Modal Awal Rp 3 Juta, Kini Tembus Pasar Sejumlah Negara

Selasa, 06 September 2016 – 00:17 WIB
KREATIF: Raden Mawardi saat menjaga stand di pameran kerajinan berbahan baku kelapa di Coconut Trade Fair 2016 dalam rangka Hari Kelapa Sedunia di Pantai Klui Lombok Utara, Sabtu lalu (3/9). Foto: Lukmanul Hakim/Radar Lombok/JPNN.com

jpnn.com - RADEN Mawardi dulunya sopir truk, kini jadi perajin batok kelapa. Hasil kerajinannya diminati pasar luar negeri.

LUKMANUL HAKIM –  LOMBOK UTARA

BACA JUGA: Cerita Anton yang Ditawari Lewat Jalur Khusus Naik Haji, Akhirnya...

Raden Mawardi, salah seorang perajin berbagai ornamen hias yang berbahan baku dari kelapa, tak pernah menyangka akan menjadi seorang seniman yang cukup handal di wilayahnya di Desa Bayan Timur Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. 

Sejak masih mudah, Raden Mawardi menjalani kehidupan sehari-harinya menjadi seorang sopir truk.

BACA JUGA: KH Fuad Hasyim, Senang Nonton Bioskop, Kuasai Lima Bahasa Tanpa Sekolah

Ketika menjalani pekerjaan sopir truk, tentunya Mawardi melewati berbagai jalan yang ada di wilayah Lombok Utara dan kabupaten lainnya di Provinsi NTB.

Setiapa melewati jalan yang di pinggirnya terdapat  pohon kelapa, Mawardi selalu berpikir mau diapakan berbagai bahan baku yang ada di pohon kelapa tersebut. 

BACA JUGA: Ikan Hidangan untuk Pejabat, Harga Seekor Bisa Rp 1 Juta

Maklum, karena selama puluhan tahun menjadi sopir truk, Mawardi  hampir setiap hari melintasi jalan yang terdapat tanaman pohon kelapa. 

Akhirnya tercetus dalam benaknya untuk memanfaatkan kelapa sebagai bahan baku membuat sebuah kerajinan yang bernilai seni. 

Pada tahun 1976, Mawardi mendapatkan kesempatan menjadi peserta  pendidikan dan pelatihan kerajinan yang digelar organsiasi Nahdaltul Wathan (NW) di Pancor, Lombok Timur. 

Seusai pelatihan, Mawardi mencoba  mulai membuat berbagai kerajinan berbahan baku batok kelapa sesuai dengan keinginannya. 

Namun, usaha Mawardi itu tidak berjalan mulus, karena faktor permodalan yang terbatas dan pasar yang belum bagus. 

Mawardi pun kembali balik arah menjadi sopir truk. “Pasar waktu itu belum bagus, makanya saya kembali lagi menjadi sopir truk,'’   tutur Mawardi saat menjaga stand di pameran Coconut Trade Fair 2016 di Pantai Klui, Lombok Utara dalam rangkaian memperingati hari Kelapa Sedunia yang dipusatkan di Lombok, Sabtu lalu (3/9).

Faktor usia membuat Mawardi  tidak kuat lagi  meneruskan aktivitasnya sebagai seorang sopir truk.

Akhirnya pada tahun 2014, Mawardi kembali menekuni usaha membuat kerajinan hiasan rumah yang berbahan baku batok kelapa. 

Dengan hanya modal awal sebesar Rp 3 juta, dia memulai usahanya membuat berbagai jenis kerajinan. Pelan tapi pasti, usahanya itu terus berkembang pesat.

 ''Karena faktor usia yang sudah tua begini, makanya saya memilih kembali membuat kerajinan bahan baku kelapa,” ungkap Mawardi.

Berbagai kerajinan yang dihasilkannya mulai dari pot bunga, lampu hias, ceret tempat minum, bunga matahari, lampu tempel dan banyak lagi lainnya yang disesuaikan dengan pesanan dari pembeli.

Bahkan, produk kerajinan berbahan baku kelapa Raden Mawardi sudah tembus pasaran ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Jerman, Kanada dan berbagai negara di Asia dan Eropa lainnya.

Kini, Mawardi semakin optimis usaha yang dilakoni dengan melibatkan anak-anaknya sebagai tenaga kerja itu, peluang pasarnya makin bersinar. 

Terlebih lagi, pemerintah daerah beberapa tahun belakangan ini sudah mulai memberi perhatian dalam memberikan pendampingan dan pembinaan baik itu dari Disperindag Kabupaten Lo mbok Utara maupun Disperindag Provinsi NTB.

Instansi pemerintah daerah itu  membantu dalam hal peningkatan kualitas dan mutu produk kerajinan berbahan baku batok kelapa. 

Meski selama ini tidak pernah dilibatkan mengikuti pameran di skala provinsi NTB, Mawardi bersyukur melalui kegiatan Cocon ut Trade Fair 2016 yang digelar secara nasional tersebut, produknya bisa ikut dipamerkan, yang otomatis bisa lebih dikenal lagi oleh berbagai kalangan dan perusahaan skala nasional.

“Alhamdulillah hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya anak sekolah,” tutupnya. (*/sam/jpnn)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Petani Buah Naga, Sempat Tertipu karena tak Bisa Baca Tulis, Kini...


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler