Teroris di Banten

Pandeglang Hanya Tempat Istirahat, Target Sebenarnya...

Jumat, 24 Maret 2017 – 23:59 WIB
Aparat mengunakan senjata menjaga lokasi kejadian penangkapan terduga teroris dikawasan Pabrik Semen Merah Putih, Kepuh, Ciwandan, Cilegon, Kamis (23/3). Belum diketahui teroris berasal dari jaringan mana, namun Densus 88 mengamankan 3 terduga teroris dan salah satu nya tewas usai baku tambak terlebih dahulu. Ilustrasi by: Doni Kurniawan/Banten Raya

jpnn.com, PANDEGLANG - Dua terduga teroris, yang diamankan kemarin malam oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 di Labuan dan Cisata Kabupaten Pandeglang, Banten merupakan warga pendatang.

Adi Jihadi dan Ahmad Supriyanto disebut-sebut baru tinggal tujuh bulan di Pandegalang dan berasal dari Bogor, Jawa Barat.

BACA JUGA: Teroris Banten Berkolaborasi dengan Kelompok Filipina

Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolres Pandeglang AKBP Ary Satriyan kepada Radar Banten Online hari ini di ruang kerjanya di Mapolres Pandeglang, Jumat (24/3).

Selama tinggal di Pandeglang, menurut Ary, kedua terduga teroris tersebut tidak mempunyai catatan kriminal.

BACA JUGA: Detik-detik Menegangkan, Ketua Tim Densus 88 Itu...

Dari keterangan warga, terduga dan keluarganya cenderung kurang bergaul dengan warga sekitar. “Mereka kurang interaksi dengan warga sekitar. Jadi sulit untuk mengetahui aktifitas keseharianya. Ditambah lagi warga sekitar juga apatis terhadap warga baru,” ujarnya.

Untuk menggali keterangan, tambah Ary, pihanya bersama Densus 88 menggeledah rumah Adi Jihadi di Perumahan Cipunten Agung, Rt 04/006, Desa Teluk, Kecamatan Labuan dan Achmad Supriyanto yang di Desa Pasier Eurih Kecamatan Cisata kemarin.

BACA JUGA: Dorr! Baku Tembak di Banten, Satu Tewas

“Saya tidak terlalu menguasai detail, karena saya hanya menemani Densus 88 saja,” ujarnya.

Yang diketahuinya, lanjut Ary, setelah penggeledahan dan keluarga tersebut dimintai ketarangan di Polsek setempat, mereka tidak terbukti ikut melakukan aksi teroris. Dengan itu, Densus 88 pun ngembalikan keluarga ke rumahnya masing-masing.

Meskipun demikian, tambah Ary, kepolisian Pandeglang terus mengontrol keberadaan keluarga dan lingkungan tersebut agar tetap kondusif.

“Untuk berjaga-jaga agar masyarakat juga tak menghina keluarga yang ditangkap Densus, kami sudah himbau warga sekitar untuk tak menghina atau melakukan tindakan yang gak menyenangkan. Sebab yang teroris kan hanya yang ditangkap sementara keluarganya tidak mengetahui,” ucapnya.

Ary sendiri menilai wilayah Pandeglang masih menjadi wilayah yang aman untuk lokasi para teroris. Hal itu dikarenakan secara geografis Pandeglang sangat strategis untuk persembunyian dan aktifitas para teroris. Banyak wilayah terpencil dan juga masyarakatnya cenderung apatis terhadap warga pendatang.

“Terutama yang sangat potensial ialah wilayah bagian Selatan Pandeglang. Karena di sana banyak perbukitan dan warganya cenderung apatis terhadap pendatang,” ujarnya

Menurut Ary, para teroris menggunakan wilayah Pandeglang sebagai tempat istirahat dan melakukan perencanaan aksi.

“Para teroris itu menempati Pandeglang hanya untuk tempat tinggal sementara. Jadi kalau target operasinya ada di luar Banten seperti di Jakarta, di Bali atau daerah lainya. Saat ini target utama mereka kan kepolisian, karena mereka menganggap Polisi adalah Thogut, seperti terjadi ahir-ahir ini mereka mengebom kantor kepolisian,” ujarnya. (Ade F)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Terduga Teroris Nanang Ternyata Pengajar Teknik Senjata


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler