Misteri Salam Merdeka Ala Bung Karno

Selasa, 01 September 2015 – 08:30 WIB
Bung Karno mengucap salam merdeka. Foto: Istimewa

jpnn.com - TUJUH puluh tahun yang lalu, persisnya 1 September 1945, Bung Karno menetapkan salam merdeka. Bukan dengan tinju mengepal, melainkan tangan terbuka.

"Pada 1 September 1945," kata Bung Karno, sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, "aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!". 

BACA JUGA: Begini Mula Cerita Kota Bandung Berjuluk Paris van Java

Bung Karno mengaku terinspirasi dari nabi Muhammad. "Sebagaimana nabi besar Muhammad s.a.w, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," katanya saat diwawancara Cindy Adams. 

Sejarawan Rushdy Hoesein, 70, menceritakan sehari sebelum Bung Karno menetapkan salam merdeka, pada 31 Agustus 1945 ada pawai menyambut berdirinya Komite Nasional Indonesia (KNI) di Jakarta. 

BACA JUGA: Hikayat Galeri Senirupa Pertama di Indonesia

Arak arakan massa melintas di depan kediaman Presiden Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur, Jakarta. Bung Karno keluar rumah menyambut massa. Tampak juga Wakil Presiden Mohamad Hatta, Ibu Fatmawati, Kasman Singodimedjo, Dr Moewardi, Soediro, Latu Harhari, dan lain-lain.

Dalam buku Kronik Revolusi I tertulis, hari itu terbit maklumat pemerintah mengenai penundaan pembentukan Partai Nasional Indonesia, mengenai pengibaran bendera nasional Sang Merah Putih, dan mengenai Salam Nasional. 

BACA JUGA: Lihat! Ini Lho Foto Pemilik Real Estate Pertama di Indonesia

"Jadi, salam nasional atau salam merdeka, diucapkan bukan dengan tangan mengepal. Melainkan tangan kanan diangkat setinggi telinga dengan lima jari terbuka," ungkap Rushdy, kepada JPNN.com.

Menurut Rushdy, untuk memperkenalkan salam merdeka ke seluruh penjuru tanah air, pemerintah pernah membuat film dokumenter. "Filmnya dibuat oleh sineas Kotot Soekardi. Tapi kemudian hari, karena peristiwa G30S dia tersingkir bersama karyanya," sambung Rushdy. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Tahu Real Estate Pertama di Indonesia? Ini Dia Lokasi dan Fotonya!


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler