Merespons Program Social Healing dari Yayasan Erick Thohir, Evi Kusnandar Bilang Begini

Kamis, 24 Februari 2022 – 19:35 WIB
Fasilitas publik yang dibangun Yayasan Erick Thohir. Ilustrasi. Foto: Dok Yayasan Erick Thohir

jpnn.com, JAKARTA - Pemerhati sosial asal Bengkulu Evi Kusnandar mengatakan program social healing oleh Yayasan Erick Thohir memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dirasakan langsung manfaatnya di saat bangsa ini menghadapi pandemi Covid-19.

“Sekecil apapun kegiatannya, ketika dilaksanakan dengan keikhlasan semata untuk membantu masyarakat yang tengah kesusahan menghadapi Covid-19, itu tentu membawa manfaat yang baik,” kata Evi, Kamis (24/2/2022).

BACA JUGA: Yayasan Erick Thohir Benahi 850 Fasilitas Publik di Sumatera Hingga Jakarta

Program social healing yang diselenggarakan Yayasan Erick Thohir telah dijalankan di 520 desa atau kelurahan yang tersebar di 8 provinsi di Sumatra. Yakni Propinsi Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Utara.

Program social healing kemudian juga digelar di Pulau Jawa. Di Propinsi Jawa Barat misalnya, Yayasan Erick Thohir menargetkan 1.000 titik.

BACA JUGA: Social Healing, Yayasan Erick Thohir Sulap Pos Serbaguna Jadi Taman Bermain

Menurut Evi, program social healing yang dilakukan dengan membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat.

Evi berharap pendampingan ke depan diperluas jangkauannya dan dilaksanakan dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. 

BACA JUGA: Social Healing Ala Yayasan Erick Tohir Siap Lahirkan Juara Voli

“Dengan menyesuaikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, pendampingan akan lebih mengena. Saya dengar juga bahwa pendampingan itu dananya dari kantong pribadi Pak Erick Thohir,” kata Evi yang juga pengurus KNPI Bengkulu.

Nilai plus dari kegiatan yang digerakkan melalui tim bernama E-Troopers dan pelaksanaannya melibatkan masyarakat setempat, lanjut dia, juga menumbuhkan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat gotong royong.

Sesuatu yang memang menjadi kultur masyarakat Indonesia, namun belakangan terus tergerus oleh perubahan zaman.

Menurut Evi, kegiatan yang dilakukan Yayasan Erick Thohir ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

“Karena apa? Mendampingi masyarakat dengan memberikan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat banyak, tetapi juga sekaligus menjaga, menumbuhkan dan melestarikan semangat gotong-royong," ujar Evi Kusnandar.

Alumnuns Universitas Ratu Samban Bengkulu itu menambahkan jika saat ini menanamkan semangat gotong-royong itu terasa sangat mahal harganya.

Sebab, lebih banyak orang yang mengedepankan egonya atau bersikap individualis dengan lingkungan sekitar.

"Social healing turut memberikan edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya kebersamaan dalam melaksanakan suatu kegiatan," kata Evi Kusnandar.

Diketahui, Program social healing Yayasan Erick Thohir merupakan amanat ayahnya Muhammad Thohir sebelum menghembuskan napas terakhir pada 2016.

Saat itu, ayahnya berpesan kepada Erick untuk membantu masyarakat karena dulu ayahnya saat melewati masa sulit juga dibantu oleh orang lain.

Atas pesan dan amanah ayahnya itulah Erick Thohir menjalankan program social healing selama pandemi. 

Erick menyatakan dana yang digunakan adalah dana pribadi miliknya yang halal dari rezeki yang didapatkannya selama berkecimpung di dunia usaha sebelum menjadi Menteri BUMN.(fri/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler