Mutilasi Korban, Pelaku Divonis Mati

Jumat, 16 Maret 2012 – 09:47 WIB

PALEMBANG--Majelis Hakim PN Prabumulih, untuk kali pertama menjatuhkan vonis mati  kepada terdakwa suami-isteri (Pasutri) pelaku mutilasi terhadap korban Firdaus Tamami, (15/03). Vonis tersebut lebih tinggi dari tuntutan jaksa,  yang menuntut terdakwa Efran dengan pidana seumur hidup dan Milna dengan pidana 20 tahun penjara.   
 
Pasutri dimaksud, Efran Fery Ferdiansyah (27) dan istrinya Milna (27), semuanya warga Desa Kemang Tanduk, Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih. Majelis Hakim diketuai Nun Suhaini SH MH, dengan Hakim anggota Aris Fitra Wijaya SH dan Nugraha Medika SH, memvonis mati keduanya, karena terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 340 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Putusan itu dibacakan Majelis Hakim pada persidangan di PN Prabumulih, Kamis (15/03). Selain itu, Majelis Hakim juga memerintahkan agar kedua terdakwa tetap ditahan. Hukuman maksimal itu dijatuhkan, karena menurut Majelis Hakim, tidak ada unsur yang meringankan keduanya. Perbuatan keduanya dengan memutilasi tubuh korban Firdaus menjadi lima bagian, dinilai Majelis kejam dan sadis.

‘’Menyatakan terdakwa Efran dan Milna terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Efran dan Milna dengan pidana mati. Menetapkan agar kedua terdakwa tetap berada dalam tahanan. Sementara barang bukti berupa tiga potong levis dimusnahkan,” ungkap Hakim Ketua Nun Suhaini SH MH.

Vonis itu lebih tinggi dari tuntutan JPU Kholil Sahari SH, Vera Sari SH, Boni Taruna SH dan Budi Mulia SH, yang menuntut terdakwa Efran dengan pidana seumur hidup dan terdakwa Milna dengan pidana 20 tahun penjara. Pantauan Palembang Pos, banyak warga maupun keluarga korban menghadiri persidangan tersebut. Bahkan, polisi harus melakukan pengamanan ketat ruangan persidangan.

Kedua terdakwa terlihat menangis dan tak henti menghapus air mata, ketika Majelis Hakim membacakan putusan. Selama ini dalam persidangan, kedua terdakwa biasa tampil mesra, namun kemarin terlihat tegang. Setelah mendengar putusan itu, terdakwa Milna langsung menangis histeris di ruangan Pengadilan. Sementara suaminya atau terdakwa Efran malah jatuh pingsan, ketika digiring ke mobil.

Penasehat hukum kedua terdakwa Advokat Marshal SH, mengaku akan mengajukan banding atas vonis Majelis Hakim tersebut. Marshal mengaku masih ada celah hukum untuk kedua kliennya itu. Sementara Hendarto (29), anak korban Firdaus Tamami, mengaku sangat puas. Hendarto menilai memang sudah semestinya kedua terdakwa dihukum mati. ‘’Puas aku Pak dengar keputusan hakim tadi, biar dio beduo ngerasoke pulo yang namonyo mati,” tegasnya. (abu)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kakak Tewas, Adik Sekarat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler