Pamit Pergi ke Sekolah, Pulang Bawa Ikan Tangkapan

Minggu, 27 Oktober 2013 – 09:57 WIB
Perkampungan Suku Bajo Sampela di Desa Sama Bahari, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Foto: Jawa Pos

jpnn.com - Sebelum ada Sekolah On Off, sekolah formal sudah berdiri di perkampungan suku Bajo Sampela di Desa Sama Bahari, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Namun, tidak semua anak suku Bajo mau bersekolah formal. Mereka memilih Sekolah On Off  agar tetap bisa melaut mencari ikan.

SEKARING RATRI, Wakatobi

BACA JUGA: Anak Petani Miskin Memimpin Polri

Oktober termasuk bulan musim ikan di Wakatobi. Para nelayan menyerbu laut untuk mencari ikan sebanyak-banyaknya. Tak heran bila rumah-rumah di perkampungan atas laut suku Bajo Sampela di Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, sepi. Hampir semua lelaki pergi melaut berhari-hari. Ikut pula anak-anak lelaki mereka.

Kalau sudah begitu, Sekolah On Off yang menjadi taman belajar bagi anak-anak nelayan suku Bajo pun tutup sementara. Tak ada aktivitas belajar mengajar.  

BACA JUGA: Sukses Beternak Kambing, TKI Indramayu Ogah Kembali ke Luar Negeri

’’Kalau sekolah libur, ya dipakai untuk kegiatan lain. Kebetulan ini ada pembagian beras untuk warga Bajo,’’ kata Kepala Desa Sama Bahari Suhaele saat ditemui di kantornya Kamis (24/10).  

Dua guru yang mengajar di sekolah itu juga harus mencari kegiatan lain untuk mengisi waktu. Sabir, salah seorang guru, misalnya, memanfaatkan libur musim ikan itu dengan mengikuti pelatihan guru.

BACA JUGA: Berangkat Sehat, Syamsuri Berharap Pulang ke Tanah Air

’’Ini saya sedang mengikuti pelatihan guru di Kota Wanci,’’ ujarnya ketika ditemui Jumat (25/10).

Sabir yang juga aparat Desa Sama Bahari mengakui, tidak mudah memaksa anak-anak Bajo untuk sekolah. Sekalipun Sekolah On Off sudah memberlakukan waktu libur yang sangat panjang, anak-anak Bajo tidak serta-merta menuruti ’’perintah’’ untuk bersekolah. Karena itu, bukan anak-anak yang harus menyesuaikan jadwal sekolah, melainkan gurunya yang mesti ’’tahu diri’’.

’’Misalnya, anak-anak maunya belajar siang, ya kita mulai siang. Pagi ya pagi atau sore juga tidak apa-apa,’’ ungkap Sabir.
Beda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah On Off  lebih sering mulai belajar pada sore hari. Biasanya setelah anak-anak puas bermain di laut. Waktu belajarnya pun tidak panjang. Hanya satu hingga dua jam. Meski begitu, guru 34 tahun tersebut berupaya memaksimalkan waktu yang pendek itu di kelas.

’’Yang penting anak-anak tidak bosan belajar. Percuma lama-lama kalau mereka bosan, lalu malas sekolah lagi,’’ papar Sabir.
Sekolah On Off  lebih mengutamakan pelajaran membaca dan menulis. Selebihnya anak-anak diajari cara menjaga kebersihan lingkungan, khususnya lingkungan pantai dan laut. Karena itu, tidak jarang waktu belajar dilakukan di pantai.

’’Malah jarang di kelas. Sebab, anak-anak terbiasa di alam bebas, sukanya ya belajar di pantai atau kadang menyeberang ke daratan,’’ ujar ayah satu putri itu.

Saat ini Sekolah On Off mempunyai 25 siswa. Usia mereka enam hingga sembilan tahun. Sebagian besar anak-anak laki-laki. Mereka dididik dua orang guru.

Selain Sekolah On Off, di Desa Sama Bahari sebenarnya ada dua SD formal, yakni SD Negeri Bajo Sampela dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta Hubbul Wathan. Ada pula SMP Negeri Satap (Satu Atap) Bajo Sampela dan SMA Muhammadiyah Kaledupa. Namun, tidak semua siswa bersedia mencari ilmu di sekolah formal.

’’Karena itu, target kami memang anak-anak yang tidak mau sekolah di sekolah formal,’’ ujar Sabir.
Namun, tidak berarti siswa di sekolah-sekolah formal tersebut juga bebas dari persoalan. Mereka tidak bisa tertib mengikuti jadwal pelajaran seperti siswa di sekolah pada umumnya. Karena dipaksakan, anak-anak suku Bajo itu kerap bertingkah semaunya pada jam-jam sekolah.

’’Jika bosan, anak-anak itu kabur satu per satu saat jam istirahat dan tidak kembali lagi. Mereka ke laut mencari kerang atau gurita,’’ ujar Suhaele.

Suhaele mengakui, anak-anak sukunya merasa terkurung saat bersekolah. Dia juga paham jika mereka cepat bosan dan pulang sebelum waktunya. Para guru pun tidak bisa berbuat apa-apa.

’’Mereka merasa tidak bebas. Mungkin gurunya harus ahli ya, supaya pelajarannya menarik. Pola pendidikannya juga diarahkan untuk bermain dan belajar,’’ paparnya.

Lantaran sering kabur dari sekolah, nilai rapor anak-anak Bajo rata-rata jelek. Kalaupun naik kelas, mereka sebenarnya dibantu para guru. Karena itu, jangan heran jika ada anak suku Bajo Sampela tetap tidak bisa membaca meski sudah duduk di bangku SMP.  

’’Kepala sekolahnya sampai pusing menghadapi anak-anak SMP tapi tidak bisa baca-tulis. Mau dikembalikan ke SD lagi juga susah,’’ kata kepala desa pertama di Desa Sama Bahari tersebut.

Bukan hanya itu, anak-anak suku Bajo yang sudah pintar melaut rawan putus sekolah. Biasanya saat usia mereka belasan tahun atau memasuki masa ABG (anak baru gede). Karena itu, bila pada awal tahun ajaran jumlah siswa yang daftar banyak, saat kelulusan tinggal segelintir orang.

’’Contohnya tahun ini, yang lulus SMP cuma sembilan orang,’’ kata Suhaele. ’’Anak-anak Bajo mudah mencari uang sendiri dengan berjualan ikan. Makanya, mereka jadi malas sekolah,’’ imbuhnya.

Suhaele menuturkan, anak-anak suku Bajo sangat suka melaut. Baik laki-laki maupun perempuan. Kalau anak laki-laki biasanya ikut sang ayah mencari ikan di laut lepas, anak perempuan mencari kerang, mendampingi ibunya yang memancing atau menombak ikan.

Bedanya, para perempuan suku Bajo mencari ikan di perairan sekitar desa, sedangkan suami mereka melaut sampai ke luar pulau, bahkan berbulan-bulan.

Kecintaan anak-anak Bajo terhadap laut memang berkaitan erat dengan tradisi suku ”gipsi” laut tersebut. Sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan kehidupan laut. Begitu lahir, anak-anak Bajo langsung dimandikan dengan air laut atau diceburkan ke laut.  Menurut sando atau dukun bersalin suku Bajo, tradisi tersebut membuat fisik si bayi jadi kuat. Terbukti, anak-anak Bajo jarang sakit.

Selain dimandikan air laut, lanjut Suhaele, ari-ari si bayi harus dilarung ke laut. Mereka menyebutnya ’’kutta’’. Mereka percaya, jika sakit, si anak pasti diganggu ’’kutta’’-nya. Karena itu, untuk mengobati anak yang sakit tak sembuh-sembuh, orang tuanya harus melarung sesaji ke laut.

’’Itu tradisi turun-temurun di Bajo. Kami memercayainya,’’ kata dia.

Persoalan suku Bajo tidak hanya menyangkut pendidikan yang rendah. Masalah kesehatan juga memprihatinkan. Mereka masih memercayai ritual penyembuhan adat Bajo ketimbang pengobatan secara medis.

’’Mungkin karena latar pendidikannya rendah sehingga mereka lebih percaya pengobatan secara tradisional,’’ ujarnya.  

Secara ekonomi, kata Suhaele, sebenarnya masyarakat Bajo tidak kekurangan. Dari berjualan ikan, para nelayan bisa memperoleh penghasilan sampai Rp 100 ribu per hari. Namun, karena pengelolaan uang yang buruk, kehidupan suku Bajo terlihat kekurangan.

’’Kalau dapat uang, langsung dihabiskan saat itu juga. Untuk beli ini dan itu. Kadang-kadang barang yang tidak perlu. Tidak ada yang mau menabung,’’ tutur Suhaele.

Namun, kebiasaan tersebut lambat laun mulai berubah. Terutama bagi orang tua yang anak-anaknya belajar di sekolah formal. Mereka akan menyisihkan sedikit penghasilannya untuk biaya sekolah anaknya, termasuk untuk membeli buku dan sepatu.

’’Mungkin memang harus perlahan-lahan untuk menyadarkan warga di sini. Saya yakin pasti bisa. Buktinya, sekarang sudah ada lima anak Bajo yang jadi sarjana,’’ tandasnya. (*/c10/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bentuk Huruf Lucu, Siswa pun Senang Mempelajari


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler