Pabrik Baterai di Indonesia Bisa Tekan Harga Jual Mobil Listrik

Kamis, 22 September 2022 – 19:52 WIB
Station charging mobil listrik di kantor PLN. Foto : Dedi Sofian

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kehadiran pabrik baterai Indonesia bisa menekan harga kendaraan listrik (EV) yang tergolong masih tinggi.

"Pabrik baterai di negara kita akan mulai berproduksi kurang lebih pada dua tahun lagi. Mungkin saat itulah akan terjadi penurunan harga (EV) di Indonesia," kata Bebin kepada ANTARA pada Kamis.

BACA JUGA: Pemkot Palembang Bersiap Pakai Mobil Listrik untuk Kendaraan Dinas

Bebin melanjutkan meski pabrik baterai telah hadir di Indonesia, tidak langsung menyelesaikan permasalahan. Terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan.

"Mulai dari skala produksi dari pabrik baterainya ada berapa banyak, seperti apa efisiensinya, varian baterainya apa saja, kalau bisa untuk mobil, motor, dan kendaraan komersial dalam saat yang sama," ujar dia menambahkan.

BACA JUGA: Wow, Mobil Listrik Murah Ini Laku 154 Unit, Pemesanan Sampai Ditutup

Kementerian BUMN mengumumkan pembentukan perusahaan baterai yang bernama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Holding IBI terdiri dari Mining Industri Indonesia (Mind ID), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (Antam), PT Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

BACA JUGA: Polri Akan Geber Mobil Listrik untuk Operasional di Acara Penting Ini

Selain itu, kerja sama dengan Konsorsium Hyundai, pembentukan perusahaan ini juga melibatkan Korporasi KIA, Mobis Hyundai, dan LG Energy Solution.

PT IBI direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 140 gigawatt hour (GWh).

Diperkirakan bahwa 50 GWh sel baterai yang diproduksi IBI akan diekspor ke luar negeri.

Kemudian, sisanya akan digunakan industri baterai di Indonesia untuk memproduksi mobil listrik.

Di sisi lain, bukan rahasia bahwa penggerak mesin bertenaga baterai inilah yang membuat harga EV masih tinggi.

Menurut Bebin, EV sejak awal memang lebih mahal dari kendaraan konvensional lantaran teknologinya masih tergolong baru saat diperkenalkan dan minatnya masih rendah.

"EV memang sejak awal lebih mahal dari kendaraan berbahan bakar fosil. Walaupun 3-4 tahun terakhir sudah ada penurunan harga karena perkembangan teknologi, baterai, dan volume produksi," ujar dia.

Saat disinggung apa opsi terbaik saat ini dalam transisi energi ramah lingkungan di sektor otomotif?

Bebin berpendapat bahwa penggunaan dan perkembangan transportasi publik yang beremisi nol bisa menjadi pilihan baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

"Yang didahulukan adalah public transportation, gantikan dengan bus, metromini, atau kopaja listrik. Jakarta akan punya LRT, dan ini adalah hal yang baik karena bisa mengangkut banyak orang dengan kendaraan listrik. Terapkan di sektor-sektor yang kesehariannya betul-betul (menjangkau) kilometer yang tinggi, seperti public transportation, logistik, bahkan ojol," pungkas Bebin. (antara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bugatti Ogah Mengembangkan Mobil Listrik, Kenapa?


Redaktur & Reporter : M. Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler