Neta IPW: Istana Lagi Pertimbangkan 2 Nama Calon Kapolri, Siapa Dia? 

Sabtu, 19 Desember 2020 – 15:49 WIB
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Foto: arsip jpnn.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengungkapkan, saat ini "kalangan Istana Negara" tengah mempertimbangkan dua nama bakal calon Kapolri sebagai calon kuat pengganti Jenderal Idham Azis.

Menurutnya, diperkirakan pada pertengahan Januari 2021, satu dari dua nama calon Kapolri itu sudah dikirim ke Komisi III DPR untuk uji kepatutan dan kelayakan.

BACA JUGA: Ada yang Mencurigakan di Semak-Semak, Baju Abu-Abu dengan Rok Mini, Gempar..

"IPW mendapat informasi ini, tetapi (IPW) mengingatkan kalangan Istana bahwa minimal 20 hari sebelum Kapolri Idham Azis pensiun, nama calon penggantinya sudah bisa diproses," ungkap Neta, Sabtu (19/12).

Ia mengatakan meskipun "kalangan Istana" sudah melirik dua nama bakal calon, ia  berharap proses pencalonan Kapolri tetap melalui prosedur yang baku.

BACA JUGA: Desak Pembebasan Rizieq Shihab, Gamis Pratu: Kami tak Akan Mundur Sejengkal Pun

Neta menjelaskan harus melalui dua arah. Yakni, melalui Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang mengusulkan nama bakal calon ke presiden.

Kemudian, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) Polri juga mengusulkan nama bakal calon ke presiden.

BACA JUGA: Berpeluang jadi Kapolri, Fadil Imran Diminta Jangan Hilangkan Profesionalisme

"Tidak seperti saat Idham Azis menjadi Kapolri, yang tidak melalui proses Wanjakti. Nama Idham Azis diperoleh Presiden hanya melalui usulan Kompolnas," kata dia mencontohkan.

Untuk itu, Neta mengatakan sudah saatnya sekarang ini Wanjakti Polri memproses nama calon Kapolri pengganti Idham Azis.

"Sehingga, pada Minggu pertama Januari 2021, nama-nama bakal calon Kapolri sudah bisa diusulkan kepada Presiden Jokowi," jelasnya.

IPW melihat ada tiga poin penting yang harus diperhatikan Presiden Jokowi maupun lingkaran dalamnya di Istana dalam menilai calon Kapolri pengganti Idham Azis.

Pertama, sejauh mana loyalitas dan kedekatan sang calon dengan Presiden Jokowi.

Kedua, sejauh mana sang calon bisa mengonsolidasikan internal kepolisian dengan jam terbang yang dimilikinya, maupun kapasitas dan kapabilitasnya yang bisa diterima senior maupun junior di tubuh Polri.

"Serta dengan kualitas kepemimpinan yang mampu menyelesaikan masalah di internal ataupun eksternal kepolisian," katanya.

Ketiga, sejauh mana figur calon Kapolri itu tidak memiliki kerentanan masalah.

Terutama masalah yang bisa menjadi polemik di masyarakat di masa sekarang maupun ke depan.

Nah, Neta menegaskan bahwa ketiga kriteri ini menjadi bahasan serius dalam menentukan dan memilih calon Kapolri pasca-Idham Azis.

Sebab, lanjutnya, masalah Polri ke depan tidak lagi sekadar menghadapi para kriminal dan keamanan zaman old.

Menurut dia, di era milenial sekarang ini tantangan tugas Polri harus menghadapi dampak Covid-19 dan pascacorona,  maraknya kelompok radikal, intoleransi, terorisme, sparatisme, dan lain-lain.

Neta menegaskan kalau Kapolri baru tidak bisa mengonsolidasikan Polri dengan kapabilitas dan jam terbang yang tinggi, maka tentu akan merepotkan Presiden Jokowi.

"Apalagi kalau Kapolri pengganti Idham Azis itu memiliki kerentanan masalah yang akut, tentu Polri dan pemerintahan Jokowi akan menjadi bulan-bulanan kelompok tertentu yang ingin mengacaukan kamtibmas," tuntas Neta. (boy/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler