Obama Butuh 27 Electoral Votes Lagi

Romney Masih Berpeluang Menjegal

Senin, 05 November 2012 – 05:35 WIB
WASHINGTON - Hanya 27 electoral votes yang memisahkan Barack Obama dari masa jabatan kepresidenan Amerika Serikat yang kedua. Tapi, rivalnya, Mitt Romney, masih memiliki peluang menjegal asalkan dari sembilan battleground states (negara-negara bagian yang masih diperebutkan kedua kandidat, Red), calon presiden Partai Republik tersebut mampu memenangi lebih banyak negara bagian di sisa waktu menuju hari pemilihan besok.

Jumlah 27 electoral votes itu muncul karena hingga kemarin, lewat beragam jajak pendapat, berbagai media utama di AS memperkirakan Obama sudah mengantongi 243 electoral votes. Padahal, untuk memenangi pemilihan presiden (pilpres) AS hanya dibutuhkan minimal 270 dari total 538 electoral votes.

Ada dua jenis vote dalam pilpres AS: popular dan electoral. Kandidat pengumpul popular vote terbanyak belum tentu keluar sebagai pemenang. Sebab, yang dihitung adalah electoral vote.

Setiap negara bagian berbeda jumlah electoral vote-nya, berdasar jumlah penduduk. Dan, sistem yang dipakai di tiap state adalah the winner takes all. Artinya, peraih popular vote terbanyak di suatu negara bagian berhak merebut semua electoral vote di negara bagian tersebut.

Nah, seperti dilansir Washington Post, Obama memulai pertarungan pilpres ini dengan mengantongi 18 negara bagian plus Washington D.C. yang secara tradisional selalu memihak Demokrat. Total jumlahnya 237 electoral votes. Enam votes tambahan datang dari Nevada.

Di pihak lain, Romney diperkirakan menang di 23 negara bagian, tapi jumlah electoral votes-nya hanya 191. Tambahan buat mantan guburner Massachusetts itu berasal dari North Carolina yang sangat mungkin akan memihak kepadanya. Dengan demikian, total ayah empat anak itu mendapatkan 206 votes. Untuk bisa berkuasa di Gedung Putih, Romney berarti harus merebut 64 electoral votes lagi.

Nevada dan North Carolina termasuk battleground states. Tujuh lainnya yang bakal jadi penentu pemenang Pilpes AS 2012 adalah Ohio, Florida, Virginia, Colorado, Winsconsin, Iowa, dan New Hampshire.

Dari sembilan negara bagian tersebut, Ohio merupakan yang paling kunci. Sejarah mencatat, sejak Pilpres 1964, kandidat yang menang di Ohio bakal melenggang ke Gedung Putih. Dan, patut dicatat pula, belum pernah ada kandidat Republik yang menang pilpres tanpa memenangi Ohio.

Persoalannya bagi Romney, seperti dilansir CNN, jajak pendapat terakhir menunjukkan bahwa Obama masih unggul di Ohio meski tipis. Karena itu, di waktu tersisa, seperti dilansir Associated Press, Romney berupaya menggerilya Pennsylvania, negara bagian yang selama ini cenderung mendukung Demokrat.

Capres Demokrat selalu menang di Pennsylvania di lima pilpres terakhir. Pada Pilpres 2008, Obama menundukkan lawannya dari Republik, John McCain, dengan margin 10 persen.

Tak heran, kubu Obama sangat optimistis bakal keluar sebagai pemenang. "Kami terus memimpin atau minimal imbang di semua battleground states dan sangat mampu meraih 270 electoral votes dalam berbagai cara," kata Jim Messina, manajer kampanye Obama, kepada Washington Post.

Namun, kubu Romney tak kalah optimistis. "Kalau melihat tiga negara bagian terbesar (dari sembilan battleground states), yaitu Florida, Virginia, dan Ohio, kami sangat yakin. Coba tengok peta dan Anda tak akan pernah menduga bahwa tim kampanye Obama masih harus berusaha memenangi negara-negara bagian itu sepekan sebelum pemilihan. Jadi, kami akan memenangkan pertarungan ini," kata Russ Schriefer, penasihat senior Romney, kepada Washington Post.

Dengan kata lain, jalan Obama menuju kemenangan memang lebih terbuka daripada Rooney. Tapi, itu hanya di atas kertas. Sebab, rata-rata polling setelah tiga kali debat capres merilis hasil kalau Obama maksimal hanya unggul satu poin dari Romney.

Artinya, kejutan masih mungkin terjadi pada hari pemilihan besok. Sampai dengan kemarin sekitar 27 juta warga AS memang telah menuntaskan hak pilih lewat early voting yang berlangsung di 34 negara bagian plus Washington DC. Tapi, pengumuman hasil keseluruhan baru akan dilakukan setelah pemilihan 6 November.

Obama memang diuntungkan oleh cepatnya dia merespons dampak Badai Sandy. Jajak pendapat ABC News/Washington Post memperlihatkan, 79 responden menganggap presiden kulit hitam pertama AS itu menyikapi secara ekselen bencana tersebut.

Tapi, Obama juga punya sejumlah handicap di sektor perekonomian, terutama dalam hal tingkat pengangguran. Memang sepanjang bulan lalu ada 171 ribu lapangan kerja baru tersedia.

Namun, secara umum, tingkat pengangguran di AS masih di kisaran 7,8 sampai 7,9. Dan, itu angka tertinggi sejak era Great Depression pada 1930-an di masa kepresidenan Franklin Delano Roosevelt. Di saat ekonomi AS masih tumbuh lambat seperti sekarang, Romney bisa mengeksplorasi kelemahan tersebut menjadi senjata untuk merebut Gedung Putih. (c2/ttg)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Krisis Energi Karena Badai Sandy

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler