Orasi di Unkris, Hasto Minta Kampus Berperan Memajukan Indonesia

Senin, 03 April 2023 – 20:11 WIB
Pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto memberikan orasi ilmiah di Peringatan Dies Natalis ke-71 Universitas Krisna Dwipayana (Unkris) di Jakarta Timur, Senin (3/4). Foto: Dokumentasi Hasto Kristiyanto for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Pengajar Universitas Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto memberikan orasi ilmiah di Peringatan Dies Natalis ke-71 Universitas Krisna Dwipayana (Unkris) di Jakarta Timur, Senin (3/4).

Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan betapa pentingnya penataan kampus dan universitas di Indonesia demi memastikan tanah air maju dan menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa.

BACA JUGA: Hasto Sebut Aksi Kader PDIP Tolak Israel Tampil di Piala Dunia U-20 Dilandasi Ideologi

“Jadi, Unkris misalnya, memiliki kekuatan dalam hukum dan ekonomi. Maka bagaimana membangun kekuatan nasional Indonesia berdasarkan dua aspek ini, sehingga komoditas strategis seperti CPO, karet, kopi, dan lain-lain, benar-benar menjadi national power karena ditopang oleh para ahli hukum internasional yang dihasilkan Unkris,” kata Hasto.

Pada kesempatan itu, Hasto menyampaikan orasi ilmiah bertema geopolitik Soekarno yang merupakan hasil riset disertasi doktoralnya.

BACA JUGA: PDIP Terima Konsekuensi Tolak Israel, Hasto Bicara soal Pemimpin di Atas Pasir

Hasto mengatakan Unkris adalah salah satu pilar ilmu pengetahuan yang penting bagi Indonesia. Tercatat Presiden Pertama RI Soekarno pernah mengampaikan orasi ilmiah pada lustrum pertama di kampus tersebut.

"Teori geopolitik Soekarno pada dasarnya berbicara tentang bagaimana membangun kepemimpinan Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan, agar dapat menjadi aktor penting di dalam konstelasi geopolitik," kata Hasto.

BACA JUGA: Hasto Anggap Jokowi Sudah Sejalan dengan PDIP soal Sepak Bola dan Politik

Sekjen DPP PDIP itu menerangkan teori geopolitik Soekarno mengenai kepemimpinan Indonesia di dunia amat berbeda dengan ala Barat. Jika teori Barat tentang geopolitik adalah bergerak demi memperluas wilayah yang kerap berwujud upaya penaklukan, maka Indonesia sebuah negara menjadi kuat justru demi memastikan perdamaian dunia dan kemerdekaan setiap bangsa.

Dalam teori geopolitik Soekarno, kata Hasto, negara yang kuat demikian hanya bisa terwujud jika salah satunya, bangsa itu memiliki ilmu pengetahuan dan riset yang kuat.

Dan institusi pendidikan itu harus ditata terintegrasi dengan koridor strategis pembangunan.

“Pemikiran geopolitik Soekarno memerlukan syarat utama, penataan kampus yang terintegrasi dengan koridor strategis pembangunan atas cara pandang geopolitik,” urai Hasto.

Atas dasar hal tersebut, lanjut Hasto, kampus harus menjadi pusat penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan mendorong riset-inovasi terapan.

“Agar Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, setidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan lain-lain,” tegas Hasto.

Insitusi pendidikan dan kampus Indonesia harus terlibat mewujudkan negara menjadi sebagai bangsa berdaulat dan berdikari.

Contoh sederhana, ketergantungan terhadap pangan, berupa impor daging, kedelai, gandum, jagung, dan gula, harus segera diatasi.

“Australia misalnya, dalam perspektif pertahanan menempatkan Indonesia sebagai ancaman dari Utara, namun setiap tahun, Indonesia mengimpor sapi dan daging sapi sebesar Rp. 37 triliun. Ini, kan, ironis. Karena itulah harus dibangun kerja sama antarkedua negara bertetangga agar keduanya mendapat manfaat secara berkeadilan”, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Hasto sempat menyerahkan beberapa buah buku, termasuk Mustika Rasa yang dibuat di era Presiden Soekarno. Menurut Hasto, buku itu menjadi salah satu contoh bagaimana upaya agar Indonesia membangun hegemoni di bidang pangan.

“Ini kami persembahkan untuk Perpustakaan Unkris,” ujar Hasto.

Ketua pembina Yayasan Unkris Gayus Lumbuun mengatakan kehadiran Hasto membicarakan topik geopolitik bernilai sangat penting. Pada dasarnya, menurut Gayus, geopolitik merupakan rangkuman tiga hal. Yakni bagaimana mempelajari kehidupan individu, sosial, dan ilmu pemerintahan.

“Kami motivasi semua organ universitas agar mengenal bangsa kita baik secara individu, sosial, maupun pemerintahannya,” ujar Gayus.

Ketua panitia Dies Natalis Susetya Herawati menjelaskan perayaan itu bertema “Harmoni dalam Keberagaman”. Tema ini demi mendorong semangat agar seluruh takyat Indonesia benar-benar memahami dan menghidupi harmoni dalam keberagaman, yang juga diamanatkan oleh dasar negara, Pancasila.

“Dies Natalies ini mengingatkan kami bahwa keragaman adalah sumber kekuatan yang perlu diperkuat untuk mencapai kejayaan. Saat berefleksi dan kita bertama apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkannya,” kata Susetya. (Tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia Dicoret sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20, Hasto Kristiyanto: Jangan Saling Menyalahkan


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler