Pak Ganjar Sudah Teriak dengan Pengeras Suara, Kok Masih Ada Saja yang Ngeyel

Senin, 20 April 2020 – 06:06 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berkeliling menegur warga yang masih duduk berkumpul di luar rumah. Foto: Ist

jpnn.com, SEMARANG - Sebagian masyarakat Kota Semarang, Jateng tampaknya masih santai menghadapi pandemi corona yang sudah memakan banyak korban jiwa.

Masyarakat belum semuanya menaati imbauan pemerintah daerah setempat untuk melakukan physical distancing dan memakai masker di luar rumah.

BACA JUGA: Janji Menjaga Para Mahasiswa Perantau, Ganjar: Saya Pastikan Dapur Mereka tetap Ngebul

Di jalanan, warung makan, kafe hingga perkampungan juga masih banyak terlihat kerumunan warga, duduk berdekatan tanpa memakai masker.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melihat sendiri hal itu karena setiap pagi dia berkeliling bersepeda sambil sosialisasi.

BACA JUGA: Ganjar Tantang Para Seniman di YouTube, Tunggu ya!

Ganjar kini mulai tegas mengingatkan masyarakat untuk mematuhi anjuran pemerintah

Dia tak segan menegur dengan nada tinggi saat melihat warga yang nekat tetap berkerumun.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Petisi Daring Bebaskan Siti Fadilah, Ada Seruan dari Jokowi, Corona Mengamuk di Padang

Pasalnya, imbauan Ganjar melalui pengeras suara yang disangkutkan di sepeda, tidak diindahkan.

Bahkan, Ganjar sempat memutar arah sepedanya dan kembali menghampiri warga yang nekat berkerumun. Dia meminta masyarakat sadar, bahwa virus covid-19 tidak bisa diremehkan.

"Mas kok ijek ngeyel (mas kok masih bandel), tadi saya bilang jaga jarak, sampeyan masih saja bergerombol. Ayo saiki geser (ayo sekarang geser)," teriak Ganjar.

Beberapa anak muda yang sedang nongkrong di Jl MT Haryono Kota Semarang itu kemudian mau bergeser.

Tak lelah, Ganjar mengingatkan mereka untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

"Njenengan masih muda, tolong jadi contoh yang baik bagi masyarakat. Bantu pemerintah untuk sosialisasi ini. Ini serius lho, jangan anggap sepele," tegasnya.

Peristiwa serupa terjadi daerah Pedurungan Kota Semarang. Saat melintas di depan warung soto, Ganjar mengingatkan para pembeli yang sedang makan soto untuk tidak berkerumun.

Karena imbauan tidak diindahkan dan para pembeli terkesan cuek, Ganjar langsung memarkirkan kendaraannya. Dia turun dan menghampiri warganya yang sedang sarapan itu.

"Tolong jaga jarak, kalau bisa jangan makan di sini, pesan terus dibawa pulang. Ingat, ini serius. Kota Semarang sudah zona merah, sekarang yang positif COVID-19 tertinggi ada di Kota Semarang. Ayo jangan ngeyel," pintanya.

Ganjar meminta semua masyarakat menjaga diri. Sebagai garda terdepan untuk memutus mata rantai wabah COVID-19, masyarakat harus peka dan sadar diri.

"Saya tidak mau warga saya banyak yang terkena virus ini. Aku pengen wargaku sehat kabeh (saya ingin warga saya semuanya sehat). Tolong saya didengarkan, Semarang ini sudah bahaya," tegasnya.

Salah satu warga yang sedang berkerumun, Danis,45, mengatakan sebenarnya paham dengan imbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing.

Namun, kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan itu.

"Sebenarnya tahu tentang jaga jarak, tapi mau bagaimana lagi. Ini tadi mampir sarapan, kebetulan pas ramai dan tempatnya sempit, jadi berdesakan," kata dia.

Diakuinya, kesadaran warga Semarang terkait physical distancing dan memakai masker masih kurang. Masih banyak di jalanan orang keluar rumah tanpa masker.

"Memang harus ditindak tegas supaya semua sadar akan pentingnya hal ini," pungkasnya. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler