Merta Pudak Wangi, Jenama Dupa Bali Tembus Pasar Luar Negeri

Sabtu, 18 November 2023 – 07:53 WIB
Owner Dupa Merta Pudak Wangi, Ni Made Rini Wahyuni, menunjukkan hasil produksi dupanya yang dipasarkan via media sosial. Foto: Source for JPNN.

jpnn.com, BALI - Perempuan hampir paruh baya itu tengah sibuk mengemas dupa.

Sekumpulan batang dupa dia masukkan ke dalam sebungkus plastik.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Berkemah di IKN Nusantara, Ritual Adat, Kaltim pakai Dupa, Kembang, Telur

Bungkusan dupa itu lalu dipajang di etalase yang dulunya adalah ruang tamu rumahnya.

Beberapa bungkus lainnya ditata rapi ke dalam kardus.

BACA JUGA: Ashanty Ancam Akan Polisikan Pengirim Dupa di Restorannya

"Ada yang dijual eceran dan kardusan," ujar Ni Made Rini Wahyuni mengawali obrolan saat JPNN.com tiba di rumahnya, Perum Surya Graha Lestari Blok J No. 3, Manikyang, Tabanan, Bali, awal pekan lalu.

Rumah Wahyuni kini dijadikan sentra produksi sekaligus toko dupa yang diberi jenama Merta Pudak Wangi.

BACA JUGA: Pelaku UMKM Balikpapan Ingin Indonesia Dipimpin Airlangga

"Produksinya setiap Sabtu dan Minggu. Makanya hari ini sibuk mengemasi," tutur perempuan 38 tahun ini.

Bu Ade -sapaan akrabnya- melanjutkan, ada lima orang karyawan yang ikut membantu memproduksi plus jualan.

"Selain gaji, kita berikan bonus hasil penjualan," ungkapnya.

Membuat dupa, kata dia, sebenarnya tidak rumit, cukup sederhana. Yang penting semua bahan tersedia, dupa bisa diproduksi oleh siapa saja.

Bahan yang dipakai pun hampir semua sama, seperti serbuk kayu, ampas jahe plus rempah-rempah jenis gaharu, cendana, kelor, moringa, kayu manis dan lain sebagainya.

Hanya saja, yang membedakan dupa produk Merta Pudak Wangi dengan jenama yang lain adalah hasil akhir.

"Dupa yang saya produksi tidak memakai bahan kimia, seperti metanol," ungkap ibu tiga anak ini.

Ada juga dupa yang diproduksi tanpa memakai batang bambu, terutama untuk jenis aroma terapi.

"Jadi, aromanya lebih lembut, tidak wangi strong seperti yang di pasaran," ujarnya.

Dalam seminggu, Bu Ade kini memproduksi minimal 100 dus, setara 3 ton dupa.

Selain di Bali sebagai sarana sembahyang umat Hindu, dupa Merta Pudak Wangi juga dikirim ke Jawa Timur, Lampung, Kalimantan dan Sulawesi.

Bahkan dua tahun terakhir, pesanan dupa rutin datang dari Malaysia, Singapura dan Maladewa.

"Bulan kemarin kirim ke Malaysia," ungkap Bu Ade.

Dia mengungkapkan, pesanan dari luar Bali dan luar negeri berdatangan setelah rajin menawarkan dupa Merta Pudak Wangi di berbagai marketplace populer, mulai Instagram, Tokopedia dan Shopee.

Bu Ade pun memutuskan berlangganan IndiHome.

Internet dari PT Telkom Indonesia Tbk itu selain untuk mendukung usaha online, juga bisa digunakan untuk keluarganya.

"Dulu beli paketean biasa dan kadang pinjam wifi tetangga pas quota paket internet habis. Tapi beli paket lima orang jatuhnya malah lebih mahal," ujar mantan perawat di rumah sakit internasional ini.

Penjualan makin di atas angin sejak TikTok Shop beroperasi 2021 silam. Dia sampai menyewa dua host untuk mempromosikan dan menjual dupa Merta Pudak Wangi.

Di akun TikTok miliknya, Bu Ade telah memiliki followers di atas 50 ribu, baik dupa Sukla Bali maupun Bali Tutur.

Sementara itu, di Instagram baru 1.500 pengikut.

Namun, sejak Tiktok Shop resmi dilarang beroperasi di Indonesia awal bulan lalu, Bu Adek mengakui penghasilannya dari usaha jualan dupa turun cukup drastis.

"Namun, saya tidak menyerah. Tidak ada dalam kamus UMKM pasrah. Saya sudah hadirkan strategi baru. Sudah terlanjur nyaman dengan usaha ini," tuturnya. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anggota DPR Sebut Ajang G20 Bikin Pelaku UMKM Bali Naik Kelas


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler