Panik Lihat Gumpalan Asap, Pendaki Tewas Terpeleset di Lereng Bukit

Senin, 07 September 2015 – 07:08 WIB

jpnn.com - MEYLIN Rahmadiyah (14) tewas saat mendaki Bukit Serelo yang berada di Kecamatan Merapi Selatan, Lahat. Pelahar SMP 2 Lahat itu diduga tewas akibat terpeleset di lereng bukit lantaran panik diserang gumpalan api dan asap dari kawasan perbukitan Bumi Seganti Setungguan yang terbakar.

Kejadiannnya bermula saat Meylin bersama 16 temannya pada Sabtu (5/9), berencana mendaki Bukit Telunjuk. Setelah menyusun rencana, mereka sepakat mengisi liburan akhir pekan sembari menaklukkan puncak Bukit Telunjuk pada Minggu (6/9).   

BACA JUGA: Kejam! Istri Durhaka Ini Suruh Selingkuhan Bunuh Sang Suami

Setelah mendapat restu dari ibunya, Dewi, sekitar pukul 06.00 WIB, Meylin dan rombongan bergerak menuju kaki Bukit Serelo. Tiba di titik pendakian, mereka menaklukkan tracking demi tracking menuju puncak Bukit Telunjuk. Kondisi badan yang prima serta semangat untuk segera mencapai puncak bukit, membuat mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai.  

Tanpa melakukan orientasi medan, mereka bergegas menuju puncak. Mendekati puncak, persisnya di Kedaton I (satu), asap pekat yang terbawa angin dari lereng bukit yang terbakar menyerang mereka.

BACA JUGA: Sudah Artis, Model, kok Layani Hidung Belang? Ini Jawaban Anggita Sari

Sempat bertahan, tapi kepekatan asap membuat mata perih, napas sesak dan udara terasa panas. Saat itulah mereka mengetahui kalau kawasan kaki Bukit Telunjuk terbakar.  Kepanikan melanda tim. Tanpa dikomando, mereka berlarian menyelamatkan diri masing-masing.  

Tiba di Kedaton II, mereka baru menyadari jika dua rekannya Deden dan Meylin tertinggal. Beberapa rekan korban, mencoba melakukan pencarian. Menyusuri jalur yang mereka turuni. Awalnya, Deden yang ditemukan. Namun, Meylin belum terlihat.

BACA JUGA: Inilah Fakta Terbaru Hasil Pemeriksaan terhadap Anggita Sari

“Kami tadi panik karena asap tebal sampai mata kami pedih. Kami mencoba untuk kembali turun ke bawah. Namun, Meylin tidak kami lihat,” ujar Deden, menceritakan kejadian.   

Karena tidak berani kembali ke atas, rombongan  hanya menunggu Meylin di antara Kedaton II dan Kedaton I.  Sekian lama menunggu, Meylin tak kunjung datang. Karenanya, Deden dan rekannya meminta bantuan warga sekitar untuk melakukan pencarian.  

Kemudian warga mengontak TNI dan BPBD. Sebagian mengontak keluarga Meylin. Selama empat jam warga bersama TNI dan Tim BPBD melakukan pencarian, akhirnya Meylin ditemukan.

Sayang, saat itu Meylin sudah meninggal. Korban ditemukan dalam posisi tertelungkup, kepala pecah dan hidung mengeluarkan darah. Diduga dia terjatuh dan terbentur batu atau benda keras.

“Tubuh korban pertama kali ditemukan Susian Raman, Kepala dusun desa Ulak Pandan bersama perangkat desa,” ujar  Hadi, warga Lahat yang ikut melakukan pencarian.  

Warga bersama  anggota BPBD dan TNI membawa jenazah Meylin turun dan melarikannya ke RSUD Lahat. Sementara warga yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, tubuh korban ditemukan pada lahan yang terbakar.

“Itu badannya gosong,” ujar warga tadi.

Ibu angkat Maylin, Dewi menangis histeris saat mengetahui putri kesayangannya telah tiada. Dia shock berat. Tak percaya musibah itu, menimpa putrinya.

“Tadi dia pamit hendak ke bukit. Kareno dia kepengin sekali, dan hari itu libur aku izinkan dia ke sana,” ujarnya terisak.

Ternyata, itulah kenangan terahirnya bersama Meylin. Setelah dilakukan autopsi, jenazah korban dibawa ke rumah duka dan dikebumikan di TPU Bengkurat.(irw/ce1/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemarau Terparah Sejak 1975, Perburuk Hasil Panen Gabah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler