MIRIS! Ini Penyebab Harga Barang Melonjak Drastis

Sabtu, 07 Mei 2016 – 03:27 WIB
Ketua KPPU, Syarkawi Rauf dan Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU Surabaya, Aru Armando saat diskusi bersama jurnalis di NTT dengan tema ‘Persaingan Usaha untuk Meningkatkan Perekonomian Daerah’. Diskusi ini difasilitasi oleh PWI NTT. FOTO: Timor Express/JPNN.com

jpnn.com - KUPANG – Masyarakat pasti pernah merasakan harga barang atau komoditas tertentu melonjak drastis dalam kurun waktu yang cukup lama. Misalnya, bawang merah, daging sapi, daging ayam ras, telur, dan lain sebagainya.

Padahal ketersediaan komoditas-komoditas tersebut cukup aman. Rupanya, fenomena semacam ini dipengaruhi oleh praktik monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat.

BACA JUGA: Jelang Lebaran, Ini Jenis Mobil Bekas yang Laris Manis

Fakta miris yang sama sekali tidak dipahami masyarakat NTT selaku konsumen, akhirnya diungkapkan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Pasalnya, komisi ini mempunyai tugas ganda, selain untuk menciptakan ketertiban dalam persaingan usaha, juga untuk menciptakan dan memelihara iklim persaingan usaha yang kondusif.

Pada awal pekan ini, Ketua KPPU, Syarkawi Rauf dan Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU Surabaya, Aru Armando berkesempatan untuk berdiskusi dengan jurnalis di NTT terkait persoalan ini.

BACA JUGA: Traffic Komunikasi Melonjak, YLKI: Operator Lalai!!

Diskusi yang difasilitasi PWI NTT ini mengangkat tema ‘Persaingan Usaha untuk Meningkatkan Perekonomian Daerah’. Ikut hadir Ketua PWI NTT, Dion D.B Putra dan Sekretaris PWI, Zacky Wahyudi F serta puluhan wartawan.

Syarkawi Rauf menjelaskan, harga komoditas pangan dan harga barang lainnya bisa menjadi sangat mahal karena ulah kartel. Kartel adalah kelompok para pelaku usaha yang membuat perjanjian atau kesepakatan berupa pengaturan harga, pengaturan wilayah pemasaran untuk membatasi suplai dan kompetisi, menahan atau menimbun barang. Praktek kartel sangat merugikan konsumen, juga pelaku usaha. Dan potensi terjadinya kartel di NTT juga sangat tinggi.

BACA JUGA: Long Weekend, Penumpang Citilink Hampir Capai 100 persen

“Memang hukum pasar itu kalau permintaannya banyak, maka harga barang naik. Tetapi ketika harga melonjak drastis dan stok barangnya ternyata aman, ini yang perlu kita curigai. Pasti ada kartel yang bermain,” ujarnya seperti dilansir Timor Express (JPNN Group).

Terkait persaingan pasar bebas antara Timor Leste dan NTT (Indonesia), Syarkawi mengaku hal tersebut juga menjadi konsentrasi KPPU saat ini, mengingat perdagangan di Kupang dan Timor Leste menjadi daya tarik tersendiri untuk diteliti.

Sebab harga barang di Kupang harusnya lebih murah. Sedangkan harga barang di Timor Leste lebih mahal, karena produsennya kurang.

“Yang justru terjadi malah sebaliknya. Harga barang di NTT menjadi lebih mahal karena terpengaruh oleh permintaan dari Timor Leste yang juga begitu besar. Paling tidak kita akan melakukan penelitian terhadap hal ini,” katanya.(JPG/r2)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Turis Tiongkok dan Jepang Ramai Kunjungi Jatim


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler