Mesuji Rusuh, Pemerintah Dituding Lamban

Senin, 27 Februari 2012 – 12:54 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi III DPR, Ahmad Yani menuding pemerintah sangat lamban menyelesaikan permasalahan di Mesuji Lampung, hingga rusuh kembali terjadi. Menurut Yani, lambannya sikap pemerintah dalam mengatasi persoalan di Mesuji semakin menimbulkan berbagai persoalan baru lantaran rakyat sudah terlalu lama menunggu.

"Semua ini bisa bermunculan terus-menerus dengan sedikit disinformasi bisa terjadi. Karena pemerintah begitu lambat. Rakyat juga sudah terlalu lama menunggu," kata Ahmad Yani, di Jakarta, Senin (27/2).

Karenanya, Yani mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkrit dan terukur dalam menyelesaikan permasalahan di Mesuji itu. "Tenggat waktu penyelesaian permasalahan juga harus jelas. Misalnya tiga bulan, empat bulan, lima bulan," kata dia.

Dia mencontohkan, jika pemerintah ingin mengevaluasi PT BSMI, maka harus segera dilakukan evaluasi seperti perizinan dan lainnya. "Kalau misal  harus dikembalikan kepada rakyat, bagaimana mekanismenya harus jelas. Apakah harus menjadi kawasan unggulan. Tidak hanya plasma inti. Karena plasma inti itu selalu terpinggirkan," jelasnya.

Ditanya meledaknya kerusuhan di Mesuji ini apakah dipicu lemahnya intelijen, Yani menegaskan hal itu bisa saja terjadi. "Bisa juga seperti itu. Tapi, ini memang api di bawah sekam. Cepat sekali reaksinya.  Apalagi dengan kasus di daerah tetangganya sudah ada intruski gubernurnya mengosongkan wilayah. Itu berdekatan," ujarnya lagi.

"Dan ditambah ada informasi aparat mau masuk, mereka langsung seperti itu. Padahal itu tidak masuk akal kita karena wilayah itu sudah dikuasai secara de facto oleh rakyat. Perusahaan kan suadah tidak ada lagi di sana," kata Yani.

Namun, ketika disinggung apakah kerusuhan itu menunjukkan lemahnya kinerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah, Yani enggan berkomentar. "TGPF itu urusan pemerintah. Pemerintah harus ambil langkah-langkah tegas," ujar dia.(boy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... KPK Telaah Laporan Rosa

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler