Pahami Background, Bersikap Proporsional

Kamis, 29 Juli 2010 – 11:31 WIB
Memotret latar belakang masalah itu vital dan wajib dimengerti oleh pemimpin redaksi di group Jawa PosDari situlah, arah perkembangan isu bisa dibaca dengan cermat, dan tidak gampang terjebak oleh permainan provokasi

BACA JUGA: Off The Record, Bukan untuk Dikutip

Salah satu sesi yang dihadirkan dalam pertemuan itu adalah Gabriel Mahal, advocate dan pengamat Prakarsa Bebas Tembakau.

 Dia mengupas buku Wanda Hamilton “Necotine War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat” terbitan InsistPress, Jogja
Tema ini aktual, karena gerakan stop merokok mulai diperketat di tempat-tempat publik, terutama di ibu kota

BACA JUGA: Jaringan Media Terbesar, Terluas, dan Terbukti

Hotel, mal, fasilitas publik, sudah diintai petugas Satpol PP yang dibekali Perda Provinsi DKI, dan siap menghukum perokok
Belum lama Bloomberg merilis lembaga-lembaga yang dibiayai internasional untuk meminimalisir perokok.

Sampai-sampai Muhammadiyah, 9 Maret 2010 mengeluarkan fatwa haramYLKI, Komisi Perlindungan Anak, beberapa lembaga pendidikan tinggi, pemerintah daerah, dan beberapa lembaga juga turut bersikap antirokokIsu kesehatan kencang sekaliPemerintah juga sedang mempersiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi KesehatanRokok dan perokok dipandang sebagai sumber berbagai penyakit yang harus diberantas, atau setidaknya dibatasi agar tidak menyebar kepada orang lain.

:TERKAIT Gabriel menyebut angka-angka yang dirilis soal orang-orang mati konyol karena rokok itu tidak validTidak ada penelitian yang meyakinkan, bahwa kematian mereka betul-betul dari rokokAdvocat berkepala licin itu menyebut ada konspirasi besar, perusahaan farmasi dunia yang hendak merampas nikotin dari tembakauDari sisi lain, ada petani tembakau di Temanggung, Parakan,  Wonosobo, dan Madura yang was-was karena pencaharian mereka juga terancam.

“Saya bangga dengan Soekarno, karena membangun ke-IndonesiaanSaya heran, ada kekayaan hayati asli Indonesia, yang bernama tembakau, kok malah dikebiri? Ikut-ikutan memandang tembakau seperti iblis? Padahal, berapa triliun pemerintah memungut cukai dari sektor ini?” kata Gabriel.

Hamilton, peneliti independent dan pengajar di tiga universitas di AS itu memotret dengan rinci motif-motif perang nikotin ituAgustus 2000 ada Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan ke-11 di ChicagoSponsor terbesarnya, Glaxo Wellcome, Novartis, Pharmacia dan SmithKlina Beecham, perusahaan farmasi yang memproduksi “pengganti nikotin.” McNeil Consumer Products, anak perusahaan Johnson & Johnson yang memasarkan NicotrolSmithKline memasarkan koyok Nicoderm dan permen karet Nicorette.

Kecurigaan Gabriel Mahal, konspirasi dunia farmasi ini sudah memiliki nikotin sintetis, yang bisa dibuat dengan model lain, bukan rokokPesaingnya adalah rokok dan tembakau, yang menghasilkan nikotin dari alam yang tidak bisa dipatenkanPersaingan usaha itu, mereka merancang skenario dari kesehatan dan menggandeng WHO“Saya akan bela petani-petani tembakau yang tidak pernah tahu kenyataan seperti ini,” tutur Gabriel.

Sesi lain yang cukup menyentak adalah paparan Ir Ciputra, konglomerat properti  yang kini banyak menyisihkan waktu untuk menyebarkan virus entrepreneurship“Pemerintah kita belum entrepreneur! Kita butuh 2% atau 4 juta wirausahawan, yang betul-betul entrepreneurMenciptakan inovasi, lapangan kerja baru, dan kreatifItu yang bisa menyelamatkan negeri ini dari kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan,” ucap Ciputra dalam Forum yang diikuti 70 Pemred media cetak, dotcom dan TV lokal group Jawa Pos itu.

Melalui forum ini, Ciputra juga berpesan agar media-media di bawah manajemen group terbesar di Indonesia ini turut mendorong dan mengapresiasi upaya-upaya menumbuhkan spirit entrepreneur“20 persen dari gaji saya, saya keluarkan untuk virus ini(don/bersambung)

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler