Pakar Epidemiologi UI: Masyarakat Bebal, Pemerintah Tidak Serius, Terjadilah...

Sabtu, 26 Juni 2021 – 23:05 WIB
Juru wabah Universitas Indonesia dr Pandu Riono MPH PhD. Foto tangkapan layar YouTube Hersubeno Point

jpnn.com, JAKARTA - Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) dr Pandu Riono MPH PhD menjelaskan asal muasal istilah herd stupidity.

Hal ini muncul karena ketidakseriusan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini sehingga kasusnya kembali melonjak dan rumah sakit hingga kewalahan.

BACA JUGA: Ditanya Presiden Jokowi Soal Kasus Covid-19 di Kudus, Irjen Luthfi Sigap Menjawab

"Saya lihat kita itu semuanya memang enggak serius dan kayak bebal gitu. Sudah dikasih tahu tidak mau, sudah tahu tetapi tidak mau tahu, nah itu kan stupid (bodoh)," kata Pandu dalam kanal Hersubeno Point di YouTube baru-baru ini.

Parahnya, kata dia, hal ini bukan terjadi hanya pada satu atau dua orang tetapi sebagian besar orang. Oleh karena itu, tujuan awalnya hendak meraih herd immunity atau kekebalan komunal yang terjadi justru sebaliknya.

BACA JUGA: Kasus Penularan Covid-19 ke Anak-anak di Jakarta Meningkat, Begini Respons Bu Mufida

"Seharusnya yang diharapkan herd immunity tetapi ini enggak akan tercapai, hanya herd stupidity yang terjadi," ujarnya.

Dia menambahkan selama setahun pandemi, pemerintah dan masyarakat paham bahwa setiap ada kegiatan cuti bersama, libur panjang, kegiatan promosi wisata, itu pasti ada peningkatan kasus.

BACA JUGA: Panglima Kembali Mutasi dan Promosi Jabatan 104 Perwira Tinggi TNI, TNI AD Catat Rekor

Pandu mencontohkan sampai Desember tahun lalu, itu ada tiga peristiwa besar, kampanye politik, pilkada, dan kemudian liburan natal dan tahun baru. 

"Setelahnya langsung ada peningkatan kasus di bulan Januari dan Februari," ujarnya.

Kemudian ada kegiatan yang seharusnya bisa dicegah yakni mudik tahun ini tetapi tidak bisa. Semua bilang mudik mesti dilarang, tetapi kebijakan itu tidak dilaksanakan maksimal dan hanya di atas kertas.

"Katanya ada penyekatan, mana bisa orang disekat," ujar dia. 

Seharusnya, kata Pandu, dibatasi, yang boleh mudik itu hanya pekerja migran. Apalagi mudik tahun ini lebih banyak dari mudik tahun lalu. Juga sudah diingatkan bahwa tahun ini sangat berbeda karena adanya mutasi virus.

Selain perilaku manusianya yang bebal, kebijakan pemerintah juga tidak serius dan tumpang tindih atau bertentangan dalam penanganan Covid-19. 

"Ini mudik dilarang tetapi wisata diizinkan. Semua pendatang dari luar negeri itu supaya dikarantina ternyata juga tidak," tegasnya.(esy/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler