Menlu Retno Serukan Perubahan Paradigma Global demi Bangkitkan Pariwisata dan Ekonomi Digital

Rabu, 19 Oktober 2022 – 23:40 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ilustrasi Foto: Handout Kemlu RI

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menekankan pentingnya pariwisata dan ekonomi digital sebagai pilar untuk mempercepat pemulihan pascapandemi COVID-19.

Pernyataan itu didasarkan pada data bahwa pada semester pertama 2022, hampir setengah miliar wisatawan melakukan perjalanan internasional atau tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BACA JUGA: Berpidato di Amerika, Menlu Retno Kecam Negara-Negara Nuklir, Kalimatnya Menohok!

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) juga menyatakan pariwisata global telah hampir 60 persen pulih dari tingkat prapandemi.

“Namun, situasi geopolitik dan ekonomi yang tidak pasti berisiko menunda kembalinya (pariwisata global) ke tingkat sebelum pandemi. Sementara itu, manfaat penuh dari transformasi digital juga terhalang oleh kesenjangan digital yang semakin besar,” kata Retno dalam pembukaan Kongres ke-4 Indonesianis Sedunia, secara daring pada Rabu.

BACA JUGA: Menlu Retno Ingatkan Hutang Gerakan Non-Blok kepada Palestina

Dia menyebutkan bahwa saat ini, lebih dari 3,7 miliar orang yang sebagian besar di negara-negara kurang berkembang, kekurangan akses internet sehingga akses mereka ke ekonomi digital, pendidikan, dan perawatan kesehatan terhalang.

Guna merespons berbagai hambatan tersebut dan menghidupkan kembali sektor pariwisata serta ekonomi digital, Retno mengusulkan tiga upaya yang dapat dilakukan secara global.

BACA JUGA: Tantangan Non-Tradisional Mengancam Asia Tenggara, Menlu Retno Beri 3 Solusi

Pertama, mengubah paradigma global yang diwarnai persaingan dan proteksionisme. Situasi global saat ini disebut Retno tidak akan menguntungkan siapa pun.

Karena itu pada Sidang Majelis Umum ke-77 PBB, Menlu RI menyerukan kepada dunia untuk mengedepankan paradigma baru yang berdasarkan kerja sama saling menguntungkan, kolaborasi, dan keterlibatan.

“Kita tidak boleh membiarkan persaingan dan perpecahan mengalihkan perhatian dari memastikan penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” tutur dia.

Kedua, membangun dunia yang inklusif agar bisa menghadapi tantangan atau kesulitan apa pun, termasuk pandemi COVID.

Inklusivitas, kata Retno, adalah jiwa dari presidensi G20 Indonesia tahun ini dengan semangat melibatkan semua pihak di antaranya negara-negara Pasifik dan Karibia agar bisa menyuarakan keprihatinan mereka tentang isu global.

“Dengan semangat yang sama, G20 juga akan memastikan untuk membawa manfaat langsung bagi rakyat melalui kerja sama yang konkret,” ujar dia.

Selama presidensi G20 Indonesia, lebih dari 300 proposal proyek kerja sama dikurasi termasuk di sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan digital.

G20 juga telah membentuk Jaringan Inovasi Digital untuk mendukung pengembangan startup potensial.

“Indonesia mendesak semua pihak untuk terus berkolaborasi di tengah situasi sulit. Ini adalah dua visi yang menurut saya rekan-rekan Indonesianis akan berperan dalam menyuarakannya kepada khalayak yang lebih luas,” kata Retno. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler