Negara G20 Dukung Langkah Indonesia tentang Merdeka Belajar

Jumat, 18 Maret 2022 – 10:20 WIB
Chair of G20 Education Working Group (EdWG) Iwan Syahril pada pertemuan pertama G20 EdWG 2022 (kanan). Foto Humas Kemendikbudristek

jpnn.com, JAKARTA - Chair of G20 Education Working Group (EdWG) Iwan Syahril pada pertemuan pertama G20 EdWG 2022 menyampaikan pentingnya mempersiapkan lulusan yang adaptif dan siap terjun ke dunia kerja.

Iwan menyebut pemerintah Indonesia saat ini mengedepankan kemitraan antara universitas dan industri guna mewujudkan hal tersebut.

BACA JUGA: Luar Biasa! Praveen/Melati Bangkit di All England 2022

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga turut didorong untuk mengadopsi skema kemitraan link and match.

Hal itu bertujuan agar SMK bisa mengembangkan kurikulum yang relevan bagi kemajuan keterampilan siswa, sekaligus meningkatkan infrastruktur sekolah.

BACA JUGA: DPR RI Usung Empat Isu Utama Usulan Indonesia di Sidang IPU ke-144, Apa Saja?

Sebagai bentuk adaptasi dan antisipasi perubahan kebutuhan dunia kerja, kata Iwan, pelaku pendidikan harus mendapatkan lebih banyak otonomi untuk berkreasi dan berinovasi.

“Khusus untuk pendidikan tinggi dan vokasi, tuntutan bertransformasi jauh lebih tinggi. Sejak mahasiswa lulus dari pendidikan, mereka akan langsung terlibat dalam dunia kerja,” ujar Iwan Syahril pada Kamis (17/3).

BACA JUGA: Melalui G20, Indonesia Pimpin Gerakan Global Membangun Sistem Pendidikan

Transformasi tersebut juga menjadi fokus terobosan Merdeka Belajar Episode Kesebelas Kampus Merdeka Vokasi, yakni untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang makin relevan dengan dunia kerja.

Hal serupa juga diharapkan pada lulusan sekolah kejuruan seperti SMK agar siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang cepat dan perubahan substansial dalam dunia angkatan kerja.

Terkait SMK, Dirjen GTK Kemendikbudristek RI itu juga berbagi praktik baik Merdeka Belajar Episode Kedelapan, yakni SMK Pusat Keunggulan.

Dalam sesi pertemuan tersebut, Iwan juga menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi perhatian para delegasi.

Neeta Prasad selaku Troika Co-Chair dari India mengatakan topik yang dipilih Indonesia sangat penting untuk memahami keterampilan baru dan peran pekerjaan yang diperlukan di masa depan.

"Pemerintah dan kalangan industri dapat membantu mengakselerasi perbaikan tersebut," kata Neeta Prasad.

BACA JUGA: Pak Ferry Ingatkan CPNS & PPPK Guru Ini, Baru Bertugas Jangan Minta Pindah

Senada itu, Ketua Delegasi Turki Ender Ereskici mendukung agenda prioritas yang diusung kepemimpinan Indonesia ini.

Menurut dia, menghubungkan dunia pendidikan dan dunia bisnis serta industri merupakan hal yang sangat efektif untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan.

Pertemuan G20 EdWG pada 17 Maret turut dihadiri Ketua Digital Economy Working Group Indonesia, Ketua Engagement Group B20, T20, dan Think20.

BACA JUGA: Bu Susi Risau soal NIP PPPK, Seusai Bertemu BKD Malah Ketakutan, Apa yang Terjadi?

Selain itu, 27 delegasi hadir secara luring, yakni delegasi Afrika Selatan, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, Prancis, Singapura, Spanyol, Uni Emirat Arab, Bank Dunia, UNESCO, dan UNICEF.

Sebanyak 59 delegasi menghadiri secara daring, yakni delegasi Amerika Serikat, Belanda, Britania Raya, India, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja (sebagai Ketua ASEAN), Kanada, Korea Selatan, Mexico, Rwanda (sebagai Ketua NEPAD), Turki, Uni Eropa, dan OECD. (esy/fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Together Stronger


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler