,62 miliar atau tumbuh 29,05 persen. Namun dari bulan ke bulan, pertumbuhannya terus melambat.

Nilai Ekspor Desember 2011 mencapai USD 17,20 miliar atau turun 0,22 persen dibanding November. Dibandingkan Desember tahun lalu, nilai ekspor Desember hanya tumbuh 2,19 persen. Pertumbuhan ekspor memang terus melambat.

Pada September, ekspor masih tumbuh 46,28 persen, lalu melambat pada Oktober menjadi 16,70 persen. Pada November 2011 nilai ekspor hanya tumbuh 8,25 persen. (sof)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menkeu Minta Harga BBM Tak Dibatasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler