Para Guru Bersuara di Konferensi Pendidikan Timur Indonesia, Semoga Didengar Pemerintah 

Minggu, 25 September 2022 – 12:36 WIB
Para guru, orang tua, mahasiswa yang menjadi penggerak pendidikan di Konferensi Pendidikan Timur Indonesia. Foto Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ratusan masyarakat termasuk penggerak pendidikan dari berbagai wilayah Timur Indonesia berkumpul di Jakarta.

Mereka mengikuti Konferensi Pendidikan di Timur Indonesia yang digelar sejak 24-25 September di kantor Kemendikbudristek.

BACA JUGA: 43.804 Guru Lulus PPPK 2021 Belum Diangkat Pemda, Rekrutmen CASN 2022 Bakal Lebih Parah

Pantauan JPNN.com, para peserta konferensi yang hadir didominasi milenial. Mereka diajak untuk mendiskusikan tentang bagaimana pendidikan di timur Indonesia.

Di hari pertama, tercatat delapan penggerak pendidikan di timur Indonesia yang menjadi narasumber.

BACA JUGA: 4 Bulan Gaji Pegawai Balai Guru Penggerak Belum Dibayar, Indra: Masih Percaya Bualan Nadiem?

Menariknya dalam konferensi besutan Indonesia Mengajar ini para peserta dan narasumber berbaur, berdiskusi, dan dansa bersama. 

Tersiana Tade, guru dan orang tua siswa di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) membagikan praktik baiknya kepada para peserta konferensi.

BACA JUGA: Mbak Rerie: Program Pendidikan Guru Penggerak Harus Berkelanjutan dan Terukur

Dia bercerita tentang upayanya membuat media belajar kreatif dan menjadi teman berdiskusi pengajar muda di penempatan.

"Sabu Raijua adalah daerah terluar di NTT, tetapi anak-anak kami ingin mendapatkan pendidikan seperti di wilayah barat Indonesia," kata Mama Ana, sapaan Tersiana Tade.

Namun, harapan itu hanya jadi angan-angan. Kendala infratruktur, tidak ada listrik, internet jaringannya susah.

Mama Ana menceritakan bagaimana anak-anak harus naik di pohon tinggi untuk mendapatkan sinyal. Tidak mau menyerah pada kondisi, Mama Ana pun menggunakan batu dan lidi menjadi media pembelajaran.

"Ternyata belajar tidak harus pakai teknologi tinggi. Media alam malah lebih bisa diterima anak-anak Sabu Raijua," ucapnya.

Maria Regina Jaga, penggerak pendidikan Timor Tengah Selatan (TTS), NTT juga bersuara. Dia bercerita tentang pembelajaran kontekstual dengan memasukkan permainan tradisional dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Kakak Inja, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana orang hanya tahu TTS adalah daerah kering dan miskin, padahal banyak hal baik di wilayah Timor. Sayangnya tidak mendapatkan support banyak dari pemerintah.

"Banyak anak daerah kami yang bermimpi besar, tetapi kami berjuang sendiri," ujar guru bahasa Inggris ini.

Kakak Inja menceritakan bagaimana dia berusaha mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak. Di awal-awal tantangannya sangat berat, bagaimana mengajarkan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saja sulit. 

Dia mengungkapkan masyarakat TTS lebih tertarik bekerja di tambang karena bisa mendapatkan upah harian. Anak-anak wajib sekolah pun disuruh bekerja membantu orangtuanya.

Tercetus ide untuk mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan permainan tradisional engklek.

Dia datang ke lokasi tambang sebelum jam istirahat. Pas jam istirahat diajaklah anak-anak belajar sambil bermain. 

"Batunya saya ganti dengan kartu yang ada tulisan bahasa Inggris dan Indonesia dilengkapi gambar," terangnya.

Setelah tiga bulan pendekatan, Inja mulai mendapatkan hasil positif. Orang tua mendukung anak-anaknya bersekolah, meski tetap bekerja di tambang.

Yang membuat Inja terharu, ketika jam istirahat para orang tua yang mendorong anak-anaknya belajar. Mereka juga bisa menentukan materi apa yang harus diajarkan.

"Orang tua bangga karena anak-anaknya bisa berbahasa Inggris. Anak-anaknya juga ikut mengajari orangtuanya," pungkasnya. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler