Menperin Sebut Sojitz Tertarik Kembangkan Metanol dan Amoniak di Teluk Bintuni

Sabtu, 13 Maret 2021 – 15:18 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Sojitz berminat kembangkan metanol di Teluk Bintuni. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, TOKYO - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, meningkatnya kebutuhan industri hilir membuat Sojitz tertarik mengembangkan metanol dan amoniak di Kawasan Industri Teluk Bintuni.

"Akan menyerap investasi sekitar USD 5 miliar, ” ujar Menperin di Tokyo, melalui keterangan tertulis yang diterima Sabtu (13/3).

BACA JUGA: Kemenperin: Industri Kosmetik Tumbuh Signifikan, Capai 3,39 Persen

Pada pertemuan dengan Presiden dan CEO Sojitz Corporation Fujimoto Masayoshi, Agus menjelaskan, proyek Bintuni masuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga akan memperoleh kemudahan serta berbagai insentif dari pemerintah.

“Proyek petrokimia di Teluk Bintuni akan menjadi yang terbesar dengan luas sekitar 2.000 hektare. Kami akan membahasnya lebih lanjut pada kunjungan selanjutnya di bulan Mei mendatang,” jelas dia.

BACA JUGA: Kemenperin: Produksi Sabun Picu Pertumbuhan Industri Kosmetik

Menurut Agus, bisnis Sojitz Corporation di Indonesia meliputi perusahaan Kaltim Methanol Industri (KMI) di Bontang, Kalimantan Timur.

Perusahaan itu, kata dia, merupakan satu-satunya produsen metanol di Indonesia yang berkapasitas produksi 660 ribu metrics ton per tahun.

“Dengan kebutuhan metanol di dalam negeri yang mencapai sekitar dua juta ton, pembangunan pabrik metanol baru amat dibutuhkan,” kata Agus.

Hal itu, sambung Agus, karena bahan baku metanol sangat dibutuhkan, antara lain dalam industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood.

Metanol juga sangat berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas.

Selain itu, Agus berujar, metanol juga merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan biodiesel.

“Di tahun 2020, permintaan akan metanol juga meningkat dengan penerapan mandatory biodiesel B30,” ujar Agus.

Dia memaparkan, guna merealisasikan proyek pembangunan pabrik metanol kedua itu, diperlukan dukungan penuh kedua Pemerintah dalam pengembangan industri petrokimia di Bintuni.

Kawasan industri ini dikembangkan secara multiyear dengan menggunakan KPBU (Kerja sama Pemerintah Badan Usaha).

Pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut ditargetkan bisa dilaksanakan pada tahun ini dan dilanjutkan pembangunan pabrik-pabrik pada 2022.

"Sehingga tenant bisa mulai berproduksi pada 2024," kata dia.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mengundang Sojitz untuk berinvestasi pada industri soda ash sebagai hilirisasi dari ammonia, di samping sebagai pengurangan emisi CO2 pada pembakaran batubara yang akan dikembangkan oleh Sojitz.

“Pemerintah akan memberikan insentif tertentu bagi industri pioner seperti soda ash,” kata dia.

Seperti diketahui, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Duta Besar RI di Jepang, Heri Akhmadi bertemu dengan perusahaan industri kimia Sojitz Corporation untuk membahas pengembangan industri metanol di Indonesia. Lawatan tersebut dalam rangka kunjungan kerja ke Tokyo.


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler