Pakar Nilai PLTA Batang Toru Tak Rusak Lingkungan Lantaran Pakai Wastewater

Kamis, 23 November 2023 – 22:34 WIB
Diskusi di Universitas Indonesia. Foto: source for jpnn

jpnn.com - JAKARTA - Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Mahawan Karuniasa mengingatkan semua pihak agar memahami dampak pemanasan global telah menembus 2 derajat celsius, sesuai informasi EU’s Copernicus Climate Change Service (C3S), padahal batas aman Paris Agreement adalah 1,5 derajat celsius.

"Dampak dari kenaikan suhu permukaan bumi tentu akan makin berat, sehingga dalam urusan energi bersih seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) perlu mewaspadai perkembangan ini," kata Mahawan dalam Simposium Peluang dan Tantangan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia, di UI Kampus Salemba, Kamis (23/11).

BACA JUGA: Pemerintah & Pelaku Industri Perlu Bersinergi untuk Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global

Simposium tersebut digagas oleh Environment Institute (ENVIRO) bekerja sama dengan Sekolah Ilmu Lingkungan UI tersebut, Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network) serta Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan UI (ILUNI SIL UI).

Mahawan menuturkan, banyak ilmuwan yang cukup kaget dengan perkembangan yang disampaikan tim Copernicus, meskipun angka tersebut bersifat temporer yang telah terjadi pada 17 dan 18 November 2023. Namun, dapat dijadikan tanda-tanda kenaikan pemanasan global yang lebih cepat dari perkiraan.

BACA JUGA: Indonesia Tuan Rumah HLOM ke-11 APRFHE, Bahas Masalah Kesehatan dan Lingkungan

"Beberapa pihak juga menyampaikan bahwa pada 2023 sampai dengan saat ini diduga akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah. Tentu harus diantisipasi. Salah satunya dengan Payment Enviromental Services, ini adalah model pembangunan PLTA Ramah Lingkungan," katanya.

Mahawan mencontohkan PLTA Batang Toru (Sumatera Utara) yang saat ini sedang dibangun dengan beban puncak 510 MW, dilihat dari desainnya memiliki kelebihan dalam aspek kelestarian ekosistem hutan, tetapi beradaptasi terhadap cuaca ekstrem kering.

"Energi bersih dibutuhkan, termasuk PLTA, tetapi perlu beradaptasi dengan perubahan iklim dan menjaga kelestarian ekosistem di sekitarnya. PLTA Batang Toru menggunakan sistem wastewater (membersihkan limbah sebelum dibuang) sehingga tidak merusak lingkungan," ujarnya.

Sementara itu, guru besar di Universitas Sumatera Utara, Rahmawati yang hadir dalam simposium menyoroti perlunya integrasi konservasi hutan dan pembangunan PLTA, termasuk pentingnya pembayaran jasa lingkungan untuk menjaga kelestarian flora fauna di sekitarnya.

Menurut Rahmawati, air sangat penting untuk mendukung pengadaan energi ramah lingkungan. Dengan catatan selalu melibatkan masyarakat, supaya terhindar dari konflik sosial di kemudian hari.

"Di satu sisi kawasan hutan harus dijaga, tetapi keberadaan air sebagai sumber energi bersih harus dilakukan. Hal ini bisa dijembatani dengan kolaborasi dan integritas multipihak, mulai masyarakat, pegiat lingkungan, dan juga industri supaya manfaatnya bisa dielaborasi tanpa membuat kerusakan kawasan hutan," katanya.

Rektor Institut Teknologi PLN Iwa Garniwa menggarisbawahi perlunya pertimbangan supply-chain dan keekonomian dalam integrasi berbagai alterternatif pembangkit listrik berbasis energi bersih.

"Dalam agenda transisi energi Indonesia, hydropower menjadi salah satu alternatif yang dikembangkan di Indonesia sesuai dokumen Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) selain dari sumber energi angin, surya, biomassa, dan panas bumi maupun potensi sumber lainnya," kata Iwa. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler