Pasar Potensial, Kemenpar Promosi BVK di Selandia Baru

Senin, 21 Maret 2016 – 03:45 WIB
I Gde Pitana. Foto: Indopos/JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Siapa tak kenal, maka tak sayang. Orang tak mungkin membeli produk kita, jika mereka tidak pernah mendengarnya. Promosi menjadi bagian yang amat vital. Itulah yang kini dilakukan Kementerian Pariwisata di Auckland International Cultural Festival 2016, acara tahunan yang sudah eksis sejak 16 tahun yang lalu. 

“Di sana kami tidak hanya promosi budaya dan destinasi baru. Kami juga promosikan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK),” terang I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, Sabtu (20/3).

BACA JUGA: Ribuan Pengunjung Terpesona di Festival Wisata Religi Manaqib 2016

Mengapa tema promosinya bebas BVK? Bukankah negeri Kiwi itu sudah masuk dalam salah satu daftar negara yang Bebas Visa Kunjungan ke Indonesia? Kebijakan  yang memungkinkan wisatawan mancanegara (wisman) asal Selandia Baru lebih mudah berwisata? “Iya, tapi, jumlah kunjungan wismannya masih terlalu kecil,” jelas Pitana.

Saat ini, Selandia Baru masih dianggap sebagai pasar potensial. Belum pasar utama. Target pasar Selandia Baru masih menyatu dengan Australia. Sekedar gambaran, pada 2015, wisman Australia yang berkunjung ke Indonesia mencapai 1.026.239 orang. Mimpi Pitana, setelah promosi gencar soal BVK, pada 2016 Kemenpar bisa

BACA JUGA: Inilah Dugaan Sementara Penyebab Jatuhnya Helikopter TNI AD di Poso

meningkatkan angka kunjungan hingga 1.400.000 orang.

"Selandia Baru adalah negara yang maju dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Jumlah outbond-nya melebihi jumlah penduduk, tetapi yang ke Indonesia baru sekitar 33.000 orang. Jadi kita sedang berusaha menarik mereka untuk berkunjung ke Indonesia," kata Pitana.

BACA JUGA: Pagi Ini, Korban Heli Jatuh Dievakuasi ke Rumah Duka Masing-masing

Saat ini, PP No 21 Tahun 2016 tentang tambahan BVK yang baru sudah diteken Presiden Joko Widodo, untuk 169 negara sejak 2 Maret 2016. Termasuk di dalamnya Selandia Baru. Kebijakan ini telah secara resmi memiliki payung hukum, karena itu tinggal diimplementasi di lapangan. “Dan promosi ke negara-negara BVK itu,” jelasnya.  

Rencana promosi BVK itu langsung direspon Asnawi Bahar, Ketua Umum Asosiasi Biro Pariwisata Indonesia (ASITA). Menurutnya, ini gebrakan cerdas. Action yang diyakini bisa langsung berimbas pada peningkatan sumber devisa negara. “Ini bisa memberi efek positif dalam banyak hal, tenaga kerja, aspek turisme, kebudayaan dan seni, kuliner, perhotelan dan restoran atau akomodasi, transportasi dan lain sebagainya,” terang Asnawi.

Dari pengalaman Asnawi, kebijakan bebas visa akan berdampak positif dalam segi financial. Harga visa bisa menunjang budget yang lain seperti peluang membelanjakan cinderamata, lama menginap pada hotel, makan dan minum serta transportasi. “Sudah merupakan suatu kebiasaan para turis di Australia dan Selandia Baru kalau akan berlibur ke negara lain itu membuat neraca budget. Kalau ada promosi BVK, wisnus Selandia Baru bisa langsung terbang, sudah bisa berwisata di Indonesia. Tidak perlu menunggu jadinya visa, tidak perlu mengurus

Visa on Arrival. Budget pembuatan visa jadi bisa dialihkan ke hal lain,” terang Asnawi.

Menpar Arief Yahya juga membenarkan statemen I Gde Pitana dan Asnawi Bahar itu. Dalam World Economic Forum (WEF) salah satu pilar penting untuk memperbanyak kunjungan adalah International Openess. Menderegulasi wisman untuk masuk ke tanah air.

“Setelah masuk dengan mudah, mereka akan membelanjakan budgetnya dengan mudah, sehingga dalam ekonominya bisa lebih kuat,” jelas Arief Yahya.

Arief Yahya memproyeksikan Australia bakal naik lebih signifikan ketika deregulasi di bidang Visa, diberi kemudahan. Mereka tidak terlalu pusing untuk mengurus Visa, sekalipun itu jenias Visa on Arrival. “Kebijakan ini yang harus disosialisasikan lebih banyak di Australia, pasar terbesar bagi destinasi Bali,” kata Arief.(ray/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Haru Anggota Kopassus yang Sempat Kirim Salam Sebelum Musibah Heli Jatuh


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler