Menpar Arief Yahya Siapkan 19 Calon Jawara untuk UNWTO Award

Selasa, 04 Oktober 2016 – 09:41 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya terus menggelorakan semangat calibration, confidence, credibility atau yang beken disebut Spirit 3C. Hal itu demi menjadikan Indonesia sebagai pemain kelas dunia di bidang pariwisata.

Arief mengonversikan semua lini ke standar global agar Indonesia siap bersaing dengan produk yang sama dari negara lain. Setiap tahun, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memilih dan mengusulkan destinasi ke United Nations World Tourism Organization (UN-WTO) atau lembaga PBB yang bergerak di sektor pariwisata dunia untuk dikalibrasi, ditandingkan dalam kategori yang sama.

BACA JUGA: Sampoerna: Konsumen Bisa Lari ke Rokok Ilegal

"Tahun lalu tiga yang kami bawa ke UN-WTO sukses semua. Banyuwangi mewakili local government, Pemuteran untuk NGO (non-governmental organization/LSM) yang pro-konservasi menghidupkan kembali terumbu karang dan CSR Garuda Indonesia-Coca Cola yang peduli kebersihan Pantai Kuta Bali. Semuanya juara!" ujar Arief di Jakarta.

Dampaknya pun terasa? Banyuwangi semakin hebat dalam mengelola daerah yang menjadikan pariwisata sebagai  core business.

BACA JUGA: Hingga Agustus 2016, Pemakaian Listrik Pelanggan Industri Tumbuh 10 Persen

“Banyuwangi makin confidence dengan menempatkan pariwisata sebagai leading sector. Para investor pun melirik daerah itu dipimpin oleh CEO (baca: Bupati Abdullah Azwar Anas) yang credible, maka arus investasi pun bergerak positif," kata Arief yang juga asli Banyuwangi.

Begitu pula dengan NGo Karang Lestari di Pemuteran Bali Utara. Saat ini teknologi yang digunakan untuk percepatan pertumbuhan terumbu karang sudah dipakai di banyak tempat dan semuanya berhasil.

BACA JUGA: Wow, BUMN Ini Raih Kontrak Baru Rp 21 Triliun

Teknologi itu juga diterapkan di Gili Trawangan, Lombok. "Dengan mengalirkan arus kecil ke terumbu karang yang ditanam di bawah laut, pertumbuhan bisa lima kali lebih cepat," ucapnya.

UNWTO Awards 2016 adalah penghargaan paling bergengsi di bidang pariwisata yang memiliki sistem penjurian sangat ketat. Saking ketatnya, tim juri UNWTO melakukan penilaian dengan cara on line streaming, atau tidak langsung bertemu saat presentasi.

Karena itu Arief Yahya membentuk tim pemenangan yang sudah bekerja untuk berkalibrasi dengan standar dunia.

“Penyiapan materi untuk pemenangan UNWTO Awards sudah kami lakukan hingga deadline 30 September 2016. Target kami, juara di tiap kategori,” ujar Ni Wayan Giri Adnyani, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, Senin (3/10).

Pengalaman tahun 2015 lalu memang menjadi guru terbaik. Di UNWTO Award for Innovation in Public Policy and Governance kategori Re-Inventing The Government in Tourism, Pemkab Banyuwangi terpilih menjadi yang terbaik.

Sementara untuk UNWTO Award for Innovation in Enterprises kategori Treetop Walking Path, gelar runner up menjadi milik Garuda Indonesia-Coca Cola dengan aksi Bali Beach Clean-up.

Satu gelar runner up lainnya adalah UNWTO Award for Innovation in Non-Governmental Organizations yang disabet Yayasan Karang Lestari. Kategori yang dimenangkan adalah Sisterhood of Survivors (SOS) Programme.

Saat itu, Yayasan Karang Lestari mengantongi gelar runner up lewat aksi Coral Reef Reborn.

Pencapaian ini menjadi istimewa mengingat sejak awal bergulirnya acara tersebut di 2013, Indonesia tidak pernah sekalipun mendapat gelar juara. Karenanya untuk 2016 ini, Kemenpar jauh lebih siap dan optimistis.

“Kalau 2015 kita bisa juara, kenapa di 2016 tidak bisa? Penghargaan ini akan menaikkan value Wonderful Indonesia. Jadi kami pasti all out mempersiapkan segala sesuatunya dengan standar dunia,” tambah Giri.

Lantas siapa saja jagoan di 2016 nanti? Ada berapa banyak amunisi yang sudah disiapkan Kemenpar untuk memenangkan gelar juara dunia?

“Totalnya ada 19 materi. Semua sudah mendapat konfirmasi kelengkapan persyaratan oleh pihak panita UNWTO Awards melalui email,” terang Giri.

Untuk Innovation  in Public  Policy &  Governance, Kemenpar sudah menyiapkan tiga jagoan. Yang pertama, Pemda DKI dengan tema New Jakarta Tourism. Nomor duanya Batu di Jawa Timur dengan tema New Hope for Batu. Satunya lagi Bintan dengan tema Bintan Breathtaking Journey.

Di Innovation in Enterprises, ada enam jagoan yang sudah disiapkan. Garuda Indonesia dengan program Wonderful Indonesia Travel Pass sudah dinyatakan layak untuk mendapatkan penilaian.

Selain itu, ada juga Garuda Indonesia – Gift for Teacher, Nihiwatu Resort – Nihiwatu, Ijen Resort – Ijen Community Involvement Resort, Sully Resort – Sully Edu Resort serta Taman Nusa – The Indonesian Cultural Park: “See Indonesia in One Afternoon”. Semuanya juga dinilai sangat layak untuk ditampilkan di penghargaan kelas dunia.

Untuk Innovation in Non-Govermental  Organization, ada lima jagoan yang sudah disiapkan. Gunung Nglanggeran, Yogyakarta - Nglangeran Edu Village for tourism ada di urutan teratas.

Setelah itu, ada Desa Wisata Lekuk  5 Tumbi Lempur,  Kerinci, Jambi -  Lake Kaco, new local wisdom eco tourism, Kelompok Nelayan  Rumah Apung  Desa Brangsing,  Banyuwangi - Fisherman and the act for biodiversity program, Travel Sparks – Travel with cause, serta Yayasan Bali Global yang siap adu ketangguhan dengan perwakilan dari  154 negara, 7 wilayah, dan lebih dari 400 anggota afiliasi yang mewakili sektor swasta, lembaga pemerintahan, dan otoritas pariwisata lokal.

Di Innovation in Research & Technology, Kementerian Pariwisata bakal mengandalkan Yogya Kampung  Cyber - Cyber City village, Bali Go Live - Bali Official Video Channel dan ITDC – ITDC Lagoon. Ketiganya diyakini sangat mumpuni di kategori inovasi riset dan teknologi.

Satu kategori lain yang ikut diincar adalah Ethic Awards. Di kategori ini, Kementerian Pariwisata akan mengandalkan Sol Beach House Benoa Bali – Your House on The Beach dan Griya Santrian – Griya Santrian.

“Kita berusaha! Kita berkompetisi dengan cara yang sehat dan fair. Pada semua kegiatan travel mart, festival, dan berbagai kompetisi yang digelar lembaga-lembaga terpercaya, seperti UNWTO, WTTC WEF, ASEANTA, PATA dan lainnya, kita sudah sering juara. Jadi di UNWTO Award 2016, semua jagoan tadi kita dorong habis-habisan,” jelas Giri.

Ngototnya Giri tadi bukan tanpa sebab. Dampak dari international award terbilang sangat besar.

Tengok saja Lombok. Setelah Lombok menyabet dua gelar juara dunia di Halal Tourism Award Abu Dhabi 2015, pulau di sebelah timur Bali itu menjadi sangat bergairah.

Hotel Sofyan Betawi yang juga sukses merebut World Best Halal Hotel Award 2015 juga ikutan semringah. Atmosfer bisnis dan suasana industri perhotelan, restoran, biro perjalanan, dan semua usaha yang berbasis pada pariwisata mulai hidup.

“Jadi ini juga bisa dijadikan cantolan untuk menggerakaan roda perekonomian dan menggaet wisman lebih banyak,” ucap Giri.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rokok Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler