Menunggu Seminggu, Akhirnya Air Bersih Datang juga

Rabu, 25 Juli 2018 – 13:12 WIB
Bantuan air bersih di wilayah yang mengalami bencana kekeringan. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, BANDUNGAN - Setelah menunggu lebih dari seminggu, ratusan kepala keluarga (KK) warga di Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu, Nganjuk Jatim akhirnya bisa mendapat air bersih

Kemarin badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) mengirim belasan ribu liter air bersih untuk mereka.

BACA JUGA: Polisi Turun Tangan Salurkan Air di Area Bencana Kekeringan

Antrean jeriken dan timba pun langsung terlihat di sejumlah tandon yang kemarin siang diisi air.

Satu unit truk tangki BPBD Nganjuk tiba di Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu, sekitar pukul 08.30. Truk berkapasitas 5.000 liter itu langsung menuju Dusun Puncu dan Glidah yang mengalami kekeringan.

BACA JUGA: 23 Kabupaten Diprediksi Dilanda Bencana Kekeringan

Sejumlah tandon di lingkungan warga langsung diisi penuh. Selebihnya, truk tangki juga berhenti di titik perkumpulan warga yang sudah mengantrekan jeriken dan timba mereka.

Warga langsung menampung air dari truk karena tandon di lingkungan mereka rusak. Hingga pukul 13.00 kemarin, total ada 15 ribu liter air yang disalurkan ke dua dusun tersebut.

BACA JUGA: Waspada! 45 Desa Rawan Kekeringan

''Truk tangki harus bolak-balik sampai tiga kali,'' kata Kepala Pelaksana BPBD Nganjuk Soekonjono.

Lebih jauh, Soeko mengatakan, BPBD sudah menyiapkan anggaran Rp 100 juta untuk menghadapi kekeringan tahun ini. Selain Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu, BPBD sudah memetakan total sembilan desa yang rawan terkena kekeringan.

Sesuai dengan rencana, Dusun Puncu dan Glidah akan didrop air dua hari sekali. Pengiriman air terus dilakukan hingga musim hujan nanti. ''Selagi ada usulan dari desa dan kecamatan, akan kami kirim air bersih,'' lanjut Soeko.

Bagaimana jika anggaran dropping air BPBD nanti kurang? Ditanya demikian, Soeko menyebut penanggulangan bencana kekeringan bisa menggunakan anggaran belanja tak terduga. ''Tidak usah khawatir,'' lanjutnya.

Sementara itu, kiriman air bersih ke Dusun Puncu dan Glidah kemarin disambut gembira oleh warga. Mereka rela mengantre agar jeriken dan timba bisa penuh terisi air.

Bahkan, mereka rela bolak-balik mengambil air agar punya stok untuk dua hari ke depan. ''Tadi bawa dua jeriken dan dua ember,'' kata Darsih, 55, warga Dusun Puncu, Desa Gampeng, lantas tersenyum senang.

Lebih jauh, Darsih mengatakan, warga Dusun Puncu menunggu bantuan air bersih sejak seminggu terakhir.

Pasalnya, air sumur warga mulai mengering. Walaupun masih ada air di sumur, kondisinya sudah keruh karena dangkal. Karena itu, air sumur tidak layak lagi dikonsumsi.

Sebagai gantinya, mereka harus mencari air ke tengah sawah atau sumber di hutan. Jaraknya sekitar 500 meter dari permukiman penduduk.

''Ini (air, Red) bisa untuk kebutuhan sampai tiga hari. Hanya untuk memasak dan minum,'' lanjutnya.

Untuk mandi dan mencuci pakaian, warga tetap harus mencari air ke tengah sawah atau sumber terdekat.

''Kekeringan paling parah biasanya September nanti. Sumur benar-benar kering,'' terang Darsih yang berharap dropping air bisa terus dilakukan hingga musim hujan nanti. (rq/ut/c19/end/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Seribu Sumur Disiapkan Atasi Bencana Kekeringan


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler