Orang Tua Bocah Tenggelam Minta Rekaman CCTV Hotel Mewah

Selasa, 12 April 2016 – 09:38 WIB
Korban tenggelam di Novotel. Foto: pojokpitu

SURABAYA – Keluarga Widiantara Agustin dan Ambek, dua bocah yang tenggelam di kolam hotel Novotel, Surabaya sudah pasrah menerima kenyataan. Namun,  rasa penasaran masih menyelimuti keluarga Widiantara, 7, satu di antara dua bocah yang tenggelam. Sebab, hingga kemarin (11/4) belum ada kronologi pasti proses tenggelamnya bocah tersebut.

Pihak keluarga juga merasakan banyak hal yang janggal. Mulai posisi CCTV yang tidak sedikit pun menyorot kolam renang, tidak adanya pengunjung yang tahu, hingga proses kepindahan dua pelajar sekolah dasar itu dari kolam anak-anak menuju ke kolam dewasa.

"Lha sepuluh menit sebelum tenggelam itu, semua ke mana? Masak nggak ada yang tahu ada gemericik air," keluh Wingan, ayah bocah perempuan yang kerap disapa Tiara itu.

Bagi pria 45 tahun itu, keluarga perlu secara langsung melihat rekaman closed circuit television (CCTV) yang menyorot kegiatan di kolam renang meski hanya sedikit. Setidaknya itu dirasa bisa menjadi obat rasa penasaran.

Permintaan Wingan tersebut sebenarnya sudah disampaikan ke pihak hotel pada Minggu malam (10/4). Ketika itu, pihak Novotel mendatangi kediamannya di Jalan Lumumba Dalam 2. Namun, pihak hotel tidak bersedia menunjukkan rekaman CCTV karena bukan wewenang mereka. "Pihak hotel mengatakan bahwa kewenangan untuk memeriksa CCTV hanya bisa dilakukan pihak kepolisian," ujar Wingan.

Jawaban itu membuat Wingan sekeluarga kecewa. Dalam pikiran Wingan, kolam semacam itu seharusnya dilengkapi pengamanan. "Apa ada yang salah dengan pengamanan kolam renang? Pengamanannya seperti apa?" ujar pria yang bekerja sebagai sopir bus DAMRI tersebut.

Sementara itu, polisi tetap mencari kemungkinan adanya kelalaian dari pengelola hotel. Meski belum mengarah pada indikasi tersebut, mereka tetap menggali keterangan dari berbagai pihak yang berada di TKP saat peristiwa tragis itu. "Sudah ada lima orang yang kami periksa sebagai saksi," ujar Kanitreskrim Polsek Wonokromo AKP Agung Widoyoko kemarin (11/4). Lima orang itu adalah engineering hotel, tukang rumput, dan para sekuriti yang ikut mengevakuasi korban dari kolam renang.

Soal dugaan adanya kelalaian, Agung belum bisa memastikan. Saat ini pihaknya masih melakukan penyidikan. Sejauh ini beberapa langkah sudah dilakukan polisi. Di antaranya, menanyakan perihal papan peringatan, batas kedalaman kolam, closed circuit television (CCTV), dan pengawas kolam renang.

Pengelola Hotel Novotel sudah lama memasang papan peringatan tersebut. Batas kedalaman pun ada, yakni dengan menempatkan tali panjang sebagai penanda. Sementara itu, CCTV juga ada, tapi tidak mengarah langsung ke kolam renang. Sebab, kolam renang merupakan area privat yang harus disterilkan dari pantauan kamera. "Kalau di pinggir kolam renang itu, memang tidak ada pengawas yang disiagakan," terang mantan Kanitreskrim Polsek Lakarsantri tersebut.

Fakta itu pulalah yang akan diperdalam polisi. Penyidik akan mencari tahu alasan tidak adanya pengawas di pinggir kolam. Padahal, meski sudah ada tanda peringatan, kehadiran pengawas masih dibutuhkan untuk mencegah anak-anak yang berenang di area orang dewasa.

Hingga kemarin polisi masih berasumsi bahwa tenggelamnya dua bocah itu disebabkan kelalaian orang tua. Pihaknya sudah menyarankan keluarga korban untuk membuat laporan polisi. Dengan laporan tersebut, polisi bisa mendalami lebih jauh kemungkinan lain penyebab kematian korban.  (did/c6/fat/flo/jpnn)
 

BACA JUGA: Tegang! Adu Jotos Warnai Dibukanya Palang Jalan Trans Papua

BACA ARTIKEL LAINNYA... Oknum Satpol PP Beri Bocoran, Razia Miras Berantakan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler