Ortu Miskin, Bocah Dirantai 8 Tahun

Sabtu, 07 Januari 2012 – 11:32 WIB

CIREBON-Keceriaan Teguh (12) bersama teman-temannya sudah tidak nampak lagi. Bocah ini dipasung selama 8 tahun karena orangtuanya tidak sanggup mengurusnya. Teguh merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara putra dari pasangan Marzuki (57) dan Nenti (45) warga Desa Banjarwangunan, RT02 RW01, Blok Seda, No 48, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Untuk keseharian, bocah kelahiran Minggu, 24 Juni 1999 ini dirawat oleh kedua orangtuanya. Sang ayah hanya bekerja sebagai buruh tani dan penghasilannya hanya pas untuk hidup sehari hari. Teguh dipasung di ruang tamu rumahnya dengan menggunakan rantai anjing di lehernya dan kakinya pun diikat menggunakan tali tambang plastik.

Pemasungan ini sudah berlangsung selama 8 tahun sejak tahun 2003 silam. Bahkan sangking lamanya dipasung, leher Teguh terlihat sedikit bengkak dan menghitam bekas rantai. Teguh dipasung oleh ayahnya, karena mengalami gangguan pada jiwanya sejak berumur 4 tahun. Untuk makan hingga buang air, Teguh pun melakukannya di tempat senderan bambu di ruang tamu dalam rumahnya. Kadang ia pun sempat meronta-ronta jika ingin sesuatu.

Diceritakan Marzuki kepada Radar (Group JPNN) saat ditemui di rumahnya Jumat sore (6/1), putranya mengalami gangguan jiwa diduga akibat kerasukan mahluk ghaib saat mencari ikan di sebuah kolam hutan kebon di belakang rumahnya. Untuk menyembuhkan gangguan jiwa anaknya itu, Marzuki sudah meminta bantuan 15 orang pintar (paranormal) dan sejumlah ustadz, namun tidak kunjung membaik.
 
“Awalnya waktu umur 4 tahun sih dia sedang cari ikan di kolam di belakang rumah. Tiba-tiba dia kesurupan kerasupan penunggu kolam. Terus badannya panas tinggi. Sejak itu kondisi dia mulai aneh dan mengarah ke gangguan jiwa sampai sekarang anak saya seperti ini,” tutur Marzuki dengan logat bahasa Cirebonan.

Marzuki menuturkan, dirinya terpaksa memasung atau merantai putra tercintanya, lantaran sang anak sering menyakiti dirinya sendiri ke tembok atau ke benda-benda keras lainnya dan khawatir hal itu mengancam anak-anak tetangganya.

“Saya sudah mencoba berbagai cara agar anak saya tidak diikat dan dirantai seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak diikat pasti sudah banyak luka di tubuhnya,” ujarnya.

Masih kata Marzuki, bahkan pernah dibawa ke dokter katanya harus dibawa ke rumah sakit di Semarang. “Tapi sayanya harus punya uang Rp20 juta untuk biaya pengobatan. Uang segitu darimana saya punya, makan sehari-hari aja masih kurang,” katanya.

Jika dilihat dari umur, lanjut Marzuki, Teguh mestinya sudah memasuki wajib sekolah. Akan tetapi, penyakit itu membuat Teguh tak mampu mengikuti pelajaran.“Jangankan sekolah, bicara saja sampai sekarang dia belum bisa. Kalau mau apa-apa dia cuma bisa bahasa isyarat tubuh atau menunjuk apa yang dia mau sambil berteriak, paparnya.

Sekarang, dengan keterbatasan keuangan, Marzuki berharap ada dermawan yang mau membantu penyembuhan Teguh. “Menurut dokter, fisik anak saya memang normal, tapi mengalami keterbelakangan mental. Sekarang saya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Mudah-mudahan ada dermawan yang peduli dapat meringankan penderitaan dan menyembuhkan anak saya ini,” tuturnya sambil menangis.

Masih di tempat yang sama, Iwan tetangga Marzuki yang juga selaku ketua LSM Basmi Kabupaten Cirebon kepada Radar mengaku kasihan melihat penderitaan yang dialami Teguh. “Sebenarnya cara pasung itu sangat kurang manusiawi. Tapi mau bagaimana lagi kalau keluarganya menghendaki seperti itu dan mungkin itu cara terbaiknya. Saya hanya bisa mengimbau kepada para pejabat di Pemkab Cirebon untuk peduli terhadap nasib Teguh,” katanya.(rdh)


BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Protes Jatah Lahan Transmigran


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler