Panen Cengkih, Perputaran Uang Satu Desa Tembus Rp 2,7 M

Minggu, 22 September 2013 – 16:31 WIB

jpnn.com - MADIUN - Petani cengkih di Desa Mendak, Dagangan, Kabupaten Madiun, tersenyum karena harga cengkih naik secara berlipat. Dalam beberapa hari terakhir, harga satu kilogram cengkih basah mencapai Rp 42 ribu.

Padahal, dalam musim panen sebelumnya, harga cengkih berkisar Rp 25 ribu per kilogram. "Kalau cengkih kering lebih mahal lagi, satu kilogram bisa Rp 130 ribu," kata Sujono, petani cengkih Desa Mendak, kepada Radar Madiun (JPNN Group), Sabtu (21/9).

BACA JUGA: Kambing Doyan Makan Beling

Menurut dia, kualitas cengkih tahun ini juga lebih baik. Satu hektare lahan dapat menghasilkan delapan ton cengkih basah. Meski demikian, petani masih khawatir karena harga cengkih kerap berubah. Sebab, tidak ada standar harga dari pemerintah maupun pabrik.

Selama ini, petani menjual cengkih ke pengepul di Ponorogo. "Kalau sekarang harganya Rp 130 ribu, besok bisa turun sampai Rp 120 ribu. Kami tidak tahu standar harga cengkih. Ini berbeda dengan tembakau yang memiliki pola kemitraan dengan pabrik. Jadi, harganya juga sesuai dengan standar," paparnya.

BACA JUGA: Desak Bupati Pasuruan Mau Buka Isi MoU

Hal senada disampaikan Kepala Desa Mendak Purwadi. Harga cengkih yang tidak stabil itu membingungkan petani di desanya. Di desanya lahan cengkih mencapai 67 hektare. "Kami berharap bisa langsung ditampung pabrik. Selama ini, cengkih dikirim ke pengepul. Akhirnya, harga cenderung tidak stabil," ungkapnya.

Purwadi meminta pemerintah daerah untuk turun tangan dan membantu mengendalikan harga cengkih. Jadi, petani tidak merugi saat harga tiba-tiba anjlok.

BACA JUGA: Aturan Baliho Caleg Dinilai Belum Jelas

Tidak hanya itu, petani di kaki Gunung Wilis membutuhkan bantuan mesin pengering karena sulit menjemur cengkih. "Seharusnya tiga hari sudah kering. Tapi, untuk wilayah pegunungan seperti di tempat ini, kami butuh waktu hingga enam hari," jelasnya.

Purwadi menerangkan, Desa Mendak adalah daerah penghasil cengkih berkualitas baik di Kabupaten Madiun. Dengan lahan 67 hektare, produksi cengkih di kawasan itu mencapai 59 ton.

Dalam sekali panen, perputaran uang petani di desanya mencapai Rp 2,7 miliar. "Tahun lalu, produksi cengkih bisa mencapai 75 ton untuk satu desa, tapi harganya rendah. Itu berbeda dengan tahun ini," ucapnya. (aan/irw/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tiga Santri Tewas Tenggelam


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler