Menteri LHK: Pusat Gambut, Dari Indonesia untuk Dunia

Senin, 29 Oktober 2018 – 23:33 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Foto: Humas KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia konsisten menjawab tantangan untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut. Selain melakukan langkah koreksi kebijakan, kini Indonesia memiliki International Tropical Peatland Centre atau Pusat Lahan Gambut Tropis Internasional (ITPC) di Bogor.

ITPC merupakan inisiatif Menteri LHK Siti Nurbaya, sebagai tempat rujukan informasi dan pusat pengetahuan berbagai negara di dunia dalam tata kelola gambut. Peresmiannya akan dilakukan Selasa besok (30/10) di Manggala Wanabhakti, Jakarta.

BACA JUGA: Menteri LH Sedunia Berkumpul di Indonesia, Ini Targetnya

Menteri Lingkungan Hidup dari negara kaya gambut tropis lainnya, Republik Kongo, dan Direktur eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Erik Solheim, dipastikan ikut hadir. Selain perwakilan instansi pemerintah, mitra internasional, sektor swasta, masyarakat sipil dan media.

"Pusat ekosistem gambut tropis ini akan menjadi tempat belajar bagi negara lain yang ingin mengetahui tentang wilayah gambut tropis dan bagaimana merestorasi, serta merawat gambut tropis bagi kepentingan masa depan lingkungan hidup dunia," kata Menteri Siti dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/10).

BACA JUGA: KLHK Serahkan Sertifikat Cagar Biosfer Kapuas Hulu  

Selama ini, kata Menteri Siti, Indonesia memiliki banyak sekali hasil riset mengenai gambut. Nantinya riset-riset tersebut akan ditampilkan di pusat ekosistem gambut tropis tersebut.
Inisiatif tata kelola gambut Indonesia, ditegaskan Menteri Siti, datang dari Presiden Joko Widodo. Inisiatif lainnya dari Presiden dan Wapres, adalah dengan mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG).

BACA JUGA: Lihat Nih Aksi Menteri LH Kongo Pelajari Gambut Indonesia

"Arahan Presiden dan Wapres, tata kelola gambut harus bisa diterima secara internasional, dan berkelas dunia. Makanya kemudian kita rancang struktur organisasi BRG yang seperti sekarang," kata Menteri Siti.

BRG harus berkonsentrsi pada tata kelola air, operation dan maintenance infrastruktur kanal gambut. Selain itu riset internasional, serta dalam hubungan dan dukungan internasional. Bukan badan yang 'gemuk ke bawah' sampai ke daerah-daerah.

"Karena kalau kegiatan pengelolaan lahan dan kawasan sebetulnya sudah terbagi habis di tugas-tugas sektoral. Kita tidak bermaksud mengeluarkan gambut dari kawasan," kata Menteri Siti.

Jadi pendekatan terbentuknya BRG di Indonesia, juga harus dipahami semua pihak dengan baik. Karenanya Menteri Siti juga sangat bersyukur, pada akhirnya dapat merealisasikan Pusat Gambut Tropis Internasional yang bisa menjadi rujukan pengetahuan bagi dunia. "Kita akan pakai gedung KLHK yang saat ini sedang dipakai oleh CIFOR, dan CIFOR akan mendampingi perintisan Pusat gambut internasional ini," tutup Menteri Siti.

Badan Pengembangan dan Inovasi Penelitian Kehutanan dan Lingkungan Indonesia (FOERDIA) bersama dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) di Bogor akan berfungsi sebagai tuan rumah bagi sekretariat ITPC sementara.

Pemerintah Indonesia juga mengundang negara-negara gambut tropis lainnya, mitra sumber daya serta ilmuwan, pembangunan, dan kolaborator lain untuk bergabung dengan ITPC dalam meningkatkan pengetahuan dan melindungi melalui ekosistem di lingkungan kita bersama.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KLHK Selidiki Unggahan Foto Kijang Mati di Media Sosial


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler