MPR Dorong Pembangunan Pabrik Fraksionasi Plasma Pertama di Indonesia

Kamis, 24 Maret 2022 – 20:44 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo setelah menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT SK Plasma dan PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia di Jakarta, Kamis (24/3). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi penandatanganan nota kesepahaman antara PT SK Plasma asal Korea Selatan dan PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia.

Keduanya membuat badan usaha bersama untuk mendirikan pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia.

BACA JUGA: Bamsoet: FKPPI Harus Jadi Rumah Bersama bagi Keluarga Besarnya

Ditargetkan, pabrik ini selesai dibangun dalam dua tahun.

Pembangunan pabrik ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

BACA JUGA: Wisata Kuliner Bali Makin Semarak, Bamsoet Resmikan Restoran South Eat Kitchen

"PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia akan menyiapkan lahan pabrik sekaligus menyelesaikan berbagai perizinan,'' ujarnya.

Sementara itu, PT SK Plasma akan menyiapkan sumber daya manusia dan teknologi.

BACA JUGA: Info dari Bamsoet, Jenderal Andika akan Melantik Pengurus Pusat FKPPI 2021-2026

Kerja sama ini sekaligus sebagai bagian dari sharing ilmu pengetahuan dan teknologi antara PT SK Plasma dan PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia.

Hal ini dikatakan Bamsoet usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT SK Plasma dan PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia di Jakarta, Kamis (24/3).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, fraksionasi plasma merupakan pemilahan derivat plasma menjadi produk plasma dengan menerapkan teknologi dalam pengolahan darah.

Hasil produknya antara lain albumin, faktor VIII atau antihemophilic factor (AHF), dan imunoglobulin.

Ini digunakan industri farmasi untuk menolong orang sakit, khususnya yang dalam keadaan kritis.

Sayangnya, Indonesia masih bergantung pada impor dalam memenuhi kebutuhan produk plasma tersebut.

"Melalui kerja sama PT SK Plasma dengan PT Binabakti Niagaperkasa Indonesia, diharapkan bisa meningkatkan kemandirian industri plasma dalam negeri," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, kebutuhan fraksionasi plasma untuk industri farmasi dalam negeri diperkirakan Rp 1,15 triliun.

Meski sudah melakukan impor derivat plasma, kebutuhan itu belum tercukupi.

"Populasi penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa membuat pasar farmasi tumbuh pesat setiap tahun,'' ujarnya.

Bahan baku dan teknologi pengolahan darah tersedia. Investor juga sudah siap dan market pasar terbuka lebar.

''Tinggal perizinan yang harus dilakukan secara cepat oleh Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait lain. Jangan sampai terkendala birokrasi perizinan,'' tandas Bamsoet. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler