Militer Amerika Jauh Lebih Kuat, Tetapi Iran Punya Teknologi Mematikan

Rabu, 26 Juni 2019 – 04:35 WIB
Pasukan Garda Revolusi Iran. Foto: Reuters

jpnn.com - Kamis lalu (20/6) bisa saja menjadi titik awal konflik bersenjata AS melawan Iran. Setelah saling lempar sindiran, ancaman, dan serangan lokal, Presiden AS Donald Trump hampir saja memberangkatkan pesawat pengebom ke wilayah Iran. Perintah itu dianulir 10 menit kemudian. 

Beberapa jam sebelumnya, pesawat drone mereka, RQ-4 Global Hawk, ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara. "Setelah itu, saya tanya berapa yang akan mati (pasca serangan ke Iran, Red). Seorang jenderal menjawab ada 150 orang," ungkap Trump lewat akun Twitter-nya.

BACA JUGA: Minyak Bumi, Bahan Bakar Konflik AS Vs Iran

Saat itu Trump langsung melepaskan jari dari pelatuk. Dengan santai, dia mengira bahwa serangan balasan AS tak berimbang. Toh, yang dijatuhkan Iran merupakan pesawat tanpa awak. Tak ada jiwa yang gugur.

"Saya merasa tak perlu buru-buru. Militer AS adalah yang terbaik di dunia," imbuh ayah Ivanka itu menurut Daily Express.

BACA JUGA: Iran Klaim Gagalkan 33 Juta Serangan Siber AS

BACA JUGA: Iran Klaim Gagalkan 33 Juta Serangan Siber AS

Soal rugi, tentu Pentagon sangat kehilangan. Menurut Agence France-Presse, Global Hawk adalah salah satu drone termahal di dunia. Satu unit bernilai USD 120 juta (Rp 1,6 triliun). Tapi, serangan petang di negara yang dipimpin Hassan Rouhani itu bisa berujung ke sesuatu yang lebih genting.

BACA JUGA: Amerika Serikat dan Swedia Tembus 8 Besar Piala Dunia Wanita 2019

Beberapa kantor berita mengungkapkan bahwa konflik Iran dan AS bisa menjadi benih perang dunia ketiga. Beberapa lainnya menganggap prediksi itu berlebihan. Namun, politikus AS mengaku khawatir jika memang perang dunia terjadi. Pasalnya, Trump sudah menyinggung banyak negara dalam 2,5 tahun masa jabatan presiden.

"Dia menganggap pekerjaannya sekarang sama dengan reality show The Apprentice. Dia seakan tak tahu dampak keputusannya terhadap dunia," kata senator Republik Bob Corker.

Kubu oposisi merasa jauh lebih buruk. Jantung Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi hampir berhenti ketika tahu AS hampir saja melakukan agresi militer. Dia sampai memuji Trump yang masih mempertahankan kepala dingin. Sebagai pentolan Demokrat, Pelosi hampir tak pernah memuji suami Melania tersebut itu. "Saya tidak mendapatkan informasi tentang rencana serangan tersebut," ungkapnya.

Tak ada yang tahu apa benar perang global bakal terjadi saat AS melakukan agresi. Namun, banyak yang menekankan bahwa konflik tersebut pasti menyeret kubu lain. Setidaknya, negara-negara di Timur Tengah.

Jika dibandingkan apple-to-apple, kekuatan militer Iran kalah jauh dari AS. Satu-satunya kelebihan adalah lokasi peperangan dan jumlah tentara. Iran punya lebih dari 700 ribu tentara. Itu belum termasuk personel Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang mencapai 125 ribu.

Tentu, desas-desus yang beredar, Iran punya teknologi yang bisa mematikan. Pakar geopolitik Brandon Weichert mengatakan, Iran punya senjata gelombang elektromagnetik (EMP). "Senjata itu bisa melumpuhkan kekuatan AS sebelum mereka menyerang," ungkapnya.

Iran sudah menegaskan bahwa pihaknya tak mencari masalah. Mereka merilis bukti tak menembak jatuh Navy P-8A Poseidon yang terbang tak jauh dari Global Hawk. Alasannya, pesawat tersebut pasti memuat awak, sedangkan Iran tak ingin jatuh korban jiwa. "Tujuan kami hanyalah memperingatkan AS," ujar Amir Ali Hajizadeh, komandan IRGC.

Di saat yang sama, pemerintah Rouhani juga memamerkan taring. Mereka mengatakan bahwa militer siap merespons jika AS benar-benar melakukan serangan. "Serangan apa pun pasti akan berdampak secara regional atau internasional," ucap Seyed Sajjadpour, wakil menteri luar negeri, kepada BBC.

Pertanyaannya, seberapa dekat kita dengan perang Iran-AS? Banyak pakar yang merasa bahwa itu tidak jauh. Menurut Kepala International Crisis Group Rob Malley, alasan utama Trump membatalkan serangan itu adalah perhitungan anggaran. Ya, sang taipan memang sering mendahulukan keuntungan daripada yang lain.

Dalam kampanyenya, dia berjanji memulangkan tentara di luar negeri yang menghambur-hamburkan anggaran serta menyiksa kerabat. "Jadi, dua instingnya bertabrakan. Satu bilang bahwa perang berkepanjangan bakal menguras kantong AS. Satu lagi bilang bahwa AS tak bisa diperlakukan seenaknya," ungkap Malley yang jadi penasihat keamanan Gedung Putih di era Barack Obama.

Di sisi lain, sikap Trump justru bakal memancing kubu radikal Iran untuk bersikap lebih keras. Mereka bakal menyimpulkan bahwa Trump hanya pandai menggertak. Dengan begitu, mereka bakal melakukan serangan yang lebih besar.

"Benak oknum Iran bakal berkata, 'Lihat! Trump tak mau berperang, ayo kita tekan lebih jauh'," ujar Aniseh Bassiri Tabrizi, peneliti di Royal United Services Institute. (M. Salsabyl Ad'n/c10/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... FedEx Ogah Kirim HP Huawei


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler