Pameran Naikkan Potensi Ekspor Sektor Peternakan

Jumat, 05 Juli 2019 – 05:20 WIB
Ilustrasi sapi. Foto: Eka P/Radar Banjarmasin/JPNN

jpnn.com, SURABAYA - Pemerintah berusaha mendukung bisnis para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah pada sektor peternakan melalui pameran.

Melalui pameran pula, pemerintah menawarkan berbagai fasilitas pendukung permodalan.

BACA JUGA: Strategi Kemenperin Dorong IKM Agar Berorientasi Ekspor

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengimbau UMKM peternakan agar konsisten menjaga kualitas dan kuantitas produk mereka. Tujuannya jelas mempertahankan kesinambungan usaha.

BACA JUGA: Alasan BI Sempurnakan Layanan SKNBI soal Transfer Dana dan Kliring

BACA JUGA: Penerapan Teknologi Pertanian Makin Memikat Anak Muda

’’Kemiskinan bisa ditekan, urbanisasi berkurang,’’ katanya setelah membuka pameran Indo Livestock 2019, Rabu (3/7).

Dalam pameran yang berlangsung sampai Jumat (5/7) itu, penyelenggara memberikan ruang khusus kepada perbankan. Namanya, paviliun KUR alias kredit usaha rakyat.

BACA JUGA: Pasar di AS Tidak Seksi, Eksportir Udang Fokus Garap Dalam Negeri

’’Ada BRI, BTN, dan lembaga penjamin. Di antaranya, Jamkrindo dan Jasindo,’’ ucap Project Director PT Napindo Media Agung Wicaksono.

Di sana, para pelaku usaha peternakan bisa berinteraksi langsung dengan perbankan terkait dengan pinjaman modal.

Selain itu, ada paviliun ekspor peternakan. Paviliun tersebut menjadi wadah informasi dan promosi produk-produk peternakan yang sudah diekspor.

Penyelenggara pameran juga menyediakan paviliun UMKM yang menampung para pelaku usaha sektor peternakan yang sudah memiliki pasar potensial, baik ekspor maupun lokal.

Selain pameran, pemerintah menyediakan fasilitas pemasaran produk peternakan bagi para pelaku usaha.

Tahun lalu Indonesia surplus daging dan telur ayam, masing-masing 517.800 ton dan 26.100 ton. Pemerintah merasa perlu melakukan akselerasi ekspor untuk mengatasi masalah itu.

’’Ketika produksi berlebih, sebenarnya stok aman. Dan ada buffer stock,’’ kata Agung.

Namun, semestinya produksi berlebih tersebut bisa dilarikan ke daerah lain. Terutama yang harga daging dan telur ayamnya mahal.

Jayapura, misalnya. Solusi semacam itulah yang akan terus ditawarkan pemerintah.

Menurut Kepala Dinas Peternakan Jatim Wemmi Niamawati, potensi ekspor produk olahan atau frozen daging ayam sangat besar.

’’Ekspor sangat mungkin dilakukan, apalagi produk yang dihasilkan juga melalui berbagai pengujian dan memiliki sertifikasi kesehatan hewan,’’ paparnya.

Selama ini Jatim telah mengekspor berbagai produk peternakan. Di antaranya, telur olahan ke Amerika Serikat (AS), daging olahan ke Hong Kong, serta susu olahan ke AS, Asia, Timur Tengah, dan Afrika. (res/c22/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cabai di Magetan Dikabarkan Terserang Penyakit, Tim POPT Langsung Turun Tangan


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler